Politiknesia.com

Kepala Badan Intelijen Pentagon, Jenderal Jeffrey Kruse Dipecat Mendadak, Ada Apa?

Badai di Pentagon kembali berembus kencang. Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth secara mendadak memecat Kepala Badan Intelijen Pertahanan (DIA) Letnan Jenderal Jeffrey Kruse. Dua pejabat militer senior lainnya juga ikut tumbang.

Tindakan ini, menurut sumber Reuters yang dikutip Sabtu (23/8/2025), adalah bagian dari ‘pembersihan’ besar-besaran yang kembali dilakukan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump.

Hingga kini, alasan pemecatan Kruse belum jelas. Namun, kabar yang beredar mengaitkannya dengan bocornya laporan DIA tentang serangan udara AS di Iran. Laporan itu menyebut program nuklir Teheran hanya mundur beberapa bulan, sebuah fakta yang bertentangan dengan klaim Trump bahwa target ‘dihancurkan total’.

Trump murka. Ia menyebut laporan itu ‘sepenuhnya salah’ dan menyerang media yang memberitakannya. Pemecatan ini seolah menjadi pesan keras bagi siapa pun yang tidak sejalan dengan narasi Gedung Putih.

Senator Mark Warner bahkan menyebut langkah ini sebagai ‘kebiasaan berbahaya’. Ia menilai Trump memperlakukan intelijen sebagai ‘tes loyalitas’ ketimbang ‘benteng keamanan negara’.

Pembersihan Massal ala Trump

Aksi pemecatan pejabat keamanan bukan hal baru di era Trump. Sebelumnya, Direktur Badan Keamanan Nasional (NSA) Jenderal Timothy Haugh juga dicopot dari jabatannya. Jenderal Angkatan Udara, CQ Brown, bahkan mengundurkan diri lebih cepat dari masa jabatannya.

Pemerintahan Trump berdalih, pembersihan ini bertujuan memangkas birokrasi, menghemat anggaran, dan menghukum ‘politisasi’ intelijen. Namun, di sisi lain, kebijakan ini menimbulkan kegelisahan. Sejumlah pejabat tinggi, termasuk mantan Presiden Joe Biden dan eks Wakil Presiden Kamala Harris, telah dicabut izin keamanannya atas perintah Trump.

Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard juga mengumumkan reformasi besar dengan memangkas lebih dari 40 persen stafnya. Tujuannya, menghemat US$700 juta per tahun.

Namun, di balik angka-angka itu, muncul pertanyaan besar: apakah ini demi efisiensi, ataukah demi mengendalikan penuh aparatur intelijen demi kepentingan politik semata? {sbr}