Politiknesia.com

Mendukbangga Wihaji Wanti-wanti Orang Tua: Anak Yang Kehilangan Kasih Sayang Rentan Terjerumus Narkoba

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) Wihaji menekankan pentingnya komunikasi keluarga di rumah terutama ayah terhadap anak, guna mencegah anak terjerumus dalam narkoba atau bahaya pergaulan bebas lainnya.

Wihaji pada puncak peringatan Harganas 2026 di Yogyakarta, Senin, mengatakan, absennya kehangatan emosional dari orang tua, khususnya ayah, sangat berbahaya bagi mental anak, karena bisa berdampak langsung pada meledaknya patologi sosial yang mengerikan di masyarakat.

“Anak-anak yang terjerumus dalam kekerasan atau narkoba sering kali adalah mereka yang kurang kasih sayang di rumah. Karena tidak mendapatkan pelabuhan emosional di keluarga, mereka akhirnya mencari pelarian semu di jalanan,” katanya.

Menurut Wihaji, peradaban era modern di mana ancaman pergaulan sudah menyusup langsung ke ruang keluarga melalui layar digital, sehingga jangan sampai terjadi kekosongan peran ayah di rumah akibat dibajak oleh gawai.

“Wahai para ayah, letakkan gawai Anda di rumah, peluk anak-anakmu, dan ajak mereka berdialog. Jangan biarkan meja makan sunyi dan masa depan anak kita dikuasai oleh algoritma digital yang tidak bermoral,” katanya.

Wihaji menambahkan, ketangguhan keluarga bukan sekadar urusan domestik, melainkan urgensi nasional yang berkorelasi linier dengan nasib bangsa, jika institusi keluarga rapuh, ledakan usia produktif justru akan berbalik menjadi bencana demografi yang meruntuhkan stabilitas sosial.

Guna menangkal ancaman tersebut, Wihaji memaparkan tiga pilar utama pembangunan keluarga yang wajib diperkuat setiap keluarga Indonesia, yaitu aspek kesehatan yang diperlukan penuntasan stunting melalui pemenuhan gizi di 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Pada aspek pendidikan karakter, rumah harus kembali menjadi madrasah abad 21 bagi anak, karena tempat inilah yang menjadi fondasi awal ditanamkannya integritas, kejujuran, dan kedisiplinan.

Sedangkan pada aspek ketahanan mental keluarga wajib menjadi pelabuhan emosional yang tangguh, yang bertujuan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang pantang menyerah dan tidak mudah stres di era penuh tekanan.

Wihaji mengajak seluruh elemen masyarakat untuk segera mengubah paradigma, bahwa keluarga harus ditempatkan sebagai hulu dari segala kebijakan publik karena infrastruktur semegah apa pun tidak akan bermakna tanpa SDM yang bermoral.

“Jadikan rumah sebagai tempat yang paling aman dan dirindukan. Kemana pun anak kita melangkah, magnet kehangatan keluarga akan selalu menarik mereka pulang ke jalan yang benar,” katanya.(Sumber)