Politiknesia.com

Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani Samakan Trump Dengan Diktator Nazi Adolf Hitler

Ketegangan verbal antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas, kali ini dengan perbandingan historis yang tajam dan kontroversial. Kepala Keamanan Iran, Ali Larijani, secara terbuka menyamakan Presiden AS Donald Trump dengan diktator Nazi Jerman, Adolf Hitler.

Larijani, yang merupakan ajudan utama Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, tidak hanya berhenti di situ. Ia juga menilai Trump tak lebih dari sekadar ‘pengusaha biasa’ yang menginisiasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perdamaian Gaza di Mesir –sebuah forum yang dengan senang hati dilewatkan oleh Iran.

Pemaksaan Damai Ala Hitler
Pernyataan keras Larijani ini muncul setelah serangkaian kritik pedas yang dilontarkan oleh pejabat tinggi Iran lainnya terhadap kebijakan Washington. Khamenei sendiri pernah menyindir Trump, menyebut Presiden AS itu ‘terus saja bermimpi’ tentang ‘omong kosong’ untuk menghancurkan program nuklir Iran.

Pernyataan Larijani kali ini kian memperlihatkan sikap garis keras para pemimpin Teheran terhadap AS, khususnya setelah Larijani ditunjuk sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran pasca-perang dengan Israel.

“Pernyataan Trump bahwa ia mau menciptakan perdamaian melalui pemaksaan kekuatan merupakan pernyataan aneh karena Hitler pernah menyatakan hal yang sama,” ujar Larijani, seperti dikutip dari Iran International.

Perbandingan antara pemaksaan kekuatan yang diklaim Trump dengan metode diktator Nazi ini jelas menunjukkan tingkat permusuhan yang mendalam.

Larijani juga menjelaskan alasannya ogah menghadiri KTT Perdamaian Gaza yang digelar di Sharm Al Sheikh, Mesir, pada 12 Oktober lalu. Ia menganggap KTT tersebut hanya sebagai ‘pertunjukan Trump’ yang tidak relevan bagi Iran.

Larijani menyoroti dominasi Trump dalam forum tersebut, mengklaim bahwa pemimpin AS itu tidak memberikan ruang bagi pemimpin lain untuk berbicara.

“Dia bicara sendiri untuk dirinya, tidak mengizinkan (pemimpin) yang lain bicara, bahkan mempermalukan para pemimpin negara lain yang hadir,” kata Larijani.

Padahal, Trump sempat mengundang Iran untuk hadir dan membuat kontroversi dengan pidatonya di Knesset Israel sehari sebelumnya, di mana ia berharap Iran dilibatkan dalam perdamaian yang lebih luas di Timur Tengah.

Namun, Larijani menepisnya mentah-mentah. Ia mengatakan bahwa KTT itu ‘merupakan tingkat rendah dan tidak memiliki tempat bagi Iran yang revolusioner’.

KTT tersebut sendiri dihadiri sejumlah negara Arab dan mayoritas Muslim, meskipun dua kekuatan regional, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, memilih untuk tidak hadir.

Sikap keras Iran ini semakin memperjelas bahwa upaya diplomatik yang dimotori AS di Timur Tengah akan selalu menghadapi penolakan tegas dari Teheran.(Sumber)