Politiknesia.com

Presiden Prabowo Subianto, Program MBG dan Visi Masa Depan Anak Negeri

 

Dalam diskusi interaktif Radio Elshinta, saya berbicara mengenai masa depan Program Makan Bergizi Gratis setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan agar anggaran MBG dipisahkan dari anggaran pendidikan. Putusan itu tentu harus kita hormati.

Pemerintah pasti memiliki jalan terbaik untuk menata kembali sumber pembiayaannya agar program ini terus berjalan tanpa mengurangi kebutuhan penting lainnya dalam dunia pendidikan.

Satu hal harus kita pahami bersama bahwa anak Indonesia membutuhkan pendidikan yang baik, guru yang berkualitas, buku yang cukup, sekolah yang layak dan makanan bergizi agar tubuh serta pikirannya dapat tumbuh dengan sehat. Kita tidak perlu mempertentangkan makanan dengan pendidikan, karena keduanya sama-sama menentukan masa depan anak negeri.

Saya sangat memahami arti program MBG bagi anak-anak dari keluarga miskin dan tidak mampu. Saya lahir di Fakfak, sebuah daerah yang sangat jauh dari Jakarta, tumbuh dari keluarga sederhana. Ketika pergi ke sekolah, sarapan pagi merupakan kemewahan yang tidak selalu dapat kami rasakan.

Saya pernah menjadi anak sekolah yang duduk di kelas dengan perut kosong. Tubuh berada di sekolah, tetapi pikiran sulit menerima pelajaran karena rasa lapar terus berkecamuk di perut.

Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto menghadirkan Program Makan Bergizi Gratis, saya melihatnya lebih dari sekadar program pemerintah. Saya melihat tangan negara menjangkau anak-anak yang selama ini menjalani pengalaman hidup seperti yang pernah saya alami.

Orang yang setiap pagi dapat memilih menu sarapan mungkin sulit memahami betapa berharganya sepiring makanan bagi seorang anak. Namun bagi anak-anak di kampung, daerah terpencil, wilayah perbatasan dan tanah Papua, makanan yang disediakan di sekolah dapat menjadi sesuatu yang mereka tunggu setiap hari.

“Banyak komentar mengenai MBG justru datang dari orang-orang yang mungkin belum pernah merasakan laparnya perut ketika sedang bersekolah.”

Kita terlalu mudah memperdebatkan angka ketika hidup kita telah cukup. Kita mudah berbicara soal efisiensi saat anak-anak kita tidak pernah berangkat sekolah dalam keadaan lapar.

Kita bahkan dapat mencibir satu porsi makanan karena kita tidak pernah berada dalam posisi harus memilih siapa di dalam keluarga yang boleh makan lebih dahulu. Pilihan masyarakat bukan makan atau tidak makan, tapi apa yang mereka suka atau yang tidak suka.

Ada seorang sahabat yang menceritakan masa lalunya. itu kemudian menceritakan pengalaman hidupnya. Setelah ayahnya mengalami kebangkrutan, keluarganya hanya dapat makan satu kali dalam sehari.

Makanan yang sedikit harus lebih dahulu cukup untuk ibu dan adik-adik perempuannya. Anak-anak laki-laki dalam keluarga itu mulai bekerja sejak SMP dan SMA agar kehidupan mereka tetap berjalan.

Keluarga itu berjuang selama bertahun-tahun. Perlahan keadaan mereka membaik. Tiga dari empat bersaudara akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana. Anak yang paling kecil mampu membangun usahanya sendiri meskipun hanya menyelesaikan pendidikan sampai SMA.

Pengalaman seperti inilah yang membuat kita memahami satu perkara penting. Orang yang pernah merasakan lapar tidak akan mudah meremehkan sepiring makanan. Orang yang pernah hidup dalam kesusahan akan mengerti bahwa perhatian negara dapat mengubah arah kehidupan sebuah keluarga.

Presiden Prabowo Subianto memahami persoalan ini. Beliau memilih menjalankan kebijakan yang mungkin lebih mudah diperdebatkan oleh kaum elite daripada dirasakan oleh mereka yang hidup serba cukup. Namun bagi jutaan keluarga miskin, MBG memberi pesan bahwa negara melihat mereka, mendengar kesulitan mereka dan tidak membiarkan anak-anak mereka belajar dengan perut kosong.

Inilah keberanian seorang pemimpin. Presiden tidak hanya menghitung popularitas jangka pendek. Presiden memikirkan generasi yang akan hidup jauh setelah masa pemerintahannya selesai. Anak-anak yang hari ini memperoleh makanan bergizi akan tumbuh menjadi generasi Indonesia pada masa mendatang.

Program sebesar MBG tentu harus terus diperbaiki. Pengawasan wajib diperketat. Penambahan dapur mesti difokuskan di Papua ketimbang tempat lain yang sudah ramai. Kualitas makanan harus dijaga.

Perhatian khusus harus diberikan kepada wilayah tertinggal, terdepan dan terluar, termasuk Fakfak dan daerah-daerah lain di tanah Papua. Data terbaru menunjukkan bahwa dari 27.469 dapur MBG yang tersebar di seluruh Indonesia, hanya sekitar satu persen yang berada di wilayah Papua. Jumlah tersebut belum sebanding dengan luas wilayah, beratnya medan serta besarnya persoalan gizi yang masih dihadapi anak-anak Papua.

Kondisi Mamberamo Raya harus menjadi perhatian serius. Salah satu wilayah dengan tingkat stunting tertinggi di Papua itu bahkan belum memiliki dapur MBG yang beroperasi. Jangan sampai anak-anak yang paling membutuhkan justru menjadi kelompok yang paling akhir menerima manfaat hanya karena mereka tinggal jauh dari pusat kota dan sulit dijangkau.

Saya menyambut baik keputusan pemerintah yang kini menempatkan Papua dan Papua Pegunungan sebagai wilayah prioritas dalam percepatan pembangunan dapur MBG. Kebijakan tersebut harus segera diwujudkan sampai ke Fakfak dan seluruh wilayah 3T lainnya. Pembangunan dapur harus mengikuti besarnya kebutuhan masyarakat, jangan hanya berkumpul di daerah yang paling mudah dijangkau. Negara harus lebih dahulu hadir di tempat yang paling jauh dan paling membutuhkan.

Penyalurannya harus tepat sasaran dan setiap rupiah anggarannya wajib dipertanggungjawabkan. Dukungan kepada program ini tidak berarti kita menutup mata terhadap kekurangan. Justru karena program ini sangat penting, tata kelolanya harus semakin baik.

Putusan MK seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk memperkuat dasar anggaran MBG. Pendidikan tetap memperoleh dukungan yang layak, sementara Program Makan Bergizi Gratis mendapatkan sumber pembiayaan yang jelas, kuat dan berkelanjutan.

Jangan sampai kita memaksa bangsa ini memilih antara isi kepala dan isi perut anak-anaknya. Negara sebesar Indonesia harus mampu mencerdaskan sekaligus menyehatkan generasinya.

Sekolah yang baik akan kehilangan banyak makna apabila anak datang dalam keadaan lapar. Makanan bergizi juga harus diikuti dengan pembelajaran bermutu agar anak memiliki masa depan yang lebih baik.

Saya percaya Presiden Prabowo menjalankan program ini dengan ketulusan untuk mengurus rakyat miskin dan tidak mampu. Beliau telah selesai dengan banyak urusan pribadinya. Kini tenaga, pikiran dan keberaniannya diberikan untuk mengurus republik yang indah ini, negeri yang saya sebut sebagai patahan surga yang jatuh ke bumi.

Indonesia merupakan negara yang penuh berkah. Dalam setiap masa yang sulit, Tuhan selalu menghadirkan orang-orang yang bersedia mengambil tanggung jawab besar. Mereka datang membawa keberanian, bekerja dengan hati dan memikirkan nasib rakyat yang jauh dari pusat kekuasaan.

Saya percaya Tuhan tidak pernah tidur. Dia selalu hadir pada waktu yang tepat. Pertolongan-Nya dapat datang melalui seorang guru, melalui orang tua yang bekerja tanpa mengenal lelah, melalui makanan yang diberikan kepada seorang anak, dan melalui kebijakan negara yang dibuat dengan hati yang tulus.

MBG harus terus berjalan. Pendidikan harus terus diperkuat. Keduanya merupakan investasi bagi anak-anak negeri yang kelak menerima estafet kepemimpinan bangsa.

Presiden Prabowo sedang menanam sesuatu yang hasilnya mungkin baru kita lihat bertahun-tahun kemudian. Ketika anak-anak dari Papua, Maluku, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Sumatra dan seluruh pelosok Indonesia tumbuh sehat, cerdas serta percaya diri, saat itulah kita memahami bahwa sepiring makanan yang diberikan hari ini ternyata ikut menentukan masa depan Indonesia.

Prof. Dr. Ali Mochtar Ngabalin, M. Si
– Guru Besar Busan University of Foreign Studies (BUFS) Korea Selatan 2024 hingga sekarang
– Ketua DPP Partai Golkar Bidang Kebijakan Luar Negeri dan Hubungan Internasional 2024-2029