Politiknesia.com

Perdagangan RI-Rusia Melonjak 21,7 Persen, Wamendag Dyah Roro Esti Dorong Investasi Lebih Agresif

Indonesia dan Rusia tengah memperluas kerja sama perdagangan dan investasi di tengah tren peningkatan hubungan bilateral kedua negara.

Pemerintah membuka peluang lebih luas bagi investor Rusia untuk masuk ke sektor strategis nasional, mulai dari hilirisasi mineral, petrokimia, hingga infrastruktur energi.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag), Dyah Roro Esti, dalam pertemuan bilateral dengan Deputi Menteri Pembangunan Ekonomi Federasi Rusia Vladimir Ilyichev.

“Indonesia membuka peluang yang lebih luas bagi investor Rusia untuk berpartisipasi dalam sektor petrokimia, infrastruktur energi, dan hilirisasi mineral sebagai bagian dari transformasi industri nasional,” ujar Roro lewat keterangan pers, Kamis (14/5/2026).

Wamendag menyebut Indonesia berkomitmen memperluas kerja sama strategis dengan Rusia, khususnya dalam sektor perdagangan, investasi, dan hilirisasi industri.

Kemitraan kedua negara terus menunjukkan tren positif di sektor perdagangan.

Pada 2025, nilai perdagangan mencapai 4,8 miliar dollar AS, meningkat 21,7 persen dibanding tahun sebelumnya.

Rusia juga menjadi mitra utama Indonesia di kawasan Eurasian Economic Union (EAEU), dengan kontribusi sebesar 90,6 persen terhadap total perdagangan Indonesia dengan kawasan tersebut.

“Kami ingin memastikan momentum ini dapat terus diperkuat melalui peningkatan perdagangan yang saling menguntungkan dan kerja sama investasi yang lebih luas,” paparnya.

Wamendag mencatat, Indonesia dan Rusia memiliki hubungan dagang yang saling melengkapi.

Rusia menjadi pemasok komoditas strategis bagi Indonesia seperti batu bara, pupuk, dan produk baja.

Sementara Indonesia mengekspor berbagai produk unggulan seperti minyak sawit, kopi, produk kelapa, dan kakao ke pasar Rusia.

“Indonesia menyambut baik meningkatnya kepercayaan pasar Rusia terhadap berbagai produk unggulan nasional. Kami berkomitmen menjaga kualitas, daya saing, dan keberlanjutan produk ekspor Indonesia di pasar Rusia,” lanjutnya.

Lebih jauh, Wamendag juga menyoroti perkembangan ratifikasi Indonesia–EAEU Free Trade Agreement (FTA) yang telah ditandatangani pada Desember 2025 di St. Petersburg.

Indonesia saat ini tengah mempercepat proses ratifikasi domestik dengan target implementasi perjanjian pada kuartal III atau IV tahun 2026.

Untuk mengoptimalkan implementasi perjanjian tersebut, Indonesia mengusulkan pembentukan Indonesia–EAEU Business Council (IEBC) bekerja sama dengan KADIN Indonesia.

“Pembentukan Indonesia–EAEU Business Council diharapkan dapat menjadi katalis dalam memperkuat hubungan antarpelaku usaha, memperluas peluang investasi, serta mendorong peningkatan perdagangan kedua negara,” ucap Roro.

Selain perdagangan barang, Indonesia juga membuka peluang kerja sama di sektor perdagangan jasa.

Indonesia dinilai memiliki sumber daya manusia terampil di bidang teknologi informasi, konstruksi, perhotelan, dan teknologi digital yang dapat mendukung kebutuhan industri Rusia.(Sumber)