Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri perhiasan nasional tetap memiliki prospek yang baik. Menurutnya, kenaikan harga logam mulia tidak menggeser peran industri perhiasan sebagai salah satu sektor strategis.
Agus menilai perhiasan tetap memiliki daya tarik bagi masyarakat. Produk tersebut tidak hanya berfungsi sebagai instrumen investasi, tetapi juga sebagai aksesori dan koleksi.
“Tren lonjakan harga logam mulia memang menggiurkan sebagai aset investasi. Namun, jika dilihat lebih luas, sampai kapan pun masyarakat akan tetap membeli perhiasan emas, perak, batu mulia, dan batu permata,” ujar Agus dalam keterangannya yang dikutip RRI, Senin, 1 Juni 2026.
Agus mengungkapkan industri perhiasan masih memberikan kontribusi besar terhadap neraca perdagangan Indonesia. Hal itu terlihat dari pertumbuhan nilai ekspor barang perhiasan dan barang berharga sepanjang 2025.
Nilai ekspor kumulatif barang perhiasan dan barang berharga mencapai USD9,1 miliar pada 2025. Angka tersebut meningkat dari USD5,5 miliar pada 2024.
“Industri perhiasan masih memberikan kontribusi yang besar bagi neraca perdagangan Indonesia. Terlihat dari nilai ekspor kumulatif barang perhiasan dan barang berharga yang tumbuh signifikan 64,72 persen pada 2025,” kata Agus.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian Reni Yanita mengatakan mayoritas pelaku IKM perhiasan tetap fokus memproduksi perhiasan. Menurutnya, sektor tersebut masih memiliki pasar yang kuat di dalam dan luar negeri.
Berdasarkan data BPS dan SIINas, terdapat 539 unit usaha industri perhiasan di Indonesia. Sektor tersebut juga menyerap 21.116 tenaga kerja di berbagai daerah.
Direktur Industri Aneka Ditjen IKMA Kementerian Perindustrian Reny Meilany mengatakan masyarakat masih memiliki banyak pilihan investasi melalui perhiasan emas. Pilihan tersebut tersedia dalam berbagai kadar dan gramasi yang lebih beragam.
Menurut Reny, perhiasan dengan kadar dan gramasi kecil tetap diminati konsumen lokal. Selain sebagai aksesori, produk tersebut juga menjadi salah satu bentuk investasi.
“Bagi konsumen lokal, emas perhiasan dengan karat dan gramasi kecil serta desain yang menarik tetap bisa menjadi simpanan favorit. Sekaligus sebagai bentuk investasi,” ujar Reny.
Direktur Utama PT Untung Bersama Sejahtera (UBS) Eddy Yahya mengatakan tidak semua pelaku industri siap masuk ke bisnis logam mulia. Menurutnya, sektor tersebut membutuhkan branding yang kuat dan jaminan keamanan produk.
Eddy menjelaskan harga bahan baku logam mulia berubah hampir setiap hari. Karena itu, pelaku usaha perlu mempertimbangkan berbagai risiko sebelum melakukan ekspansi usaha.
“Pengusaha tidak bisa sembarangan melakukan perluasan usaha. Harga bahan baku berubah hampir setiap hari, sementara itu konsumen cenderung memilih produk dengan kadar emas atau gramasi lebih ringan agar lebih efisien,” katanya.(Sumber)





