Politiknesia.com

RI Jadi Magnet Ekonomi Dunia! Menko Airlangga Gaet Investasi Rp. 574 Triliun di Tengah Ketidakpastian Global

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membawa komitmen investasi besar dari kunjungan kerja ke Korea Selatan.

Dalam forum Indonesia-Korea Partnership for Resilient Growth, tercatat penandatanganan 10 nota kesepahaman (MoU) dengan nilai mencapai 10,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 173 triliun.

Airlangga mengatakan, kerja sama tersebut mencakup berbagai sektor strategis, mulai dari energi hingga teknologi.

“Dalam pertemuan tersebut ditandatangani 10 Memorandum of Understanding senilai 10,2 miliar dollar AS, mencakup sektor energi, green transition, hingga industri manufaktur,” ujar Airlangga dalam keterangannya dilansir dari YouTube Sekretariat Presiden pada Jumat (3/4/2026).

Kesepakatan itu meliputi pengembangan energi baru terbarukan seperti solar power, carbon capture and storage (CCS), hingga proyek energi ramah lingkungan lainnya.

Selain itu, kerja sama juga menyasar sektor industri seperti baja, baterai, dan transportasi berbasis energi bersih.

Tak hanya itu, investasi juga mengalir ke sektor digital dan kecerdasan buatan (AI), serta pengembangan properti dan infrastruktur, termasuk kawasan Bumi Serpong Damai (BSD).

Kolaborasi antar pelaku usaha juga diperkuat melalui kemitraan antara Kadin Indonesia dan Kamar Dagang Korea (KCCI).

Airlangga menambahkan, kerja sama industri juga mencakup penguatan rantai pasok baterai dan investasi manufaktur teknologi, termasuk kelanjutan investasi dari POSCO serta penjajakan investasi dari Lotte Group yang membuka peluang keterlibatan sovereign wealth fund Indonesia, Danantara.

“Oleh-oleh” Kunjungan ke Jepang
Selain Korea Selatan, pemerintah juga mencatat hasil kunjungan Presiden ke Jepang yang menghasilkan sembilan MoU dengan nilai investasi mencapai 23,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 401 triliun.

Dengan demikian, total komitmen investasi dari dua negara tersebut mencapai sekitar Rp 574 triliun. Angka ini dinilai signifikan di tengah ketidakpastian global akibat dinamika geopolitik.

“Ini angka yang sangat besar. Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia tetap menjadi daya tarik bagi investor Jepang dan Korea,” kata Airlangga.

Ia menjelaskan, Jepang saat ini menempati posisi ketiga sebagai mitra investasi dan perdagangan Indonesia, sementara Korea Selatan berada di peringkat ketujuh.

Ke depan, kedua negara diharapkan tidak hanya berinvestasi, tetapi juga berperan sebagai mitra co-investor bersama Indonesia, terutama dengan keberadaan sovereign wealth fund nasional.

Dalam kesempatan tersebut, Airlangga juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan untuk memperkuat kerja sama investasi. Salah satu fokus utama adalah penyelesaian berbagai hambatan investasi (debottlenecking) yang dihadapi investor Korea di Indonesia.

Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan langkah-langkah percepatan untuk memastikan berbagai kendala tersebut dapat diselesaikan.

“Kami siapkan mekanisme debottlenecking agar persoalan yang dihadapi dunia usaha bisa diselesaikan dengan cepat,” ujarnya.

Airlangga menegaskan, hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatan terus menunjukkan tren positif, baik di tingkat pemerintah maupun kerja sama antar pelaku usaha.

Hal ini juga diperkuat oleh pertemuan antara Presiden kedua negara yang berlangsung konstruktif dan produktif.(Sumber)