Anggota Komisi X Fraksi Partai Golkar DPR RI Adela Kanasya menegaskan Festival Banjari Tingkat Nasional harus menjadi ruang strategis untuk melestarikan seni budaya Islam sekaligus memperkuat kecintaan generasi muda terhadap tradisi keislaman yang menjadi bagian dari identitas bangsa.
Pernyataan tersebut disampaikan Adela usai membuka Festival Banjari Tingkat Nasional yang digelar di Desa Juwet Kenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jumat (17/7/2026). Festival tersebut merupakan rangkaian Haul Mbah Kalam dan terselenggara melalui kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan RI, Adela Kanasya, serta Pimpinan Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Desa Juwet Kenongo.
Kegiatan pembukaan dihadiri Perwakilan Kementerian Kebudayaan RI Insan Abdirahman, Ketua PCNU Sidoarjo Zainal Arifin, jajaran Muslimat NU Sidoarjo, Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo Adiel Kanantha, tokoh agama, dan masyarakat setempat.
Usai pembukaan, seluruh tamu undangan mengikuti doa bersama dan berziarah ke makam Mbah Kalam sebagai bentuk penghormatan kepada ulama yang dikenal berjasa dalam penyebaran Islam di wilayah Porong dan sekitarnya.
Adela mengatakan, Festival Banjari bukan sekadar perlombaan seni religi, tetapi menjadi media untuk menjaga warisan budaya Islam Nusantara agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
“Festival Banjari resmi kami buka pada Jumat kemarin. Festival ini menjadi ruang untuk merawat tradisi, memperkuat kecintaan generasi muda terhadap seni Islami, sekaligus melestarikan budaya yang menjadi bagian dari identitas bangsa. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat seperti ini harus terus diperkuat agar warisan budaya tetap lestari dan mampu berkembang mengikuti zaman,” ujar Adela, Minggu (19/7/2026).
Politisi muda Partai Golkar tersebut menilai keterlibatan Kementerian Kebudayaan menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menyasar kesenian tradisional, tetapi juga seni bernuansa religius yang telah berkembang di tengah masyarakat.
Menurutnya, seni Banjari memiliki nilai lebih karena menjadi sarana dakwah sekaligus media pendidikan karakter.
“Banjari bukan sekadar seni musik religi, tetapi juga media dakwah yang mengajarkan nilai-nilai kebersamaan, cinta kepada Rasulullah SAW, dan akhlak mulia. Karena itu, negara perlu hadir memberikan ruang dan dukungan agar kesenian seperti ini terus hidup, berkembang, dan diwariskan kepada generasi penerus sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia,” katanya.
Adela berharap Festival Banjari Tingkat Nasional dapat menjadi agenda rutin yang mampu melahirkan generasi muda yang mencintai seni Islami sekaligus memiliki karakter kebangsaan yang kuat.
“Saya berharap festival seperti ini terus digelar secara berkelanjutan. Dengan begitu, semakin banyak generasi muda yang mencintai seni Islami, memahami nilai-nilai keislaman, serta memiliki semangat kebangsaan yang kuat. Seni banjari bukan hanya tentang melestarikan tradisi, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter dan memperkuat persatuan bangsa,” tuturnya.
Selain menghadiri pembukaan Festival Banjari, Adela juga melanjutkan agenda silaturahmi politik di daerah pemilihannya dengan mengunjungi DPD Partai Golkar Kabupaten Sidoarjo dan DPD Partai Golkar Kota Surabaya. Dalam kunjungan tersebut, ia berdialog dengan pengurus partai sekaligus menyerap berbagai aspirasi masyarakat di Daerah Pemilihan (Dapil) I Jawa Timur yang meliputi Kabupaten Sidoarjo dan Kota Surabaya.
Menurut Adela, komunikasi langsung dengan masyarakat menjadi bagian penting dari tugas anggota DPR RI untuk memastikan setiap aspirasi dapat diperjuangkan dalam pembahasan kebijakan di tingkat nasional. {golkarpedia}





