Politiknesia.com

Hamas Ungkap Bantuan Masuk Gaza Hanya Penuhi Kurang dari 1 Persen Kebutuhan Warga

Kantor media pemerintah Gaza yang dikelola oleh Hamas mengatakan bahwa bantuan kemanusiaan yang telah masuk ke Jalur Gaza hanya memenuhi kurang dari 1 persen dari kebutuhan dasar warga di sana.

“Selama 84 hari blokade dan penutupan total, setidaknya 46.200 truk yang sarat dengan bantuan dan bahan bakar seharusnya masuk ke Jalur Gaza untuk memenuhi kebutuhan minimum penduduk,” kata kantor tersebut dalam sebuah pernyataan, yang dikutip Minggu (25/5/2025).

“Namun, dalam beberapa hari terakhir, pendudukan (Israel) menyebarkan narasi yang menyesatkan dengan mengklaim bahwa mereka mengizinkan masuknya ‘bantuan’, sementara kenyataannya hanya sekitar 100 truk yang benar-benar masuk, yang mewakili kurang dari 1 persen dari kebutuhan dasar penduduk,” lanjut pernyataan itu.

Kantor tersebut menyatakan bahwa bantuan tersebut termasuk obat-obatan dan tepung dalam jumlah terbatas yang hanya sampai ke sejumlah kecil toko roti, pada saat pendudukan terus mengganggu operasi lebih dari 90 persen toko roti di Jalur Gaza.

Israel pada pekan lalu setuju untuk mencabut blokade yang berlangsung hampir tiga bulan dan mengizinkan bantuan terbatas masuk ke wilayah kantung tersebut.

Namun, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Jumat (23/5/2025) mengatakan bahwa semua bantuan yang diizinkan hingga saat ini hanyalah setetes kecil bantuan dibandingkan dengan gelombang bantuan yang sebenarnya dibutuhkan.

Menurut pernyataan resmi Kantor Media Pemerintah Palestina pada Senin lalu (19/5/2025), Jalur Gaza membutuhkan setidaknya 500 truk bantuan setiap hari, termasuk bantuan medis, pangan, dan 50 truk bahan bakar, untuk menyelamatkan nyawa di tengah kelaparan yang semakin parah akibat penutupan perbatasan oleh Israel selama lebih dari dua bulan.

Sejak 2 Maret, tentara Israel memberlakukan blokade ketat terhadap Gaza, menutup akses masuk bantuan kemanusiaan dan mendorong wilayah tersebut ke jurang kelaparan yang telah merenggut banyak nyawa.

Meski mendapat tekanan internasional untuk segera melakukan gencatan senjata, militer Israel terus melanjutkan serangan brutal ke Gaza sejak Oktober 2023. Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 53.000 warga Palestina, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Pada November tahun lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Selain itu, Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas serbuannya ke wilayah kantong tersebut.(Sumber)