ernyataan mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan terkait kondisi kehidupan kebangsaan, khususnya ekonomi nasional yang dinilainya sedang tidak baik-baik saja mendapat respons keras dari Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar Idrus Marham.
Sebelumnya, lewat video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, Anies Baswedan sampaikan pandangannya terkait kondisi ekonomi nasional yang menurutnya tengah menghadapi tekanan serius.
“Teman-teman semua, izinkan saya berbagi pandangan. Saya mengikuti seksama apa yang sedang terjadi di negeri ini. Nilai tukar rupiah melemah, harga kebutuhan pokok naik, daya beli masyarakat menurun, dan banyak keluarga merasakan tekanan ekonomi yang semakin berat. Ini bukan sekadar angka statistik, tetapi realitas yang dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari,” tutur Anies
Menurutnya, banyak pelaku usaha hadapi kesulitan, lapangan pekerjaan yang semakin kompetitif, dan ketidakpastian ekonomi global yang berdampak langsung kepada masyarakat kecil. Situasi ini, lanjut Anies, tidak boleh dianggap biasa-biasa saja. Negara harus hadir memberikan rasa aman, kepastian, dan harapan kepada rakyat.
“Saya menyampaikan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi sebagai ajakan agar kita semua lebih peka terhadap keadaan. Pemerintah, elite politik, dan seluruh pemangku kepentingan harus bekerja lebih serius agar beban masyarakat tidak semakin berat,” kata Anies Baswedan.
Salah satu Capres 2024 ini ingin Indonesia menjadi negara yang adil, sejahtera, dan mampu memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh rakyatnya.
Menanggapi hal itu, Idrus menilai kritik terhadap pemerintah merupakan bagian penting dalam demokrasi. Namun, ia mengingatkan agar kritik tidak dibangun dengan narasi yang justru memperbesar kecemasan publik di tengah situasi ekonomi global yang masih penuh tekanan.
“Bangsa ini jangan terus-menerus disuguhi narasi kegelapan. Kritik boleh, bahkan penting dalam demokrasi. Tapi kritik juga harus menghadirkan optimisme, solusi, dan semangat persatuan. Jangan sampai rakyat dibuat makin cemas menghadapi keadaan,” kata Idrus, Kamis (21/5/2026).
Idrus Marham menggambarkan tantangan ekonomi saat ini bukan hanya dialami Indonesia. Hampir seluruh negara menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik, penguatan dolar AS, hingga ancaman perlambatan ekonomi dunia.
Secara obyektif, menurut Idrus, hari ini tidak ada satu negara pun yang lenggang dari tantangan ekonomi berat. “Hatta negara superpower seperti AS pun tak ada yang lepas dari tantangan. Karenanya, seluruh elite politik agar berhati-hati dalam membangun persepsi publik,” papar Idrus.
Bahkan hari ini, tantangan bisa dikata telah menjadi bagian inheren dari kehidupan setiap bangsa. Karena itu, tantangan di era global, semestinya dibaca sebagai ciri karakter “stabilitas dinamis” yang melekat dengan kondisi kekinian. Bukan dipotret dengan narasi ketakutan.
“Mari kita perhatikan bagaimana dinamika ekonomi berlangsung di setiap negara, lihat bagaimana neraca ekonominya? Semua pasti berada dalam skema yang “dinamis fluktuatif”. Kadang naik, kadang turun! Itu biasa. Jangan dicemaskan menjadi narasi yang menciutnya nyali,” papar Idrus.
Dengan pemahaman kuat sebagai “stabilitas-dinamis”, yang perlu dibangun adalah narasi soliditas dan ketangguhan. Bukan narasi yang mendorong sikap pesimistik. Karena jika yang terus dihembuskan hanya narasi ketakutan, pikiran kita akan terus berkutat pada dampak dan efek dari rasa takut terhadap fakta. “Jika fokus kita berhenti di sana,” sambung Idrus, “Bangsa ini akan terus tergiring menjadi bangsa yang gampang stress, punya rasa terbelakang, tertinggal, minder, gagal! Ujung-ujungnya bisa kufur nikmat! Nauzubillah.”
Menurut Idrus, narasi yang terlalu pesimistis justru berpotensi mengganggu stabilitas psikologis masyarakat dan memengaruhi kepercayaan pasar.
“Kalau elite politik terus berbicara seakan-akan negeri ini runtuh, pasar bisa terganggu dan rakyat kehilangan kepercayaan diri. Padahal bangsa ini sudah berkali-kali membuktikan mampu bertahan menghadapi krisis besar,” ujarnya.
Idrus juga menyoroti pentingnya menghadirkan kepemimpinan yang menenangkan di tengah situasi global yang belum menentu. Menurut dia, masyarakat saat ini membutuhkan energi positif dan arah yang jelas dari para pemimpin bangsa.
“Rakyat butuh energi positif, bukan ketakutan yang diproduksi terus-menerus. Jangan sedikit-sedikit menggambarkan Indonesia gelap. Kita harus serius menghadapi masalah, tapi juga harus yakin bangsa ini punya kekuatan untuk bangkit,” katanya.
Karenanya, Ketua Umum Forum Nasional Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri ini mengajak kita untuk belajar dari apa yang disampaikan Presiden Prabowo di depan Paripurna DPR, kemarin. Kalau ingin jujur, jelas Idrus, sejatinya kita harus memberi apresiasi positif kepada Presiden Prabowo yang telah menciptakan hal baru dalam tradisi perpolitikan bangsa, di mana beliau datang secara terbuka dan blak blakan menjelaskan bagaimana potret riil ekonomi Indonesia hari ini.
“Ini disampaikan blak-blakan, gamblang, tanpa tedeng aling-aling. Itu artinya beliau mengajak kita untuk sama-sama memahami anatomi persoalan dan siap merespon tantangan dengan positif dan optimisme!” ujarnya.
Idrus menegaskan sejatinya kalau kita ingin jujur, kita harus berterimakasih, harus respek pada langkah Presiden yang menerapkan tradisi baru ini. Di kesempatan tersebut, Beliau tidak saja gamblang mengungkapkan data dan solusi yang optimis, tapi juga menunjukkan totalitas komitmennya yang kuat. “Tanpa kegentaran sedikit pun,” ungkap Idrus.
Pernyataan Idrus tersebut selaras dengan sikap Presiden RI Prabowo Subianto kemarin. Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa seluruh pejabat negara harus bekerja penuh tanggung jawab dan tidak boleh menyalahgunakan amanah rakyat.
Presiden menekankan bahwa pemerintah tidak akan memberi ruang bagi pejabat yang bekerja setengah hati ataupun lalai menjalankan tugasnya. Menurut Prabowo, kepentingan rakyat harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan negara.
“Setiap pihak yang telah diberi tugas dan kepercayaan oleh negara harus menjalankannya dengan penuh komitmen dan tanggung jawab kepada rakyat. Tidak boleh ada ruang bagi pejabat yang bekerja setengah hati apalagi menyalahgunakan amanah,” tegas Prabowo.
Idrus menilai pesan Presiden Prabowo jelas menunjukkan bahwa pemerintah saat ini fokus menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap arah pembangunan nasional.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk memperkuat solidaritas nasional dibanding memperbesar perbedaan politik. “Kalau ada persoalan mari kita selesaikan bersama. Jangan justru membangun kegaduhan yang membuat masyarakat kehilangan harapan. Indonesia ini dibangun dengan gotong royong, bukan dengan pesimisme,” ujar Idrus.
Menurut Idrus, kritik yang sehat adalah kritik yang mampu menghadirkan solusi sekaligus menjaga semangat rakyat agar tetap percaya terhadap masa depan bangsa.





