Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) melaporkan, situasi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk. Menurut data terbaru, sekitar 1,9 juta warga Palestina terpaksa mengungsi di wilayah tersebut akibat intensifnya serangan militer Israel.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis, UNRWA kembali menegaskan seruannya untuk segera mengakhiri konflik. “Selama dua tahun yang terlalu lama, UNRWA telah menyerukan gencatan senjata di Gaza. Skala penderitaan dan kehancuran tidak terbayangkan,” demikian pernyataan badan PBB tersebut seperti dikutip dari Gulf Times, Senin (22/9/2025).
Badan ini juga menyoroti kondisi yang sangat padat di area pengungsian, tempat ribuan tenda didirikan. Kondisi ini diperparah dengan biaya perpindahan yang sangat mahal.
Pada Jumat (19/9/2025), UNRWA mencatat bahwa biaya untuk satu keluarga yang pindah dari Kota Gaza di utara ke bagian selatan bisa mencapai US$3.180. Angka ini tentu sangat memberatkan, terutama bagi warga yang telah kehilangan segalanya.
Krisis Kemanusiaan dan Korban Jiwa Terus Meningkat
Krisis kemanusiaan yang terjadi di Jalur Gaza semakin mengkhawatirkan. Laporan dari sumber-sumber medis di Gaza pada Minggu (21/9/2025) mencatat adanya korban jiwa akibat kelaparan dan malnutrisi. Dalam 24 jam terakhir, lima kematian tercatat, menambah daftar panjang korban yang tewas karena kekurangan gizi.
Total korban meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi kini telah mencapai 447 orang, di mana 147 di antaranya adalah anak-anak. Angka ini mencerminkan betapa parahnya krisis pangan di wilayah yang dikepung tersebut.
Di samping itu, operasi militer Israel yang semakin gencar di Kota Gaza terus memakan korban. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan, dalam 24 jam terakhir, rumah sakit menerima jenazah 75 korban tewas. Empat di antaranya dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan. Sebanyak 304 orang lainnya mengalami luka-luka.
Sejak agresi Israel dimulai pada 7 Oktober 2023, jumlah korban tewas di Jalur Gaza telah menembus angka 65.283 orang. Data ini menjadi bukti nyata dampak dari konflik yang tak berkesudahan, di mana masyarakat sipil, termasuk anak-anak, menjadi korban utama.
Situasi ini mendorong desakan internasional, termasuk dari UNRWA, agar gencatan senjata segera diberlakukan untuk menghentikan penderitaan kemanusiaan yang tak terperikan.(Sumber)





