Bahlil Lahadalia mengaku tak bisa Bahasa Inggris ketika menjabat sebagai Menteri Investasi sekaligus Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Hal itu tentu menjadi guyonan orang-orang.
“Waktu itu banyak kan orang ledekin saya, ‘Ini Menteri Investasi urusan Bahasa Inggris’. Sementara Bahasa Inggris kita waktu itu kayak kepala kan, tahu tapi enggak sebaik senior saya dululah,” kata Bahlil dalam program Info A1 kumparan, Kamis (28/12).
Bahlil mengeklaim, tak perlu memiliki kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni ketika menjadi seorang menteri investasi. Menurutnya, kemampuan untuk melobi investor lebih penting ketimbang mahir bahasa Inggris.
“Lobi (kunci utamanya). Ini loh investasi republik, ini loh ana main, Bos. Ini, ngurus investasi di republik ini, harus orang yang punya jaringan, punya banyak kawan,” ungkapnya.
Bahlil pun membeberkan bukti nyata ketika ia memimpin menjadi menteri investasi. Secara kumulatif Januari – September Tahun 2023, realisasi investasi mencapai Rp 1.053,1 triliun atau meningkat sebesar 18 persen dibanding dengan periode yang sama pada tahun 2022. Nilai tersebut sudah mencapai 75,2 persen dari target tahun 2023 sebesar Rp 1.400 triliun.
“Bahasa Inggris itu penting tapi enggak terlalu penting juga, wong buktinya (target) investasi dari Rp 800 triliun menjadi Rp 1.400 triliun tanpa bahasa Inggris yang terlalu aneh-aneh kok,” ungkapnya.
“Enggak ada tuh pakai bahasa Inggris, enggak ada tuh kuliah-kuliah di Harvard, wong kampus saya kan enggak ada di Google,” tambahnya.
Bahlil merupakan lulusan Sekolah Tinggi Ekonomi, Port Numbay Jayapura, Papua. Ia kemudian menyelesaikan gelar masternya di Universitas Cendrawasih, Jayapura.
Berdasarkan catatan kumparan, capaian investasi hingga September 2023 didominasi oleh penanaman modal asing (PMA) mencapai Rp 196,2 triliun atau 52,4 persen melampaui penanaman modal dalam negeri (PMDN) senilai Rp 178,2 triliun atau 47,6 persen.
Sebaran realisasi investasi di luar Pulau Jawa pada kuartal III 2023 masih terus mendominasi dengan kontribusi sebesar Rp 190 triliun atau 51 persen dari total capaian realisasi investasi.
Adapun untuk total realisasi investasi tertinggi dipegang oleh DKI Jakarta dengan Rp 50,9 triliun diikuti oleh Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, Maluku Utara.(Sumber)





