Pakar komunikasi politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Gun Gun Heryanto, setuju jika lagu MBG ‘Mas Bahlil Ganteng’ memberikan dampak positif.
Lagu ini sebelumnya diunggah oleh akun TikTok @vokaliz_netizen dengan 1,2 juta followers pada 29 April 2026.
Akun tersebut rajin mengunggah lagu-lagu olahan artificial intelligence (AI) dengan jenaka.
Lagu MBG soal Ketua Umum Partai Golkar itu kemudian menjadi viral. Bahlil pun menghargai lagu itu dan mendukung segala kreativitas yang diciptakan para generasi muda.
Bahkan, Bahlil mengaku ingin bertemu dan mengobrol bersama dengan pencipta lagu tersebut.
Gun Gun mengatakan bahwa viralnya lagi ‘Mas Bahlil Ganteng’ itu justru membawa berkah.
“Saya setuju. Jadi, ada berkah sebenarnya dalam konteks meledaknya ini di sosial media karena basisnya adalah percakapan dan easy listening,” ungkapnya, dikutip dari YouTube Nusantara TV, Senin (1/6/2026).
“Karena mudah, gampang dibagi dan proses itu kemudian menjadi satu percakapan yang menguat, beresonansi di sosial media,” kata Gun Gun.
Menurut Gun Gun, lagu itu menguntungkan Bahlil dan Partai Golkar.
“Saya lihat memang posisi Golkar itu diuntungkan dan posisi Bahlil juga diuntungkan dengan dengan mencuat isu ini. Ini yang disebut sebagai publisitas politik. Kalau kita lihat satu fenomena ini yang sering disebut sebagai pure publicity.”
“Publisitas kan ada empat jenis ya, ada free ride, ada pure, ada paid publicity, ada tie in publicity. Nah, ini yang jenis pertama, pure publicity, publisitas yang memanfaatkan situasi alamiah, organik,” ujarnya.
Gun Gun juga menjelaskan bahwa jika dilihat dari sudut pandang metode persuasi, fenomena tersebut termasuk icing device technique, yaitu metode persuasi yang bekerja dengan menyentuh emosi dan perasaan audiens, seperti rasa senang dan bahagia.
Akibatnya, masyarakat cenderung tidak terlalu memperhatikan atau mengkritisi jabatan yang diemban oleh Pak Bahlil.
“Padahal Pak Bahlil itu problematik dari sisi jabatan. Sejak Agustus 2024 menjadi Menteri ESDM sampai sekarang banyak sekali hal yang harus dikritik.”
“Contohnya misal misalnya pada saat bencana Sumatera, kemudian blackout kemarin listrik juga di beberapa wilayah di Sumatera, smelter,” jelasnya.
Respons Santai Elite Golkar
Terkait lagu ini, Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham, menanggapi santai karena kemunculan lagu tersebut merupakan bagian dari kreativitas masyarakat yang tidak perlu disikapi secara berlebihan.
Idrus juga mengatakan Bahlil justru menanggapi fenomena itu dengan santai dan penuh humor, tidak mempermasalahkannya.
“Kita tidak bisa melarang bagaimana kreativitas masyarakat dan lain-lain sebagainya dan oleh karena itu Pak Bahlil ketum Golkar kalau ada hal seperti itu ketawa-ketawa aja,” kata Idrus, dalam konferensi pers kepada wartawan, di kawasan Senayan, Jakarta, Kamis (28/5/2026)
Menurut Idrus, dalam dunia politik, viralitas justru menjadi tanda bahwa seorang politisi masih mendapat perhatian publik.
“Ya bahkan dalam beberapa pernyataannya kalau kita politisi tidak viral berarti kita tidak jadi perhatian. Syukurlah masih ada yang memperhatikan kita, jadi ini saja,” ujarnya.
Oleh karena itu, Idrus meminta publik tidak perlu mempersoalkan kreativitas yang berkembang di masyarakat selama masih dalam batas wajar.
Meski demikian, Idrus mengingatkan bahwa setiap kreativitas tetap harus dimaknai secara bijak dan tidak mengarah pada hal-hal sensitif yang dapat memicu persoalan di ruang publik.
Idrus juga menyebut respons setiap orang terhadap fenomena viral tentu berbeda-beda. Namun, menurutnya, Bahlil memilih menghargai kreativitas masyarakat dibanding merespons dengan kemarahan.
“Ada yang diuntungkan tentu agak marah-marah, yang diuntungkan ketawa-ketawa tapi Pak Bahlil mau diuntungkan, mau diapa, tapi menghargai kreativitas seperti itu ya dan tentu tidak boleh kita marah,” ucapnya.
Idrus menilai sikap tersebut sejalan dengan prinsip demokrasi yang memberikan ruang bagi masyarakat untuk berekspresi selama tidak menyinggung isu sensitif.
“Kenapa? Karena ya kreativitas negara demokrasi. Yang penting itu tidak dikaitkan hal-hal yang lebih sensitif. Misalkan rasial ada lagi macam-macam itu nggak boleh. Itu aja. Jadi kenapa lo pusing? Itu kata Pak Bahlil,” pungkasnya.
(Sumber)





