Negara kecil di belahan utara Pulau Kalimantan itu tak banyak membuat keributan di panggung dunia. Namun Brunei Darussalam, meski kecil diam-diam memancarkan wibawa dan keanggunan. Negara ‘kaya tapi kalem’, hidup tenang, makmur berkat limpahan minyak dan gas, serta spiritualitas yang menyelimuti langitnya dengan gema adzan dari ribuan masjid megah.
Brunei merupakan negeri petro dolar hasil dari kekayaan perut buminya sehingga menjadikan top-tier se-Asia Tenggara. Dengan kekayaan negara yang berlimpah, warganya pun ikut menikmati harga BBM yang rendah, jalanan mulus, dan masjid berdiri anggun di hampir setiap sudut kota.
Negeri pimpinan Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’Izzaddin Waddaulah Ibni Al-Marhum Sultan Haji Omar ‘Ali Saifuddien Sa’adul Khairi Waddien ini tak hanya berlimpah materi tetapi juga kaya akan nilai-nilai Islam. Hal ini tampak dari banyak masjid dengan keindahan arsitektur, bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol kemegahan spiritual dan kebudayaan.
Di kejauhan, menara-menara masjid menjulang megah, seolah berbisik kepada cakrawala bahwa negeri ini bukan hanya tentang kilang minyak, tapi juga tentang jejak-jejak spiritual yang mengakar dalam. Brunei Darussalam, negara yang tak hanya kaya secara materi, tetapi juga membungkus dirinya dengan kemegahan religius: negeri dengan seribu masjid.
Brunei memiliki luas 5.765 km persegi hampir mirip dengan Pulau Bali di Indonesia. Brunei termasuk urutan ke-12 daftar negara paling kaya di dunia dilihat dari produk domestik bruto (PDB) per kapita yang sebesar US$72.609, menempati urutan kedua di ASEAN setelah Singapura. Ini tak lepas dari kekayaan minyak yang menjadi tulang punggung ekonominya.
Namun alih-alih tenggelam dalam gemerlap harta, pemerintah Brunei mengalokasikan sebagian kekayaan itu untuk membangun dan memelihara ribuan masjid. Tak jarang, masjid-masjid baru dibangun dengan fasilitas canggih, AC sentral, sistem suara mutakhir, hingga perpustakaan dan pusat kajian Islam modern.
Masjid-masjid ini tidak hanya berdiri sebagai monumen kemegahan tetapi menjadi pusat kehidupan sosial. Di sinilah masyarakat berkumpul, berbagi, dan belajar. Anak-anak mengaji selepas Maghrib, pemuda berdiskusi selepas Isya, dan para sesepuh berbagi hikmah di antara rakaat. Dalam setiap takbir, terkandung harapan dan kekuatan spiritual.
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien: Ikon Keislaman Brunei
Salah satu permata spiritual Brunei adalah Masjid Sultan Omar Ali Saifuddien (SOAS). Berdiri megah di tengah ibu kota Bandar Seri Begawan, masjid ini seperti puisi yang menjelma bangunan. Kubah emasnya menyilaukan, laguna buatan mengelilinginya seperti cermin yang memantulkan langit, dan menaranya menjulang anggun ke angkasa.
Dibangun pada tahun 1958 oleh Sultan Omar Ali Saifuddien III, masjid ini dirancang oleh arsitek Italia, Cavaliere Rudolfo Nolli, yang menggabungkan elemen arsitektur Mughal, Italia, dan Islam Melayu. Masjid ini menonjol dengan kubah emasnya yang menjulang tinggi setinggi 52 meter, dan laguna buatan yang mengelilinginya, menciptakan kesan masjid ini seperti terapung yang menakjubkan. Interior masjid dihiasi dengan marmer Italia, kaca patri dari Inggris, dan karpet mewah dari Arab Saudi, mencerminkan kemewahan sekaligus kesucian.
Selain sebagai tempat ibadah, masjid ini juga menjadi lokasi utama untuk kegiatan keagamaan nasional dan simbol identitas nasional Brunei, mencerminkan kekuatan agama Islam sebagai pilar utama kehidupan masyarakat Brunei.
Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah: Simbol Kesultanan dan Keagungan
Masjid Jame’ Asr Hassanil Bolkiah adalah salah satu masjid terbesar dan termegah di Asia Tenggara. Dibangun untuk memperingati 25 tahun pemerintahan Sultan Hassanal Bolkiah, masjid ini memiliki 29 kubah berlapis emas, menara setinggi 58 meter, dan lima air mancur yang melambangkan lima rukun Islam.

Interior masjid dirancang dengan mewah, menggunakan bahan-bahan impor berkualitas tinggi seperti karpet Persia, marmer Italia, dan kayu keras Filipina. Mimbar masjid terbuat dari kayu jati berukir yang indah, menjadi simbol keahlian pengrajin Brunei.
Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan keagamaan dan sosial, dengan fasilitas lengkap seperti perpustakaan, ruang konferensi, dan pusat pelatihan. Keindahan dan kemegahan masjid ini menjadikannya salah satu tujuan wisata religi yang paling populer di Brunei Darussalam.
Apa yang membuat Brunei berbeda dengan banyak negara kaya lainnya? Barangkali jawabannya adalah cara mereka menggunakan kekayaan: bukan hanya untuk membangun gedung pencakar langit atau taman bermain raksasa, tetapi juga untuk menanamkan nilai spiritual dalam wujud nyata yakni masjid.
Di Brunei, kilang minyak dan kubah masjid berdiri berdampingan. Antara dunia dan akhirat, antara teknologi dan tradisi, antara kekayaan dan kesederhanaan. Inilah negeri yang memaknai kemajuan bukan hanya soal angka PDB, tapi juga soal gema takbir yang membelah senja.
Brunei mengajarkan satu hal bahwa religiusitas tak perlu gaduh, dan kemajuan tak harus mencabut akar budaya. Dalam sunyi, negara kecil ini membangun peradaban besar. Bukan hanya karena emas dan minyak, tetapi karena tahu ke mana arah kiblat mereka—secara harfiah dan spiritual.(Sumber)





