Politiknesia.com

Demo Besar-besaran Ratusan Ribu Warga Bisa Akibatkan Israel Lumpuh

Ratusan ribu warga Israel turun ke jalan untuk menggelar aksi protes pada Minggu (1/9/2024). Mereka menuntut kesepakatan gencatan senjata dan serikat pekerja utama Israel menyerukan pemogokan setelah enam tawanan ditemukan tewas di Gaza.

Para pengunjuk rasa meneriakkan “Sekarang! Sekarang!” dan menuntut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mencapai gencatan senjata dengan kelompok Hamas untuk membawa pulang tawanan yang tersisa.

Banyak warga Israel memblokir jalan-jalan di Tel Aviv dan berdemonstrasi di luar kantor Netanyahu di Yerusalem Barat. Ini menjadi demonstrasi antipemerintah terbesar di Israel sejak perang Gaza dimulai hampir 11 bulan lalu.

Kematian Enam Tawanan
Kematian enam tawanan di Gaza menjadi pemicu demo Netanyahu tersebut. Forum Sandera dan Keluarga Hilang, yang mewakili keluarga para sandera yang ditawan di Gaza, mengatakan kematian keenam orang tersebut akibat keputusan yang diambil Netanyahu.

Keenam tawanan Israel yang meninggal terdiri dari empat laki-laki, yakni Hersh Goldberg-Polin (23), Alexander Lobanov (33), Almog Sarusi (27), dan Ori Danino (25), serta dua perempuan, Eden Yerushalmi (24) dan Carmel Gat (40).

Dalam sebuah pernyataan, Forum Sandera dan Keluarga Hilang menyebut Netanyahu gagal mengamankan kesepakatan untuk menghentikan pertempuran dan membawa pulang orang-orang yang mereka cintai.

“Mereka semua dibunuh dalam beberapa hari terakhir, setelah bertahan hidup selama hampir 11 bulan dari penyiksaan, penyiksaan, dan kelaparan di tahanan Hamas,” kata forum tersebut, seperti dikutip Al Jazeera, Senin (2/9/2024).

Gil Dickmann, sepupu Carmel Gat, yang jasadnya termasuk di antara mereka yang dipulangkan, mendesak warga Israel untuk memberi lebih banyak tekanan pada pemerintah mereka.

“Turun ke jalan dan tutup negara sampai semua orang kembali. Mereka masih bisa diselamatkan,” tulis Dickmann di platform X.

Gideon Levy, kolumnis surat kabar Haaretz mengatakan, Netanyahu telah membela partai-partai sayap kanan di pemerintahannya yang menentang segala konsesi kepada Hamas. “Mereka tidak peduli dengan para sandera,” katanya.

Levy menekankan bahwa dalam Partai Likud besutan Netanyahu, kelompok terbesar dalam pemerintahan, perdana menteri Israel itu memegang banyak kekuasaan dan partai tersebut mendukungnya.

“Oleh karena itu, tantangan dari dalam pemerintahan sangat terbatas. Tantangan yang nyata dan mungkin terjadi adalah jalanan, tetapi masih terlalu dini untuk menilainya,” papar Levy.

Seruan Mogok Serikat Pekerja
Sementara itu, untuk pertama kalinya sejak 7 Oktober, federasi serikat pekerja terbesar Israel, Histadrut, telah menyerukan pemogokan umum untuk menekan pemerintah agar menandatangani kesepakatan gencatan senjata.

Serikat pekerja mengatakan Bandara Internasional Ben Gurion, pusat transportasi udara utama Israel, akan ditutup mulai pada Senin (2/9/2024) pukul 08.00 waktu setempat. Mereka bertujuan untuk menutup atau mengganggu sektor-sektor utama ekonomi Israel, termasuk perbankan dan perawatan kesehatan.

“Kesepakatan lebih penting daripada apa pun. Kami mendapatkan kantong mayat, bukan kesepakatan,” kata kepala Histadrut, Arnon Bar-David.

Ia mengatakan bahwa aksinya itu didukung oleh produsen dan pengusaha utama Israel di sektor teknologi tinggi. Aliansi dari beberapa tokoh paling berpengaruh dalam ekonomi Israel juga ikut mendukung kemarahan publik atas kematian keenam tawanan tersebut.

Layanan kota di pusat ekonomi Israel, Tel Aviv, juga akan ditutup selama sebagian Senin.

Asosiasi Produsen Israel mengatakan bahwa mereka mendukung pemogokan tersebut dan menuduh pemerintah gagal dalam ‘tugas moral’ untuk membawa kembali para tawanan dalam keadaan hidup.

“Tanpa pengembalian para sandera, kita tidak akan dapat mengakhiri perang, kita tidak akan dapat merehabilitasi diri kita sebagai masyarakat dan kita tidak akan dapat mulai merehabilitasi ekonomi Israel,” kata kepala asosiasi Ron Tomer.

Dukungan dan Tekanan dari Tokoh
Pemimpin oposisi Israel dan mantan Perdana Menteri Yair Lapid menyatakan bahwa dirinya mendukung rencana pemogokan kerja tersebut.

Namun, Menteri Keuangan Bezalel Smotrich telah meminta Jaksa Agung negara itu Gali Baharav-Miara untuk mengajukan permintaan mendesak ke pengadilan guna memblokir rencana pemogokan nasional tersebut.

Dalam suratnya, Smotrich berpendapat bahwa pemogokan tidak memiliki dasar hukum karena bertujuan untuk memengaruhi keputusan kebijakan penting politisi secara tidak benar terkait isu-isu yang berkaitan dengan keamanan negara.

Ia juga mengatakan bahwa pemogokan besar-besaran – yang akan menutup negara termasuk penerbangan keluar – memiliki konsekuensi ekonomi yang signifikan yang akan menyebabkan kerusakan ekonomi yang tidak perlu di masa perang.

Negosiasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas telah berlangsung selama berbulan-bulan, dan banyak yang menyalahkan Netanyahu karena gagal mencapai kesepakatan.

Militer Israel telah menewaskan sedikitnya 40.738 orang dan melukai 94.154 orang dalam perangnya di Gaza sejak 7 Oktober. Diperkirakan 1.139 orang tewas di Israel selama serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober, dengan sekitar 250 orang ditangkap oleh kelompok tersebut.

Militer Israel telah mengakui kesulitan menyelamatkan puluhan tawanan yang tersisa dan mengatakan hanya kesepakatan yang dapat membawa pengembalian dalam skala besar.

(Sumber)