Politiknesia.com

Wisnu Aji Nugroho: Swasembada dan Surplus 2026 Rentan Beras Rusak, Butuh Tata Kelola dan Modernisasi Gudang

Selama satu dekade terakhir Indonesia belum sepenuhnya lepas dari kebiasaan impor pangan. Meski produksi domestik berfluktuasi, impor beras 2014–2024 rata‑rata masih mencapai 1–2 juta ton per tahun, akibat kendala produksi dan cadangan tidak optimal. Ketergantungan ini mengingatkan bahwa kemandirian pangan membutuhkan lompatan besar dalam tata kelola komoditas strategis.

Inspeksi Komisi IV DPR RI ke gudang Bulog Ternate (September 2025) yang menemukan ribuan ton beras tak layak—abu‑abu, berbau apek, tersimpan berbulan‑bulan—menegaskan bahwa persoalan kualitas sama gentingnya dengan kuantitas. Reshuffle kabinet pada Oktober 2025 yang menyatukan Bapanas dan Kementerian Pertanian segera membuahkan hasil: 2025 menjadi tahun swasembada dengan produksi rekor 33,19 juta ton dan stok Bulog 4,2 juta ton tanpa impor.

Surplus awal 2026 membuka peluang ekspor, tetapi juga menimbulkan risiko baru bila tata kelola gudang tidak cepat diperbaiki. Wisnu Aji Nugroho, Dewan Pengawas dan Pengajar tata kelola, audit, dan mitigasi risiko dari Ikatan Komite Audit Indonesia, memperingatkan bahwa kelalaian gudang dapat mengubah keberhasilan produksi menjadi kerugian besar: potensi kerusakan stok hingga Rp 3,75 triliun, reputasi ekspor yang runtuh, dan biaya pemeliharaan yang membengkak. “Cek kesiapan gudang di pusat dan daerah harus dilakukan segera,” tegasnya.

Untuk mencegah skenario buruk, Wisnu yang pernah menjadi Tenaga Ahli P3K setara Eselon II di Tim Pengawasan Implementasi Program Prioritas Nasional Kementerian Dalam Negeri, merekomendasikan modernisasi infrastruktur: silo baja flat‑bottom di pelabuhan strategis seperti Patimban dan Kendal untuk sirkulasi udara vertikal dan pendinginan terintegrasi; automated loading yang memangkas waktu bongkar muat hingga 70%; serta renovasi gudang kabupaten/kota yang mengintegrasikan processing center (pengeringan dan penggilingan) agar padi segera diproses menjadi beras berkualitas ekspor. Struktur panel‑straight‑wall yang kedap udara disarankan untuk menghalau hama dan kelembapan.

Dari sisi teknologi pengendalian hama pascapanen, peneliti ahli rantai pasok dari BRIN menawarkan solusi iradiasi electron beam (dosis 1–3 kGy) untuk memutus siklus telur kutu beras tanpa residu kimia dan tanpa merusak mutu gizi. Romeyn Perdana Putra (BRIN) menekankan bahwa keberhasilan iradiasi bergantung pada tata kelola gudang yang baik, kemasan kedap udara, dan pengendalian akses—teknologi ini harus menjadi bagian dari sistem terintegrasi.

Menguatkan aspek kesehatan masyarakat dan pengawasan lapangan, Marshafwah Wafi, Mahasiswa Berprestasi 2026 Fakultas Kedokteran Universitas Pendidikan Indonesia menyerukan keterlibatan aktif fakultas kedokteran di seluruh negeri.

“Lebih dari 80 fakultas kedokteran di Indonesia dapat menjadi jaringan pengawas mutu lokal: melakukan uji mikrobiologi sederhana, mendeteksi tanda‑tanda pembusukan, dan mengaitkan temuan dengan risiko kesehatan masyarakat,” ujarnya. Peran ini, menurut Marshafwah, akan menambahkan dimensi kesehatan publik yang konkret pada pengelolaan stok pangan.

Sebagai Sekretaris Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Komisariat Universitas Pendidikan Indonesia, Marshafwah menegaskan pula kebutuhan partisipasi organisasi mahasiswa dalam Pokja tata kelola gudang. “Organisasi mahasiswa punya kapasitas gerak cepat di lapangan dan jaringan relawan yang bisa membantu inspeksi mendadak serta sosialisasi pencegahan pembusukan kepada petani dan pengelola gudang,” katanya. Kolaborasi akademik‑sipil ini memperkuat transparansi dan akuntabilitas pengawasan stok.

Praktik terbaik yang direkomendasikan meliputi: modernisasi gudang di pelabuhan dan daerah, penerapan iradiasi terukur, sistem pelaporan digital dan inspeksi mendadak, serta pelibatan komunitas akademik untuk monitoring mutu secara periodik. Dengan lebih dari 80 fakultas kedokteran sebagai mitra potensial dan jaringan mahasiswa yang tersebar, pendekatan ini menyediakan kapasitas pengawasan cepat dan data kesehatan yang dapat mengantisipasi ancaman food safety.

Momentum surplus 2026 harus dipakai untuk mengamankan stok agar layak konsumsi, bernilai ekonomi, dan menjaga reputasi ekspor Indonesia. Tanpa disiplin tata kelola, swasembada justru bisa menjadi bencana stok busuk. Kolaborasi teknis, pengawasan digital, dan partisipasi aktif masyarakat sipil, termasuk mahasiswa kedokteran dan organisasi mahasiswa, mampu menjadikan surplus sebagai keuntungan berkelanjutan bagi ketahanan pangan dan kesehatan publik.