Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia TB Ace Hasan Syadzily menegaskan capaian swasembada beras nasional harus dijaga dan ditingkatkan secara berkelanjutan. Menurutnya, ketahanan pangan menjadi salah satu fondasi utama dalam menjaga ketahanan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Hal itu disampaikan Ace saat membuka Seminar Nasional Pendidikan Penyiapan dan Pemantapan Pimpinan Nasional (P4N) Angkatan 69 Tahun 2026 di Gedung Pancagatra Lemhannas RI, Jakarta, Kamis (2/7/2026).
Seminar mengusung tema Membangun Kedaulatan Pangan Nasional Melalui Tata Kelola, Inovasi Teknologi Pertanian, dan Human Capital Dalam Rangka Menghadapi Dinamika Geopolitik Global.
“Kami mendorong tema seminar nasional ini karena sektor pangan merupakan elemen yang sangat strategis dan paling fundamental bagi bangsa kita, bahkan bagi dunia pada saat kita sedang menghadapi ketidakpastian global. Bapak Presiden Prabowo Subianto selalu memberikan arahan yang tegas terkait ketahanan pangan ini,” kata Ace.
Dalam sambutannya, Ace mengapresiasi keberhasilan pemerintah mencapai swasembada beras pada 2025. Produksi beras nasional tercatat mencapai 34,71 juta ton atau meningkat 13,36 persen dibandingkan 2024. Capaian tersebut menghasilkan surplus sekitar 3,52 juta ton sehingga Indonesia tidak lagi mengimpor beras untuk konsumsi umum sepanjang 2025.
Selain itu, stok cadangan beras pemerintah juga mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah, yakni sekitar 4,2 juta ton dan berada di kisaran 3,2 juta ton pada awal 2026.
“Kita patut bersyukur dan memberikan apresiasi kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto atas capaian swasembada beras yang telah diraih tahun 2025,” ujarnya.
Ace mengatakan, keberhasilan tersebut harus dijaga melalui penguatan berbagai kebijakan di sektor pertanian agar mampu menghadapi tantangan di masa depan.
Karena itu, seminar P4N 69 membahas tiga aspek utama yang dinilai menjadi kunci keberlanjutan swasembada pangan.
Pertama, penguatan tata kelola pertanian yang efektif. Kedua, inovasi teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas di tengah keterbatasan lahan dan dampak perubahan iklim. Ketiga, penguatan sumber daya manusia pertanian sebagai penopang keberlanjutan sektor pangan.
“Dalam seminar ini kita akan membahas tiga aspek penting untuk memastikan keberlanjutan pencapaian swasembada pangan kita, yaitu tata kelola pertanian, inovasi teknologi pertanian, dan human capital atau SDM pertanian,” jelas Ace.
Seminar juga membahas langkah-langkah strategis menghadapi potensi penguatan fenomena El Nino yang diperkirakan dapat memicu musim kemarau berkepanjangan dan berdampak terhadap produksi pangan nasional.
Ace berharap berbagai pandangan yang disampaikan para narasumber mampu menghasilkan rekomendasi konkret dan aplikatif untuk memperkuat kedaulatan pangan Indonesia.
“Kami berharap para peserta mampu menghimpun berbagai gagasan dan berpikir kreatif dalam merumuskan solusi untuk membangun kedaulatan pangan nasional,” katanya.
Seminar menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan sebagai pembicara kunci, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Wakil Menteri ATR/BPN Ossy Dermawan, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Teuku Faisal Fathani, Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi, serta sejumlah akademisi dan petani milenial.(Sumber)





