Politiknesia.com

Trump Murka PM Inggris Keir Starmer Ogah Bantu AS Lawan Iran: Hubungan Kita Tak Lagi Seperti Dulu!

Ketegangan di Timur Tengah nyatanya tak hanya memicu baku hantam rudal di medan tempur, tetapi juga meretakkan fondasi diplomasi Barat. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka meluapkan kemarahannya kepada Perdana Menteri (PM) Inggris Keir Starmer. Pemicunya? Keengganan London untuk turun tangan membantu Washington dalam palagan melawan Iran.

Trump, dengan gaya bicaranya yang tanpa basa-basi, menyebut bahwa ‘hubungan spesial’ (special relationship) yang selama ini menjadi kebanggaan kedua negara kini tinggal kenangan.

“Dia tidak membantu. Saya tidak pernah menyangka akan melihat hal seperti itu dari Inggris,” ujar Trump dengan nada kecewa, sebagaimana dikutip dari AFP, Selasa (3/3/2026).

Menurut Trump, sikap dingin yang ditunjukkan Starmer telah mengubah peta persahabatan kedua negara. “Sangat menyedihkan melihat hubungan itu jelas tidak seperti dulu lagi,” sambungnya.

Meski merasa dikhianati oleh aliansi yang dulunya paling solid, Trump tetap menunjukkan kecongkakannya. Ia menegaskan bahwa tanpa dukungan militer Inggris sekalipun, mesin perang Amerika tidak akan goyah. Absennya jet-jet tempur Inggris diklaimnya tidak akan memengaruhi hasil akhir peperangan di Timur Tengah.

“Itu tidak akan berpengaruh, tetapi (Starmer) seharusnya membantu,” cetus sang presiden.

Perselisihan ini sebenarnya berakar dari drama perizinan pangkalan udara. Inggris sempat ‘bermain aman’ dengan menunda izin penggunaan pangkalan udaranya bagi militer AS. Meski akhirnya restu diberikan, bagi Trump, keputusan itu sudah telat. Momentum serangan dianggap sudah terhambat oleh birokrasi London yang lamban.

Trauma Irak dan Bayang-Bayang Tony Blair
Sikap hati-hati Keir Starmer bukannya tanpa alasan kuat. Bagi publik Inggris, terlibat dalam perang di Timur Tengah adalah isu yang sangat sensitif—bahkan traumatis. Publik Inggris masih ingat betul bagaimana dukungan membabi buta mantan PM Tony Blair pada invasi Irak tahun 2003 berujung pada bencana panjang. Starmer tak ingin mengulang dosa sejarah yang sama.

Di hadapan parlemen pada Senin (2/3/2026), Starmer memberikan jawaban telak atas kecaman Trump. Ia menegaskan bahwa kedaulatan Inggris dalam mengambil keputusan tidak bisa diintervensi oleh siapa pun, termasuk oleh sekutu terdekatnya.

“Adalah tugas saya untuk menilai apa yang sesuai dengan kepentingan nasional Inggris. Itulah yang telah saya lakukan dan saya tetap teguh pada pendirian saya,” tegas Starmer di House of Commons.

Ironi Serangan Akrotiri
Meski Inggris mencoba ‘cuci tangan’ dari serangan awal, nyatanya mereka tak bisa benar-benar luput dari sasaran. Pangkalan Angkatan Udara Akrotiri milik Inggris di Siprus justru dihantam pesawat nirawak (drone) Iran pada Senin pagi. Landasan pacunya rusak, meski tidak ada laporan korban jiwa.

Starmer menilai serangan Iran tersebut sebagai tindakan yang semakin gegabah dan berbahaya. Menurutnya, Teheran kini bergerak tanpa ampun dengan menyasar target ekonomi dan militer tanpa memedulikan keselamatan sipil.

Perseteruan Trump dan Starmer ini menjadi sinyal kuat bahwa di tengah ancaman perang besar, solidaritas Barat ternyata tidak lagi sepadu dulu. Kepentingan nasional kini menjadi tembok tebal yang bahkan sulit ditembus oleh hubungan diplomatik berumur puluhan tahun.(Sumber)