Sebuah rahasia besar di balik kecamuk perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meletus sejak 28 Februari lalu akhirnya terbongkar ke publik. Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan sempat melancarkan diplomasi bawah tanah untuk membujuk Arab Saudi dan Qatar agar sudi angkat senjata bersama-sama menggempur wilayah Iran.
Laporan yang dirilis oleh media Inggris, The Telegraph, Senin (18/5/2026), mengungkapkan bahwa Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan turun tangan langsung merayu Riyadh dan Doha pada masa-masa awal perang.
Langkah nekat Abu Dhabi ini dipicu oleh kepanikan lantaran wilayah mereka ikut menjadi sansak eksploitasi rudal-rudal balistik Iran. Sebagai negara yang menampung berbagai pangkalan militer dan situs strategis milik Pentagon, UEA otomatis berada di garis depan perimeter target serangan balasan Teheran. Namun, upaya provokasi UEA tersebut berujung kegagalan total setelah Saudi dan Qatar memilih emoh terlibat.
Serangan Udara Senyap dan Mesranya Abu Dhabi-Tel Aviv
Meski ajakan koalisinya bertepuk sebelah tangan, UEA tetap bergerak sendiri. Pada awal April, Abu Dhabi disebut-sebut nekat meluncurkan serangan udara mandiri yang menghantam beberapa target vital di dalam teritorial Iran, termasuk kawasan Pulau Lavan. Kendati demikian, operasional militer senyap ini tidak pernah dikonfirmasi secara resmi oleh pihak UEA.
Di sisi lain, Arab Saudi sebenarnya juga tidak tinggal diam. Riyadh dilaporkan turut meluncurkan ‘banyak’ serangan udara ke wilayah Iran pada akhir Maret, namun dengan kalkulasi politik yang jauh lebih tertutup.
Menariknya, di saat mayoritas negara Arab memilih menjaga jarak aman dengan AS dan Israel demi menghindari hujan rudal susulan dari Teheran, UEA justru melakukan manuver sebaliknya. Hubungan diplomatik Abu Dhabi dan Israel yang sejatinya telah dinormalisasi lewat Abraham Accords pada 2020 lalu, terpantau merangkak semakin mesra selama perang AS-Iran berkecamuk.
Keintiman ini dibuktikan dengan dikirimnya sistem pertahanan udara kebanggaan Tel Aviv, Iron Dome, ke wilayah UEA guna menangkal gempuran proyektil Iran. Tak hanya itu, Kantor Perdana Menteri Israel belakangan membocorkan bahwa PM Benjamin Netanyahu sempat melakukan kunjungan rahasia ke Abu Dhabi pada Maret lalu, tepat ketika perang baru saja pecah. Kunjungan itu pula yang menjawab misteri hilangnya Netanyahu dari ruang publik tanpa terlacak pada waktu itu.
Meski Tel Aviv mengeklaim kunjungan tersebut menghasilkan ‘terobosan signifikan’, pihak Abu Dhabi langsung mengeluarkan bantahan keras dan menegaskan bahwa pertemuan itu tidak pernah ada.
Poros Baru dan Tudingan Pengkhianatan
Buntut dari bocornya rangkaian manuver tersebut, lini komando di Teheran langsung meradang. Pekan ini, Pemerintah Iran secara resmi mencap UEA sebagai ‘pengkhianat’ dunia Islam dan melabeli Abu Dhabi sebagai mitra aktif dalam agenda agresi AS-Israel.
Gretakan itu langsung dibalas sengit oleh UEA. Abu Dhabi menyatakan menolak keras segala upaya Iran untuk membenarkan tindakan terornya, sekaligus menegaskan bahwa mereka memiliki hak kedaulatan penuh di bidang hukum, diplomatik, hingga militer untuk menyapu bersih setiap ancaman.
Peneliti dari lembaga kajian pertahanan terkemuka Royal United Services Institute (RUSI), Dr. Burcu Ozcelik, menilai perang ini telah mempercepat terbentuknya poros baru yang sangat solid: AS-Israel-UEA.
“Ketika negara-negara Arab lainnya menumpahkan kemarahan kepada Washington karena memulai perang mahal yang tidak mereka inginkan, UEA justru memilih untuk semakin memperkuat cengkeraman hubungannya dengan AS dan Israel,” analisis Dr. Ozcelik.
Pandangan ini diperkuat oleh pernyataan penasihat presiden UEA, Anwar Gargash, pada April lalu. Dengan nada optimistis, Gargash menyebut bahwa rentetan serangan dari Iran justru akan semakin memperkokoh eksistensi militer Amerika Serikat serta membuat pengaruh Israel menjadi jauh lebih menonjol di kawasan Teluk Persia.
Perpecahan Sengit di Internal Negara Arab
Sikap ekstrem UEA ini pada akhirnya mempertegas jurang perpecahan di antara sesama negara Arab. Para pejabat di Abu Dhabi dilaporkan mulai memandang sinis tetangga-tetangganya. Mereka mengeluhkan minimnya solidaritas regional serta lemahnya respons yang ditunjukkan oleh organisasi kawasan seperti Liga Arab dan Gulf Cooperation Council (GCC) selama perang berlangsung.
Kekecewaan UEA bahkan merembet hingga ke Islamabad. Pakistan, negara yang selama bertahun-tahun kerap disuntik bantuan finansial jumbo oleh UEA, dinilai terlalu lembek dan cari aman dalam bersikap terhadap Teheran.
Kendati demikian, Dr. Ozcelik mengingatkan ada harga mahal yang harus dibayar oleh Abu Dhabi atas poros barunya ini. Kedekatan militer yang terlalu intim dengan Israel berisiko membuat UEA diisolasi secara politik oleh negara-negara Arab lain, yang bisa saja memandang Abu Dhabi ikut terlibat dalam menyokong kampanye militer kontroversial Israel di Gaza.
Sementara bagi Israel, sekutu barunya ini juga berpotensi menjadi beban berat, terutama karena Tel Aviv terancam ikut terseret ke dalam pusaran kontroversi intervensi regional UEA yang saat ini tengah dituduh mendanai kelompok pemberontak Rapid Support Forces (RSF) di tengah perang saudara Sudan(Sumber)





