MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan respons positif atas laporan terbaru J.P. Morgan Asset Management bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026. Dalam laporan yang dirilis 21 Maret 2026 tersebut, Indonesia dinobatkan sebagai negara peringkat kedua dunia dengan ketahanan terbaik terhadap guncangan energi global.Analisis ekonomi
Temukan lebih banyak
Pencapaian ini dinilai sebagai afirmasi atas konsistensi kebijakan energi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga komoditas dunia. Airlangga menegaskan bahwa pengakuan internasional ini merupakan hasil kerja kolektif lintas kementerian dan lembaga.
“Hasil ini bukan sekadar apresiasi atas kondisi saat ini, melainkan validasi atas pilihan kebijakan jangka panjang pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber energi domestik dan akselerasi transisi energi,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya, Jumat (24/4/2026).
Dampak Positif terhadap APBN 2026
Menurut Airlangga, posisi kuat Indonesia dalam ketahanan energi memberikan dampak langsung pada stabilitas ekonomi makro. Hal ini memberikan ruang fiskal yang lebih terkendali bagi mata uang rupiah dalam postur APBN 2026, sekaligus melindungi daya beli masyarakat dari lonjakan harga energi dunia.
Meski berada di posisi unggul, pemerintah menyatakan tidak akan lengah. Beberapa arah kebijakan strategis terus diperkuat, di antaranya:
Optimalisasi produksi migas domestik untuk menekan defisit neraca migas.
Percepatan transisi energi melalui pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT).
Perluasan adopsi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) untuk mengurangi ketergantungan pada minyak.
Diversifikasi sumber pasokan dan jalur logistik energi guna memitigasi risiko geopolitik.
Analisis Indikator Ketahanan Energi
Laporan JP Morgan tersebut menganalisis 52 negara yang mewakili 82% konsumsi energi dunia dengan indikator total insulation factor. Indonesia mencatatkan skor 77%, hanya terpaut tipis di bawah Afrika Selatan (79%), tetapi berada di atas Tiongkok (76%) dan Amerika Serikat (70%).
Komposisi Penopang Energi Nasional Indonesia:
Produksi Batu Bara Domestik 48%
Gas Bumi Domestik 22%
Energi Terbarukan 7%
Selain kekuatan sumber daya domestik, Indonesia dinilai memiliki eksposur risiko yang sangat rendah terhadap gangguan jalur distribusi global. Impor migas melalui Selat Hormuz hanya menyumbang sekitar 1% dari total konsumsi energi primer nasional. Angka ini jauh lebih aman dibandingkan negara Asia Timur lain seperti Korea Selatan (33%) atau Singapura (26%) yang sangat rentan terhadap guncangan distribusi global. (Sumber)





