Anggota DPR RI Fraksi Golkar, Nurul Arifin turut menyoroti masalah penanganan sampah di Kota Bandung yang tak kunjung beres.
Anggota DPR RI daerah pemilihan Jawa Barat I meliputi Kota Bandung–Cimahi ini menyebut, sampah bukan persoalan teknis pengangkutan semata, tapi masalah sistemik yang membutuhkan perubahan cara pandang serta kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha hingga masyarakat.
“Sampah adalah persoalan bersama. Tidak bisa diselesaikan dengan saling menyalahkan, tetapi dengan membangun kesadaran kolektif dan sistem yang berkelanjutan,” ujar Nurul, Rabu (14/1/2026).
Menurut Nurul, upaya pemerintah Kota Bandung yang mengedukasi warga agar melakukan pemilahan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga, sudah sejalan dengan prinsip pengelolaan sampah modern, di mana masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama, bukan sekadar objek layanan.
“Pemilahan dari rumah adalah kunci. Jika sampah sudah terpilah sejak awal, beban di hilir akan jauh berkurang. Ini langkah mendasar tapi sangat menentukan,” katanya.
Nurul pun mendorong penguatan infrastruktur pengolahan sampah di tingkat kewilayahan, seperti TPS3R, bank sampah, dan unit pengolahan berbasis komunitas. Pendekatan desentralistik, kata dia, akan lebih adaptif menghadapi keterbatasan kapasitas di TPA Sarimukti.
Selain itu, Nurul juga menekankan pentingnya edukasi berkelanjutan, bukan hanya melalui sosialisasi, tetapi juga pendampingan langsung di lingkungan warga.
Rekrutmen petugas pendamping di tingkat RW, dapat menjadi jembatan perubahan perilaku masyarakat jika disertai pembinaan yang konsisten.
“Perubahan budaya tidak bisa instan. Perlu kesabaran, keteladanan, dan keberlanjutan. Ini investasi jangka panjang untuk kualitas hidup kota,” katanya.
Di tingkat nasional, Nurul menyatakan DPR RI terus mendorong sinergi kebijakan pusat dan daerah, termasuk dukungan regulasi, pendanaan, serta pemanfaatan teknologi ramah lingkungan untuk pengolahan sampah.
Nurul optimistis, dengan kepemimpinan daerah yang responsif dan partisipasi aktif masyarakat, Kota Bandung dapat keluar dari krisis sampah dan menjadi contoh kota yang berhasil membangun sistem pengelolaan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
“Kota Bandung punya modal sosial yang kuat. Jika kita bergerak bersama, persoalan sampah ini bisa kita ubah menjadi peluang perbaikan peradaban,” ucapnya. (Sumber)





