Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), Dr Wihaji, menegaskan bahwa keluarga dan sekolah merupakan dua pilar utama dalam membangun masa depan bangsa.
Karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi, guru, dan pemerintah menjadi langkah strategis untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Hal itu disampaikan Wihaji pada orasi ilmiah pengukuhan 3.167 guru profesional Pendidikan Profesi Guru (PPG) Dalam Jabatan Batch 4 Tahun 2025 Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga, di Auditorium Student Center Prof Dr H Achmadi Kampus 3 UIN Salatiga, Sabtu (20/6).
Bersamaan itu dilaksanakan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) Kemendukbangga/BKKBN dan UIN Salatiga.
“Keluarga dan sekolah adalah dua sisi dari satu koin yang sama. Bangsa ini tidak akan pernah bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045 jika kedua pilar tersebut berjalan sendiri-sendiri,” kata Wihaji.
Menurut alumnus UIN Salatiga tersebut, kerja sama itu membuka ruang integrasi
memperkuat program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) melalui jalur pendidikan, serta pengabdian kepada masyarakat.
“Melalui MoU ini, program Bangga Kencana akan diintegrasikan ke dalam jalur pendidikan. Guru harus menjadi jembatan komunikasi yang aktif dengan orang tua murid agar anak-anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang bahagia,” tegasnya.
Dalam orasi ilmiah, Wihaji juga menyoroti tantangan besar yang dihadapi guru pada era digital.
Selain bertugas menyampaikan ilmu pengetahuan, guru kini harus menghadapi berbagai persoalan sosial yang memengaruhi perkembangan anak, mulai dari judi online, pornografi, perundungan siber hingga menurunnya kualitas komunikasi dalam keluarga.
Ia menegaskan bahwa di tengah kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan, peran guru tetap tidak tergantikan dalam membentuk karakter dan nilai-nilai kehidupan peserta didik.
“Untuk transfer of knowledge, anak-anak bisa memanfaatkan AI atau Google. Namun tugas utama guru hari ini adalah transfer of values, yaitu menanamkan karakter, moral, dan spiritualitas,” katanya.
Sementara itu, Rektor UIN Salatiga, Prof Zakiyuddin, mengatakan penguatan hubungan antara keluarga, sekolah, dan perguruan tinggi menjadi kebutuhan mendesak dalam menghadapi tantangan pendidikan masa depan.
“Generasi emas di sekolah harus tetap ditopang oleh keluarga yang kokoh, dan guru profesional adalah jembatan utamanya,” ujar Zakiyuddin.
Adapun, Direktur Pendidikan Agama Islam Kementerian Agama RI, M. Munir, menegaskan bahwa sertifikat pendidik bukan sekadar dokumen administratif, melainkan simbol tanggung jawab moral seorang guru di tengah masyarakat.
“Guru agama dan madrasah harus menguasai konten keilmuan secara mendalam sekaligus adaptif terhadap perkembangan teknologi. Sertifikat ini adalah legitimasi kompetensi di tengah masyarakat,” tegasnya.
Di tempat yang sama Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Salatiga, Prof Rasimin, menyebut keberhasilan ribuan peserta tersebut menunjukkan tingginya komitmen para pendidik untuk terus meningkatkan profesionalisme.
“Dedikasi menjadi pendidik profesional tidak mengenal batas usia,” ujarnya.(Sumber)





