Hasil otopsi yang dilakukan dokter forensik Israel dan disiarkan media Israel menunjukkan pemimpin Hamas Yahya Sinwar tidak makan selama tiga hari sebelum dia dibunuh pada 16 Oktober.
Chen Kugel, direktur lembaga forensik nasional Israel, mengungkapkan bahwa salah satu jari Sinwar diamputasi untuk mendapatkan sampel DNA guna melakukan verifikasi karena ia sebelumnya pernah dipenjara dan memiliki catatan medis.
Kugel, seperti dilaporan Roya News, mengatakan bahwa Sinwar bertahan hidup selama beberapa jam sebelum meninggal karena luka tembak yang menyebabkan kerusakan otak parah. Setelah otopsi, jenazah Sinwar dilaporkan dipindahkan ke lokasi yang dirahasiakan, menurut laporan Israel.
Rincian yang terungkap dari otopsi telah memicu reaksi luas, dengan banyak yang mencatat hal itu membuktikan bahwa Israel telah melancarkan perang kelaparan di Gaza dan bahwa anggota Hamas tidak mencuri bantuan kemanusiaan atau makanan.
“Otopsi Sinwar mengungkapkan bahwa dia dan anak buahnya tidak makan selama 72 jam sebelum kematian mereka. Mematahkan mitos bahwa perlawanan mencuri bantuan. Sinwar masih mengalahkan Israel bahkan setelah dia mati syahid,” kata seorang pengguna media sosial di media sosial, mengutip The New Arab (TNA).
“…Saya pikir Hamas diduga ‘mencuri’ bantuan kemanusiaan?” kata yang lain.
Sinwar Tetap Berhubungan dengan Keluarga
Media Israel juga melaporkan bahwa istri dan anak-anak Sinwar telah menerima pesan tertulis darinya setidaknya sebulan sekali, atau setiap enam minggu. Laporan itu juga menambahkan bahwa Sinwar dibawa keluar dari sebuah rumah yang menjadi sasaran serangan Isarel beberapa bulan lalu melalui terowongan yang digali pejuang Hamas dan dipindahkan ke sebuah rumah aman sekitar satu kilometer jauhnya.
Dia dipindahkan lagi di lain waktu dan dipertemukan kembali dengan keponakannya, Ibrahim Mohammed Sinwar serta seorang pemimpin Brigade Izz Al-Din Qassam, Rafa’ Salama. Namun, ketika operasi Israel meluas, ketiganya dipisahkan di area yang berjarak beberapa puluh meter dari Kompleks Medis Nasser.
Sumber-sumber mengatakan kepada media Israel bahwa keponakannya menemaninya sepanjang perang di Jalur Gaza dan bahwa Sinwar telah tinggal di Rafah selama beberapa bulan, berpindah-pindah antara beberapa daerah.
Sumber tersebut menambahkan bahwa pesan terakhir Sinwar ditujukan kepada anggota keluarganya, di mana ia memberi tahu mereka tentang kematian keponakannya, Ibrahim, yang menemaninya. Pesan tersebut dilaporkan tiba dua hari setelah Sinwar terbunuh.
Israel hampir menangkap Sinwar sedikitnya lima kali sebelum ia terbunuh dalam operasi militer rutin di Rafah, harian pan-Arab milik Saudi Asharq Al-Awsat melaporkan Minggu (3/11/2024), mengutip sumber di dalam dan dekat dengan Hamas. Operasi dilakukan tiga kali Sinwar saat berada di atas tanah, dan dua kali di bawah tanah atau terowongan.
Dalam satu contoh, pasukan Israel hanya berjarak beberapa meter dari rumah tempat Sinwar bersembunyi di Blok G di Khan Younis, tempat ia siap menghadapi kemungkinan serangan Israel.
Pada saat-saat terakhir hidupnya, Sinwar terekam pesawat tak berawak sesuai video dari militer Israel, melemparkan tongkat kayu ke UAV (pesawat nirawak) yang melayang di atasnya sebelum terbunuh pada 16 Oktober.
Dia mengenakan pakaian militer, keffiyeh, dan membawa pistol untuk melawan tentara Israel di saat-saat terakhirnya, kontras dengan informasi yang disebarkan Israel bahwa dia tinggal di bawah tanah dan dikelilingi perisai manusia.
Sinwar diangkat menjadi kepala Hamas setelah pembunuhan Ismail Haniyeh di Teheran pada Juli dan menjadi musuh nomor 1 Israel setelah perannya dalam mengarahkan serangan kelompok itu pada 7 Oktober 2023 di Israel selatan.
Kehidupannya telah diselimuti misteri selama bertahun-tahun. Ia menghabiskan lebih dari dua dekade di penjara Israel, belajar bahasa Ibrani dengan lancar, dan memegang jabatan militer tinggi di Hamas.
(Sumber)





