Politiknesia.com

Khaled Mashal Jadi Pemimpin Sementara Hamas Usai Yahya Sinwar Dikabarkan Tewas

Salah satu pejabat senior Hamas, Khaled Mashal, mengambil alih peran sebagai kepala biro politik sementara kelompok tersebut setelah Yahya Sinwar diduga tewas akibat serangan Israel. Hal itu dikabarkan oleh saluran televisi Lebanon LBCI yang mengutip sejumlah sumber.

Menurut laporan media tersebut, Mashal, yang memimpin gerakan Hamas di luar Palestina, kini bertanggung jawab atas semua kegiatan komunikasi dengan pihak-pihak yang terlibat dalam negosiasi dan masalah tahanan.

Sejumlah sumber juga mengonfirmasi kepada LBCI bahwa Mashal ‘memberi tahu’ pejabat Turki, Qatar, dan Mesir tentang kematian Sinwar.

“Hamas menekankan bahwa setelah pembunuhannya, negosiasi untuk pertukaran tawanan dan penghentian perang akan menjadi semakin sulit dan semakin kompleks,” demikian ditulis oleh media tersebut.

Sebelumnya, pihak pasukan Israel (IDF) mengonfirmasi sebuah serangan mereka di Jalur Gaza telah menewaskan Yahya Sinwar. Bahkan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menter Luar Negeri Israel Katz sudah memberikan keterangan resmi terkait kematian pemimpin Hamas itu.

“Pembunuh massal Yahya Sinwar, yang bertanggung jawab atas pembantaian dan kekejaman pada tanggal 7 Oktober telah dihabisi hari ini oleh tentara IDF (militer Israel),” kata Katz dalam pernyataan resminya Kamis (17/10/2024), seperti dikutip Reuters.

Sinwar dianggap sebagai dalang utama dan penyelenggara serangan oleh Hamas yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.

Sejauh ini, Hamas belum mengeluarkan komentar resmi terkait informasi terbunuhnya pemimpin mereka.

Yahya Sinwar ditunjuk menjadi pemimpin politik Hamas setelah kematian pendahulunya Ismail Haniyeh pada akhir Juli lalu. Haniyeh tewas imbas serangan udara saat berada di Teheran, Iran, untuk menghadiri pelantikan Presiden Masoud Pezeskhian.

Iran meyakini serangan itu didalangi Israel meski hingga saat ini Tel Aviv terus membantahnya.

Sebelum menggantikan Haniyeh, Sinwar merupakan pemimpin Hamas di Gaza. Dibandingkan Haniyeh, Sinwar merupakan pentolan Hamas yang terkenal lebih keras dan kejam dalam bersikap terhadap Israel.

Sinwar pula yang disebut-sebut sebagai ‘otak’ dari serangan Hamas pada 7 Oktober tahun lalu ke Israel.

Serangan itu menjadi pematik agresi brutal Israel ke Jalur Gaza, bahkan Palestina secara keseluruhan hingga hari ini dan telah menewaskan lebih dari 42.400 warga Palestina.

Profil Khaled Mashal

Dikutip dari Britannica, Jumat (18/10/2024), Khaled Mashal merupakan sosok kelahiran Silwad, Tepi Barat, pada 28 Mei 1956 atau saat ini berusia 68 tahun.

Dia dikenal sebagai politikus Palestina dan sempat diasingkan dari tahun 1996-2017 ketika menjabat sebagai Kepala Biro Politik Hamas.

Kemudian pada tahun 2021, dia ditunjuk untuk menjadi Kepala Kantor Hamas untuk pengungsi dan orang buangan Palestina.

Setelah tewasnya pimpinan Hamas sebelum Yahya Sinwar, Ismail Haniyeh pada tahun 2024, Mashall menjadi pejabat Hamas paling senior di luar Jalur Gaza.

Sebelum menjadi pejabat senior Hamas, masa kecil Mashal dihabiskan dengan berpindah-pindah negara.

Pada tahun 1967, dia dan keluarganya pindah dari Silwad ke Kuwait setelah Tepi Barat diduduki oleh Israel dalam Perang Enam Hari.

Saat menetap di Kuwait, Mashal tertarik pada aktivisme politik Islam dan memutuskan bergabung dengan cabang Palestina dari Ikhwanul Muslimin pada usia 15 tahun.

Lalu, pada tahun 1974, Mashal memutuskan untuk berkuliah di Universitas Kuwait dan mempelajari fisika serta berpartisipasi dalam aktivisme Palestina.

Setelah lulus, Meshaal tetap tinggal di Kuwait dan mengajar fisika serta tetap aktif dalam gerakan Islam Palestina.

Akhirnya, dia berhenti mengajar pada tahun 1984 dan lebih memilih berfokus terhadap pembangunan jaringan layanan sosial Islam di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Mashal pun bisa dikatakan sebagai salah satu pendiri Hamas karena tekadnya untuk menyaingi organisasi gerilya yaitu Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) seperti Fatah.

Lantas, Hamas pun berdiri pada tahun 1987 setelah menyatakan keberadaannya secara terbuka.

Menjadi pentolan Hamas membuat Mashal pernah mengalami percobaan pembunuhan oleh agensi intelijen Israel, Mossad pada 1997.

Mengutip Al Jazeera, perintah untuk membunuh Mashal tersebut langsung dari PM Israel Benjamin Netanyahu. Adapun pembunuhan itu dimaksudkan untuk pembalasan atas pengeboman Pasar Mahane, Yehuda pada tahun 1997.

Percobaan pembunuhan itu dilakukan dengan cara dua agen Mossad membawa paspor Kanada palsu memasuki Yordania yang menjadi tempat tinggal Mashal.

Lantas, mereka menunggu di pintu masuk kantor Hamas di ibu kota Yordania, Amman.

Lalu, ketika Mashal masuk ke kantornya, salah satu agen datang dari belakang dan melekatkan perangkat khusus ke telinga kirinya yang ditransmisikan racun reaksi cepat. Namun, upaya tersebut gagal dan dua agen Mossad itu langsung ditangkap.

Sebagai anggota Hamas, Mashal harus berhadapan dengan berbagai tantangan seperti pernah ditahan oleh pemerintah Yordania karena menganggap organisasinya melakukan aktivitas ilegal. Dia ditahan bersama dengan pemimpin elite Hamas lainnya seperti Mousa Abu Marzook.

Masuk pada tahun 2017, terjadi perubahan pucuk pimpinan Hamas di mana Yahya Sinwar menggantikan Ismail Haniyeh sebagai Kepala Hamas di Jalur Gaza.

Perubahan ini membuat Mashal digantikan oleh Haniyeh sebagai Kepala Biro Politik Hamas.

Mengutip Reuters, pergantian dari Mashal ke Haniyeh ini menandai adanya keseimbangan kekuasaan dalam tubuh Hamas dari mereka yang tinggal di luar negeri seperti Mashal kepada mereka yang tinggal di Jalur Gaza.

Tak cuma itu, penggantian Mashal juga menawarkan kesempatan untuk pemulihan hubungan antara Hamas dan Iran.

Kedekatan Hamas dan Iran di bawah kepemimpinan Haniyeh sebagai kepala biro politik ditandai dengan diterimanya organisasi tersebut saat pemakaman perwira militer Korps Garda Revolusi Islam, Qassem Soleimani (2020) dan pelantikan Presiden Iran Ebrahim Raisi (2021) dan Masoud Pezeshkian (2024).

Kendati demikian, Mashal tetap menjabat sebagai elite Hamas sebagai kepala untuk mengurusi pengungsi dan orang buangan Palestina.

(Sumber)