Ada cerita menarik dari medan pertempuran Juni lalu yang memicu ‘Perang 12 Hari’ antara Israel dan Iran. Rupanya, jet tempur andalan Israel, F-15, nyaris saja jadi pecundang! Alih-alih menggempur Iran dengan perkasa, pesawat itu justru tak berkutik di tengah misi.
Media Israel, Channel 12, Sabtu (12/7/2026) lalu membocorkan kisah memalukan ini. Pesawat buatan AS tersebut –yang seharusnya jadi ujung tombak serangan– ternyata mengalami kerusakan tangki bahan bakar. Akibatnya fatal: pilot terpaksa berpikir keras untuk melakukan pendaratan darurat. Bayangkan, misi penting berubah jadi drama penyelamatan diri.
Pilot F-15 itu pertama kali menyadari ada masalah ketika sudah terbang jauh di dalam perbatasan Iran. Jantung pasti berdebar kencang. Ia lalu segera memberi tahu personel lain agar kejadian itu bisa segera ditangani. Situasi genting. Di wilayah musuh, dengan pesawat yang ngadat.
Misi Gagal, Nyawa Terancam
Masalahnya, tak ada pesawat pengisian bahan bakar udara yang ikut mendampingi jet tempur tersebut. Ini fatal! Dalam misi jarak jauh, apalagi ke wilayah musuh, pendampingan pesawat tanker adalah prosedur standar. Karena ketiadaan itu, sebuah rencana darurat pun disusun: satu pesawat dikirim untuk mengatasi masalah tangki bahan bakar F-15 yang rusak.
Pada saat yang sama, rencana kedua juga disiapkan. Ini adalah rencana antisipasi jika pesawat pengisi bahan bakar gagal mencapai jet tempur secara tepat waktu. Kondisi itu berarti F-15 dalam bahaya serius, kehabisan bahan bakar di wilayah musuh. Demikian dikutip dari Times of Israel, Senin (14/7/2025).
Jika skenario terburuk itu terjadi, jet tempur akan dipaksa melintasi perbatasan dan melakukan pendaratan darurat di negara tetangga Iran. Langkah ini diambil demi menghindari risiko yang jauh lebih besar: mendarat di wilayah Iran, yang tentu saja bisa berarti pilot ditangkap dan pesawat disita.
Meski demikian, laporan tersebut tak mengidentifikasi negara mana yang dipilih Israel untuk pendaratan darurat yang berpotensi jadi aib itu.
Beruntung, dewi fortuna masih berpihak. Pesawat pengisi bahan bakar akhirnya tiba tepat waktu. Dengan sigap, masalah tangki bahan bakar berhasil diatasi. Misi tidak jadi terbengkalai dan pesawat tidak perlu mendarat di negara lain. Pilot dan pesawat selamat, meski dengan catatan insiden yang bikin malu.
Israel memang melancarkan serangan dadakan ke Iran pada 13 Juni. Serangan itu konon merupakan upaya Tel Aviv untuk melucuti senjata nuklir dan rudal balistik Iran. Israel dan negara-negara Barat memang selalu menuding program nuklir Teheran bertujuan untuk mengembangkan senjata.
Namun, Iran, berkali-kali pula, dengan tegas menyatakan program nuklir mereka sepenuhnya untuk tujuan damai, seperti pembangkit listrik atau medis.
Tak tinggal diam, Iran membalas serangan Israel dengan mengirim ratusan rudal. Pertempuran sengit ini berlangsung nyaris dua pekan, dikenal sebagai ‘Perang 12 Hari’, yang kembali memanaskan Timur Tengah.
Insiden F-15 yang melempem ini menambah daftar panjang drama di balik layar konflik yang tak berkesudahan itu.
Apakah insiden ini akan memengaruhi kepercayaan Israel terhadap armada F-15 mereka? Atau justru akan mendorong mereka untuk lebih memperketat prosedur operasional dan persiapan misi? Yang jelas, cerita ini menjadi pengingat, bahkan teknologi militer tercanggih pun bisa ‘ngadat’ di saat-saat paling krusial.(Sumber)





