Anak-anak kini menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari bersama ponsel. Kondisi ini membuat peran orang tua, khususnya ayah, dinilai semakin penting agar anak tidak tumbuh lebih dekat dengan gawai dibandingkan keluarganya sendiri.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) sekaligus Kepala BKKBN, Wihaji, mengingatkan agar anak tidak sampai diasuh dan dikendalikan oleh ponsel.
Pesan tersebut disampaikan Wihaji saat menggaungkan Gerakan Ayah Ambil Rapor (Gemar) di MAN 1 Yogyakarta pada Kamis (25/6/2026), sebagaimana diberitakan Antara.
Menurut dia, program tersebut hadir sebagai respons terhadap masih tingginya angka anak yang kehilangan peran ayah atau fatherless di Indonesia.
Mengapa gerakan ayah ambil rapor didorong?
Wihaji menjelaskan, Gerakan Ayah Ambil Rapor bertujuan mendorong keterlibatan ayah dalam kehidupan anak, tidak hanya sebagai pencari nafkah tetapi juga sebagai sosok yang hadir dalam keseharian mereka.
“Kita ada Program Gemar, mengapa program ini ada? Karena berdasarkan data, rata-rata anak kita (25 persen) itu fatherless (kehilangan peran ayah) dan memiliki masalah mental, tetapi rata-rata mereka bisa memegang handphone setiap hari 8,7 sampai 10 jam,” kata Wihaji.
Ia menilai fenomena tersebut perlu menjadi perhatian serius karena banyak anak yang lebih banyak berinteraksi dengan layar ponsel dibandingkan dengan orang tuanya.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), anak-anak kini semakin mudah mencari jawaban atau hiburan melalui perangkat digital. Namun, menurut Wihaji, kondisi itu tidak boleh menggantikan peran keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
Ketika handphone menjadi “orang tua”
Ilustrasi anak bermain gawai. Wihaji mengingatkan pentingnya kehadiran ayah dalam kehidupan anak di tengah tingginya penggunaan ponsel yang kini mencapai hampir 10 jam per hari.
Wihaji mengungkapkan bahwa penggunaan ponsel saat ini telah menjadi bagian dari hampir seluruh aktivitas anak sehari-hari.
Mulai dari bangun tidur, sebelum tidur, sebelum maupun sesudah beribadah, hingga saat mengerjakan tugas rumah, banyak aktivitas yang tidak lepas dari ponsel.
Bahkan, kata dia, anak-anak kini terbiasa bertanya kepada kecerdasan buatan atau AI untuk berbagai hal.
“Hari ini algoritma otak kita hampir 60-70 persen dipengaruhi oleh teknologi. Algoritmanya yang ada dalam otak kita, kalau enggak hati-hati, orang tua mereka sekarang bukan kita, tetapi handphone,” ujar Wihaji.
Menurut dia, teknologi memang memberikan banyak kemudahan. Namun, orang tua tetap memiliki peran yang tidak bisa digantikan oleh mesin maupun algoritma.
Luangkan waktu untuk mengobrol dengan anak
Dalam kegiatan tersebut, Wihaji juga berbagi pengalaman pribadinya sebagai orang tua.
Ia mengaku hingga kini masih berusaha mengantar anaknya ke sekolah sendiri agar memiliki waktu untuk berbincang bersama selama perjalanan.
“Ini yang penting bagaimana orang tua hadir. Satu sampai dua jam saja, sempatkan. Saya sampai sekarang masih mengantarkan anak ke sekolah, nyetir sendiri karena minimal setengah jam sampai satu jam bisa ngobrol, kalau nyetir pasti enggak memegang handphone,” katanya.
Menurut dia, waktu yang terlihat sederhana itu bisa menjadi kesempatan berharga untuk membangun kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Ayah tidak cukup hadir secara ekonomi
Wihaji menegaskan bahwa kehadiran ayah tidak cukup hanya dalam bentuk dukungan finansial. Anak juga membutuhkan dukungan psikologis, perhatian, dan ruang untuk bercerita.
Ia mengingatkan bahwa saat ini banyak anak yang lebih memilih mencurahkan perasaannya kepada teknologi dibandingkan kepada orang tua.
“Kalau dulu curhat sama orang tua, sekarang curhatnya ke AI. Tanya apa saja, belajar berjudi ada di situ, dan dijawab padahal AI enggak punya rasa. Algoritma otak perilakunya seperti robot. Sejelek-jeleknya makan, bareng, ngobrol, jangan main HP sendiri-sendiri,” tutur Wihaji.
Melalui Gerakan Ayah Ambil Rapor, Kemendukbangga dan BKKBN berharap semakin banyak ayah yang terlibat dalam kehidupan anak, sehingga hubungan keluarga tetap terjaga di tengah semakin besarnya pengaruh teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari.(Sumber)





