Politiknesia.com

Industri Pesawat RI Naik Kelas! Menperin Agus Gumiwang Dorong Airbus Perkuat Ekosistem Dirgantara Nasional

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyambut baik penandatanganan Joint Declaration of Intent antara Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan Airbus SAS di Jakarta, Rabu (6/5/2026), sebagai langkah strategis untuk memperkuat ekosistem industri dirgantara nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kerja sama tersebut menjadi momentum penting dalam mempercepat transformasi ekonomi nasional berbasis teknologi tinggi melalui sinergi dengan mitra industri global.

“Inisiatif kerja sama ini sangat tepat di tengah upaya memperkuat sinergi dengan mitra industri global,” kata Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Ia menyampaikan industri manufaktur nasional terus menunjukkan kinerja positif. Pada triwulan I-2026, industri pengolahan tercatat sebagai sumber pertumbuhan tertinggi dengan kontribusi mencapai 1,03 persen.

Menurut dia, industri pengolahan pada triwulan I-2026 tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen.

Selain itu, sektor tersebut memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yakni mencapai Rp1.179,62 triliun atau sebesar 19,07 persen.

Agus menilai prospek industri penerbangan global masih sangat menjanjikan. Berdasarkan data McKinsey & Company, pesanan pesawat dunia pada 2024 mencapai rekor 15.700 unit.

Sementara itu, International Air Transport Association (IATA) memproyeksikan Indonesia akan menjadi pasar penerbangan terbesar keempat di dunia pada 2030.

Peluang tersebut didukung kemampuan industri pesawat nasional yang dimotori PT Dirgantara Indonesia. Perusahaan itu telah memproduksi sejumlah pesawat dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang kompetitif, antara lain N219 sebesar 44,69 persen, NC212i sebesar 42,15 persen, CN235 sebesar 38,74 persen, dan C295 sebesar 20,87 persen.

Menperin menambahkan peningkatan armada pesawat turut mendorong pertumbuhan rantai pasok komponen dan industri Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO).

Saat ini terdapat 12 perusahaan komponen pesawat yang tergabung dalam Indonesia Aircraft and Component Manufacturer Association (INACOM), dengan tujuh perusahaan telah mengantongi sertifikasi standar kedirgantaraan internasional AS9100.

Selain itu, sebanyak 64 perusahaan MRO bersertifikat Aircraft Maintenance Organization (AMO) juga beroperasi di Indonesia.

Meski demikian, Agus mengakui industri MRO masih menghadapi sejumlah tantangan, antara lain penurunan jumlah pesawat yang beroperasi menjadi 578 unit pada 2025, gangguan rantai pasok global, serta tingginya biaya operasional.

Sebagai bentuk dukungan terhadap industri dirgantara, pemerintah melalui Kemenperin memberikan stimulus berupa insentif penurunan tarif bea masuk menjadi nol persen atas suku cadang pesawat melalui Skema Khusus Bab 98.

“Kebijakan ini mencakup 148 pos tarif dan 448 jenis barang serta bahan, sehingga biaya perawatan dan perbaikan pesawat dapat menjadi lebih efisien,” ujar Agus.

Melalui Joint Declaration of Intent tersebut, Kemenperin juga menegaskan komitmennya mendukung pengembangan industri kedirgantaraan melalui sejumlah langkah strategis, di antaranya penetapan industri dirgantara sebagai sektor prioritas dalam Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional dan Strategi Baru Industrialisasi Nasional.

Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan investasi melalui pemberian insentif fiskal dan nonfiskal, pembebasan larangan dan pembatasan impor, serta penurunan tarif bea masuk suku cadang pesawat menjadi nol persen untuk jasa perawatan pesawat.

Kemenperin juga memperkuat rantai pasok industri melalui pendampingan pemenuhan standardisasi internasional bagi industri komponen dan peningkatan kapabilitas jasa reparasi pesawat.

“Kami berharap kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan kerangka kerja, tetapi juga menghadirkan alih teknologi nyata, peningkatan kandungan lokal, penguatan SDM dirgantara, serta memperkuat peran strategis Indonesia dalam rantai pasok global,” kata Agus.(Sumber)