Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menilai capaian pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen menjadi bukti Indonesia kuat dan pemerintah sudah benar.
“Di tengah tekanan global seperti sekarang, angka 5,61 persen ini menunjukkan ekonomi kita cukup tangguh. Artinya, kebijakan pemerintah berjalan di jalur yang tepat,” ujar Misbakhun dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Menurut politikus Partai Golkar ini, angka tersebut menjadi salah satu pertumbuhan kuartalan tertinggi pascapandemi, sekaligus menunjukkan bauran kebijakan pemerintah cukup efektif dalam meredam dampak eksternal.
Terlebih, capaian ini juga lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu, dan berada di atas kisaran asumsi pertumbuhan dalam APBN.
Misbakhun menilai, konsumsi rumah tangga tetap menjadi motor utama pertumbuhan, terutama didorong momentum Ramadan dan Idulfitri, diikuti pemulihan sektor perdagangan, industri pengolahan, pertambangan dan transportasi.
Lalu, kontribusi sektor energi juga masih terasa, meski tekanan harga global perlu dikelola hati-hati.
“Momentum harga energi memberi dorongan, tapi juga membawa risiko ke inflasi dan fiskal. Di sini peran kebijakan harus presisi,” ucapnya.
Misbakhun menegaskan, capaian ini merupakan hasil konsistensi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan dalam meredam dampak konflik global, termasuk krisis energi akibat situasi di Timur Tengah.
Namun demikian, dia mengingatkan risiko eksternal masih tinggi.
Misbakhun mencontohkan, tekanan terhadap rupiah yang melemah sekitar 3,88 persen dan penurunan cadangan devisa hingga USD 8,4 miliar menunjukkan kuatnya dampak global terhadap ekonomi domestik.
“Ini yang harus diantisipasi. Tekanan ke rupiah dan cadangan devisa menunjukkan kita masih sangat dipengaruhi kondisi global,” jelas Misbakhun.
Pentingnya jaga daya beli masyarakat
Misbakhun juga menekankan pentingnya menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi energi dan pangan, sekaligus memastikan pertumbuhan tetap inklusif.
Oleh karena itu, pemerintah perlu mendorong investasi dan ekspor agar struktur pertumbuhan tidak hanya bertumpu pada konsumsi domestik.
Sementara itu, di sisi fiskal, Misbakhun menegaskan APBN harus tetap menjadi shock absorber yang kredibel dan tepat sasaran di tengah dinamika global.
“APBN harus kuat dan fleksibel, tapi penggunaannya harus disiplin agar kredibilitas fiskal tetap terjaga,” imbuhnya.
Kata Menko Perekonomian soal pertumbuhan ekonomi
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan kinerja ekonomi Indonesia pada awal 2026 melampaui ekspektasi, bahkan lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara anggota G20.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), di tengah kondisi global yang masih mencari keseimbangan baru.
“Ekonomi Indonesia tumbuh baik di luar ekspektasi dari berbagai lembaga, di mana di kuartal pertama pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,61 persen,” ujar Airlangga dalam Konpers Pertumbuhan PDB Kuartal-1 2026 di Kemenko Perekonomian pada Selasa (5/5/2026).
“Pertumbuhan kita 5,61 persen ini tumbuh di atas beberapa negara G20. Termasuk China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Amerika Serikat,” tambah dia.(Sumber)





