Politiknesia.com

IKA NHI Apresiasi Rekomendasi Quickwin GIPI Hadapi Ketidakpastian Pariwisata Dampak Geopolitik Global

Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menyoroti dampak serius konflik geopolitik AS-Israel Vs Iran terhadap sektor pariwisata nasional. Dalam paparan bertajuk “Tourism Under Fire”, GIPI mengungkapkan bahwa konflik tersebut menyebabkan tingginya harga energi dan avtur, peningkatan biaya penerbangan, hingga pembatalan perjalanan wisatawan mancanegara. Tiga maskapai utama (Emirates, Qatar Airways, Etihad) yang terdampak langsung harus kehilangan potensi 2.736 wisatawan mancanegara per hari tujuan Jakarta dan Bali.

Menghadapi situasi ini, GIPI merekomendasikan pemerintah untuk meningkatkan anggaran promosi pariwisata bagi pasar ASEAN, Asia, dan Oseania; memberikan insentif bagi wisman dan wisnus; merealokasi PNBP dan pajak untuk pengembangan pariwisata; mengevaluasi regulasi berbiaya mahal seperti kewajiban sertifikasi berganda (Laik Fungsi, PROPER, Halal, Laik Sehat); serta menyinkronkan kebijakan pusat dan daerah guna menciptakan daya saing usaha yang berkeadilan. GIPI juga mendesak evaluasi kebijakan avtur (Kepmen ESDM No.17 K/10/MEM/2019), pembebasan bea masuk suku cadang pesawat, penghapusan PPN 11% tiket domestik, serta penurunan PSC dan pajak penerbangan untuk menekan harga tiket.

Ikatan Alumni NHI (IKA NHI) memberikan apresiasi tinggi rekomendasi quickwin GIPI yang konstruktif di tengah ketidakpastian sektor pariwisata akibat eskalasi konflik global.

Alumni NHI yang kini menjadi peneliti di BRIN, Romeyn Perdana Putra menyampaikan hal-hal yg disampaikan GIPI di awal acara menjadi pemantik diskusi yg menarik dari narsum Narsum yg lain dengan latar belakang regulator, sehingga diskusi menjadi hidup tapi positif karena sama sama mencari solusi

Wakil Ketua 3 IKA NHI, Hendri Latief, yang juga menjabat sebagai Kepala Divisi Pemerintah Daerah dan Instansi IKA NHI, menegaskan bahwa masukan-masukan GIPI merupakan gambaran riil kondisi industri saat ini. “IKA NHI akan segera bekerja sama dengan provinsi, 8 kota, dan 8 kabupaten untuk menjalankan program percepatan perbaikan ekosistem pariwisata, khususnya dalam mendukung program prioritas Presiden,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua 3 IKA NHI, Wisnu Aji Nugroho, yang juga Dewan Pengawas dan Pengajar di Ikatan Komite Audit Indonesia (IKAI), mengapresiasi seluruh narasumber di Zoominar “Tourism Under Fire”. Wisnu secara khusus memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada tokoh-tokoh besar yang berkenan hadir dan berbagi gagasan, yaitu Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Ansar Ahmad, Gubernur Kepulauan Riau.

“Kami juga mengapresiasi seluruh narasumber dari industri dan akademisi yang dengan sukarela meluangkan waktunya untuk berbagi gagasan dan mendengar langsung masukan dari pemangku kepentingan,” tambah Wisnu.

Acara nasional yang disaksikan hampir 500 audiens di tengah kesibukan mudik Lebaran ini merupakan Zoominar pertama yang diselenggarakan IKA NHI di bawah kepengurusan baru yang dipimpin Tantowi Yahya

Ketua Umum IKA NHI, Tantowi Yahya, menegaskan bahwa pariwisata tetap menjadi penggerak ekonomi nasional dengan kontribusi signifikan. “Saat ini sektor ini menciptakan hampir 25 juta lapangan kerja dan devisa sekitar USD16,7 miliar. Tahun lalu lebih dari 13 juta wisatawan mancanegara datang ke Indonesia. Namun angka ini belum maksimal jika dibandingkan dengan negara ASEAN lain yang jauh meninggalkan kita,” jelasnya.

Menurut Tantowi, pembangunan destinasi, kesiapan SDM, peningkatan standar keamanan, dan promosi adalah empat pilar penyangga pariwisata yang sukses. Dalam rangka peningkatan promosi, IKA NHI mengusulkan agar sudah saatnya Indonesia memiliki representasi pemasaran dan promosi di luar negeri melalui kolaborasi antarkementerian.

“Kementerian Luar Negeri dapat menugaskan diplomatnya sebagai koordinator fungsi pariwisata di perwakilan negara potensial. Kementerian Pariwisata juga bisa berkolaborasi dengan Kementerian Perdagangan dan Kementerian Investasi untuk menempatkan perwakilan di ITPC (Investment & Trade Promotion Centre). Promosi perdagangan, investasi, dan pariwisata bisa sejalan dan harmonis. Kami yakin dengan adanya sosok yang fokus memasarkan pariwisata di luar negeri, peningkatan jumlah turis akan signifikan,” pungkasnya.