Politiknesia.com
Tokoh  

Singgih Januratmoko : Berkurban Merupakan Wujud Kesalehan Individu dan Kesalehan Sosial

Anggota DPR RI Komisi VI dari Fraksi Golkar, Dapil Jateng V, Singgih Januratmoko

Surakarta – Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) merugikan para peternak. Namun Idul Adha bisa menjadi penyelamat. Umat Islam yang membutuhkan ratusan ribu sapi, kerbau, dan kambing terbukti menyelamatkan peternak sekaligus membantu masyarakat yang ekonominya melemah.

“Ada multiplier effects dengan adanya kurban. Untuk itu umat Islam tahun ini dan tahun-tahun mendatang harus bergiat dalam kurban,” ujar Anggota Komisi VI DPR RI Singgih Januratmoko saat ditemui di Surakarta pada Senin (11/7). Meskipun ada wabah PMK, menurut Singgih warga yang berkurban bisa mengikuti fatwa yang dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia. Misalnya, selagi gejala PMK belum parah, hewan ternak masih bisa dikurbankan.

Singgih mengatakan, menjelang kurban pihaknya telah membagikan hewan kurban kepada DPD Golkar di Kabupaten Sukoharjo, Klaten, Surakarta, dan Boyolali. Selain itu, kurban juga ia salurkan melalui organisasi kemasyarakatan (Ormas), “Idul Adha merupakan bagian silaturahim dan mendekatkan wakil rakyat dengan konstituennya,” ujar Singgih.

“Idul Adha merupakan bagian silaturahim dan mendekatkan wakil rakyat dengan konstituennya,” ujar Singgih.

Menurutnya, Hari Raya Kurban merupakan wujud kesalehan individu dan kesalehan sosial. Bagi individu, kurban merupakan wujud takwa hamba kepada Allah, “Ini meniru keikhalasan dan ketakwaan Nabi Ibrahim, yang dikuatkan Nabi Muhammad dengan berkurban saat Idul Adha,” ujar Singgih.

Menurutnya, Nabi Muhammad sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari, bersabda amalan yang paling disenang Allah pada 10 Dzulhijah adalah berkurban, “Kurban juga berefek sosial, karena dagingnya kemudian dibagi, sehingga kebahagiaan dapat dirasakan masyarakat baik yang kaya maupun yang tidak mampu,” imbuhnya.

 

Singgih Januratmoko sedang bersilaturahmi dengan konstituennya

Ia mengatakan, kebahagiaan bagi yang kaya adalah pahala dan kesenangan berbagi, “Sementara masyarakat yang sedang dicoba ekonomi karena efek pandemi Covid-19 dan inflasi, bisa berhemat karena melimpahnya lauk pauk,” ujarnya.

Dengan berkurban, menjadi momentum kesalehan sosial, “Bangsa Indonesia terkenal dengan jati dirinya berupa gotong-royong. Kini memudar karena paham individualisme, dengan adanya berkurban jati diri bangsa yang baik itu bisa muncuk kembali,” ujar Singgih optimistik.

“Bangsa Indonesia terkenal dengan jati dirinya berupa gotong-royong. Kini memudar karena paham individualisme, dengan adanya berkurban jati diri bangsa yang baik itu bisa muncuk kembali,” ujar Singgih optimistik.

Bahkan, menurutnya perputaran uang dalam kurban bisa ratusan miliar hingga triliun, “Dan itu langsung dirasakan peternak, yang menggemukkan hewan peliharaannya,” katanya. Dengan masa panen raya pada saat Idul Adha, kesejahteraan mereka meningkat dan ini meningkatkan daya beli peternak dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk itu ia mengimbau, agar masyarakat juga terus melaksanakan kurban, “Kurban bukan monopoli mereka yang kaya atau mampu, masyarakat umum bisa menabung untuk berkurban dengan cara menabung dan patungan,” imbuhnya.

Menurutnya Idul Adha menjadikan kesadaran berbagi berkembang, bukan hanya menunggu sedekah. Menital seperti inilah yang bisa dikapitalisasi untuk membangun Indonesia pada masa depan, “Maka jangan kendor berkurban, meskipun ada PMK,” pungkasnya.

Leave a Reply