Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan Bali akan mempunyai tiga kawasan International Financial Center (IFC). Saat ini, pemerintah menyusun payung hukum dan infrastrukturnya.
“Financial center kita sedang siapkan legal dokumennya. Jadi, ekosistem infrastrukturnya sedang kita siapkan. Kita siapkan di Bali. Sementara di Bali bisa 2 atau 3 titik,” ujar Airlangga di kantornya, Jakarta Pusat, dikutip Kamis (25/6/2026).
Salah satu bentuk insentif yang ditawarkan di IFC, yakni opsi insentif pajak 0%. Saat ditanya mengenai soal anggapan financial center sebagai surga pajak, Airlangga tidak menampik langsung karena praktik serupa juga terjadi di sejumlah negara lain, seperti Dubai dan Singapura.
“Surga pajak kan ada di mana aja sekarang. Ya kan di Dubai juga ada surga pajak. Di Singapura juga ada surga pajak,” imbuh Airlangga.
Airlangga memastikan pembentukan IFC bertujuan untuk menarik investasi, termasuk investasi asing. Selama ini, Indonesia menerima investasi langsung sebesar Rp 2.200 triliun. Apabila dibandingkan dengan Singapura yang mempunyai pusat keuangan serupa, Airlangga menyebut bisa menarik investasi Rp 5.000 triliun.
“Ya Rp 5.000 triliun itu, jadi dana masuk ke Singapura dulu baru disebar. Nah, sedangkan potensi investasi di Indonesia kan besar. Dubai financial center juga yang kami bicara, mereka itu sekitar US$ 800 billion. Jadi, kita harus menarik global picture-nya. Di dunia kan terbatas financial center, hanya Singapura, Dubai, Hong Kong, kemudian bagian di Amerika,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah siap memberikan sejumlah insentif dengan standar global demi menarik aliran dana asing masuk ke Indonesia, salah satunya insentif pajak hingga 0% di IFC. Menurutnya, meskipun tidak ada penerimaan langsung dari pajak, kebijakan tersebut tetap menguntungkan karena dapat memperkuat cadangan devisa serta memperluas sumber pembiayaan pembangunan.
“Kalau dia minta, saya kasih 0%. Kenapa saya kasih? Tadinya kan tidak ada juga. Dengan itu ya nol tidak apa-apa, tapi uang masuk ke situ. Itu harusnya bisa dikaitkan dengan cadangan devisa kita juga, menguat. Lalu sumber pendanaan untuk pembangunan juga menguat, karena mereka bisa membeli obligasi pemerintah. Kalau dia minta bunga rendah, fasilitas saya kasih,” kata Purbaya dalam diskusi media di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin (4/5/2026).(Sumber)





