Pertemuan bersejarah antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden AS Donald Trump di Anchorage, Alaska, Jumat (16/8/2025), menuai respons beragam dari para pemimpin Eropa.
Meski ada harapan, sebagian besar negara menekankan pentingnya sanksi dan dukungan berkelanjutan untuk Ukraina.
Harapan Damai dari Hongaria dan Italia
Menteri Luar Negeri Hongaria Peter Szijjarto menyuarakan optimisme. Ia menyebut pertemuan itu membuat ‘dunia menjadi lebih aman’, menegaskan bahwa konflik di Ukraina hanya bisa diselesaikan melalui negosiasi.
Senada dengan itu, PM Hongaria Viktor Orban menyatakan pertemuan ini mengakhiri periode buruk antara dua kekuatan nuklir terbesar dunia.
Sementara itu, PM Italia Giorgia Meloni menyebut KTT itu sebagai ‘secercah harapan bagi perdamaian’, meyakini bahwa kesepakatan damai –meski sulit– ‘akhirnya mungkin’ tercapai. Meloni menambahkan, pertemuan tersebut juga menyentuh soal jaminan keamanan bagi Ukraina.
Prancis dan Belanda Pilih Realistis
Presiden Prancis Emmanuel Macron langsung bergerak cepat. Ia menyatakan para pemimpin Eropa akan segera bertemu untuk menyusun langkah-langkah ‘konkret’ menyusul pertemuan Trump-Putin.
Di sisi lain, PM Belanda Dick Schoof menyambut baik upaya Trump untuk perdamaian abadi. Namun, ia menekankan bahwa negosiasi hanya bisa dilakukan dengan menyertakan Ukraina. Schoof juga melihat prospek positif untuk menggelar KTT antara AS, Ukraina, dan Rusia, yang difasilitasi oleh Uni Eropa.
Presiden Slovakia Peter Pellegrini juga menilai suasana saling menghormati dalam pertemuan itu membuka peluang perundingan lanjutan.
Uni Eropa Tetap Komitmen pada Sanksi dan Dukungan
Terlepas dari optimisme beberapa negara, para pemimpin Uni Eropa menunjukkan sikap yang lebih tegas. Mereka menegaskan kembali komitmen untuk terus memberikan dukungan militer ke Ukraina.
Dalam sebuah pernyataan bersama, mereka berjanji untuk mendorong sanksi lebih lanjut terhadap Rusia dan langkah-langkah ekonomi yang lebih luas. Tujuannya? Menekan ekonomi perang Rusia sampai tercapai perdamaian yang adil dan abadi.
Komitmen ini menunjukkan bahwa di tengah dialog AS-Rusia, Eropa tidak akan surut dalam memberikan tekanan.(Sumber)





