Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyampaikan pengumuman mengejutkan pada Kamis (19/1). Ia memilih mengundurkan diri dari jabatannya pada bulan depan.
Ia memastikan pengunduran diri bukan disebabkan kekhawatiran kalah pemilu. Namun, Ardern merasa ada sosok lebih tepat untuk menjalankan tugas sebagai Perdana Menteri Negeri Kiwi.
“Saya mundur bukan karena saya tidak percaya kami bisa menang (pemilu), saya percaya kami bisa dan kami mampu,” kata Ardern seperti dikutip dari AFP.
“Saya mundur karena dengan pekerjaan istimewa ini datang pula tanggung jawab istimewa. Tanggung jawab di mana saat kalian mengetahui bahwa kamu ada orang yang tepat dan bukan orang yang tepat,” sambung dia.
Ardern menambahkan, pengunduran dirinya efektif berlaku tidak lebih dari 7 Februari 2022. Pemilihan pemimpin baru Partai Buruh akan digelar tiga hari setelah pengunduran diri.
Ardern menjadi PM usai koalisi Partai Buruh memenangkan pemilu 2017. Kemenangan serupa kembali direbut Partai Buruh pada 2020.
Pemilu Selandia Baru selanjutnya akan digelar pada 14 Oktober 2023. Jelang pemilu popularitas Ardern dan partainya merosot.
Penurunan dukungan terhadap Ardern dan Partai Buruh disebabkan masalah inflasi serta kekhawatiran naiknya angka kriminalitas.
Selama memimpin Selandia Baru, Ardern mendapat berbagai pengakuan dunia terkait penanganan COVID-19, penyerangan di dua masjid hingga melahirkan saat masih bertugas sebagai PM.(Sumber)





