Kabar duka datang dari negara tetangga. Mantan presiden sekaligus tokoh kunci dalam lembaran sejarah perjuangan kemerdekaan Timor-Leste, Francisco Guterres, dilaporkan meninggal dunia pada usia 71 tahun. Mantan komandan gerilyawan yang akrab disapa dengan nama perlawanan ‘Lu-Olo’ ini mengembuskan napas terakhirnya pada Minggu (21/6/2026) saat sedang menjalani perawatan medis intensif di Malaysia.
Mengutip kantor berita Timor-Leste, Tatoli, Senin (22/6/2026), pihak keluarga Guterres telah mengonfirmasi kabar duka ini secara terbuka melalui akun Facebook resmi sang mantan presiden, yang seketika memicu gelombang rasa hormat dan ungkapan belasungkawa dari berbagai kalangan.
Sebelum berpulang, Guterres diketahui sempat berjuang melawan sakitnya di bawah penanganan ketat tim dokter di Rumah Sakit Prince Court Medical Centre, Kuala Lumpur.
Dari Panglima Gerilya hingga Kursi Kepresidenan
Berpulangnya Francisco Guterres menyisakan kesedihan yang mendalam bagi rakyat Timor-Leste, yang selama ini memandangnya sebagai pilar utama dalam menyatukan visi negara yang berdaulat.
Rekam jejak politiknya mencatat bahwa Guterres merupakan figur terkemuka yang memegang tampuk kepemimpinan tertinggi di negara tersebut untuk masa jabatan periode tahun 2017 hingga 2022.
Ia mengawali karier birokrasi puncaknya melalui kendaraan politik Fretilin, sebuah partai legendaris yang sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari dinamika pergerakan nasional Timor-Leste.
Jauh sebelum menduduki kursi kepresidenan, peran strategis Guterres sebenarnya sudah mengakar kuat sejak masa-masa transisi pasca-pemisahan Timor-Leste pada tahun 1999 silam.
Selain mengepalai pemerintahan di masa damai, ia juga pernah memegang posisi krusial sebagai Ketua Majelis Konstituen. Posisi strategis inilah yang menempatkannya di garis depan dalam merancang, merumuskan, serta menyusun fondasi hukum dasar bagi berdirinya negara baru tersebut.
Semasa hidupnya, komitmen Guterres terhadap gerakan kemerdekaan menjadikannya salah satu simbol bertahannya idealisme sebuah bangsa yang merangkak dari puing-puing konflik menuju era demokrasi modern.
Penghormatan Terakhir dari Kuala Lumpur
Eratnya hubungan diplomatik antara Dili dan Kuala Lumpur pun terasa sangat kental dalam momentum perkabungan internasional ini. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim secara khusus membagikan rasa kehilangan yang mendalam atas wafatnya sang pejuang yang kini telah bermutasi menjadi seorang negarawan tersebut melalui sebuah unggahan di media sosial X pada Senin (22/6/2026).
“Saya turut berduka atas wafatnya mantan Presiden Timor-Leste Francisco Guterres. Atas nama Malaysia, saya menyampaikan belasungkawa kepada keluarganya dan rakyat Timor-Leste. Sepanjang kariernya, beliau tetap setia pada kebebasan rakyatnya dan pada pembangunan negara demokrasi,” tulis PM Anwar dalam unggahan resminya.
Penghormatan terakhir yang mengalir deras dari negara jiran ini membuktikan bahwa kegigihan Guterres dalam mempertahankan prinsip demokrasi dan kedaulatan negaranya diakui secara luas di kawasan Asia Tenggara.
PM Anwar juga menambahkan bahwa Malaysia ikut merasakan duka yang sama dengan rakyat Timor-Leste, dan menegaskan bahwa jasa serta dedikasi Francisco Guterres akan selalu dikenang dengan rasa hormat yang tinggi di Kuala Lumpur.(Sumber)





