Politiknesia.com

Israel Justru Bantu Geng Kriminal Penjarah Bantuan Kemanusiaan di Rafah dan Gaza

Israel membantu geng-geng kriminal di Rafah untuk menjarah bantuan kemanusiaan di bawah perlindungan militer. Meski menolak campur tangan terhadap para penjahat bersenjata ini, pasukan Israel melepaskan tembakan terhadap polisi setempat yang berupaya mencegah penjarahan.

The New Arab (TNA) dalam laporannya kemarin, mengungkap dari sumber-sumber di Gaza, termasuk para pemimpin masyarakat sipil, pejabat polisi, dan PBB bahwa kebangkitan geng-geng terorganisasi adalah dalih terbaru Israel untuk mencegah masuknya bantuan kemanusiaan. Dampaknya menyebabkan keruntuhan sosial, sembari menyalahkan warga Palestina atas penderitaan mereka sendiri.

Pemerintah Israel juga menggunakan pelanggaran hukum ini untuk mempromosikan gagasan mengizinkan perusahaan keamanan swasta asing beroperasi di Gaza dengan ‘kedok kemanusiaan’. Polisi setempat bersama militan dari Hamas dan faksi bersenjata lainnya kini telah menyatakan perang terhadap geng kriminal untuk memulihkan ketertiban umum.

Penjarahan Disponsori Israel di Siang Bolong
Pada 18 November, badan-badan PBB berhasil mendapatkan izin masuk bagi 109 truk ke Gaza selatan setelah berbulan-bulan pembatasan ekstrem Israel yang menyebabkan asupan makanan harian warga Gaza turun menjadi 187-454 gram per orang pada Oktober. Sebelum perang Israel, setidaknya 500 truk memasuki Gaza setiap hari kerja, yang masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan harian penduduk.

Namun, keberhasilan kemanusiaan kecil ini tidak berlangsung lama, karena 98 truk dijarah oleh geng-geng bersenjata di daerah yang dinyatakan sebagai “zona pembantaian” di bawah kendali penuh militer Israel, tempat tidak ada warga Palestina yang diizinkan masuk.

Seorang pejabat PBB mengatakan kepada TNA bahwa dua truk berusaha mencapai bagian utara Gaza setelah memperoleh izin dari Israel, namun dihentikan militer zionis itu selama lima jam di Koridor Netzarim sehingga menyebabkan truk tersebut dijarah. Kedua insiden tersebut memperburuk tingkat kelaparan akut yang terjadi di Gaza selatan dan menciptakan antrean panjang di luar beberapa toko roti yang tersisa di Deir al-Balah.

Jauh dari pengecualian, penyergapan terhadap bantuan kemanusiaan telah menjadi hal yang rutin di Gaza. Menurut memo internal PBB, tentara Israel memberikan perlindungan ‘pasif’ dan bahkan ‘aktif’ kepada geng kriminal bersenjata yang telah mendirikan kompleks seperti militer di wilayah Rafah timur yang dibatasi, dikendalikan, dan dipatroli oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF).

Jika warga sipil Palestina mencoba mencapai daerah ini dengan berjalan kaki, ia akan langsung menjadi sasaran pesawat nirawak atau pasukan Israel. Sebaliknya, anggota geng beroperasi di zona yang sama dengan AK-47 dan senjata lainnya hanya 100 meter dari tentara dan tank Israel bisa bebas bergerak tanpa terluka.

Dua sumber di kepolisian Gaza dan seorang pemimpin masyarakat sipil mengatakan bahwa tentara Israel tidak pernah menembaki anggota geng bersenjata yang menjarah truk dengan todongan senjata, tetapi menargetkan polisi setempat yang berusaha menghentikan penjarahan.

Dua Panglima Perang Jadi Pemimpin Geng
Sumber kepolisian mengatakan kepada TNA, dua penjahat yang dicari diduga berada di balik geng utama yang menjarah sebagian besar bantuan di Gaza. Bersama-sama, mereka telah membentuk geng terorganisasi yang beranggotakan sekitar 200 orang dan memiliki gudang sendiri tempat mereka menyimpan barang-barang jarahan dan kemudian menjualnya untuk mendapatkan keuntungan kepada pedagang lokal.

Geng-geng tersebut juga memeras kelompok-kelompok bantuan kemanusiaan dengan meminta “biaya perlindungan” lebih dari US$4.000 (sekitar Rp63 juta) per truk agar dapat melewati tempat itu dengan aman tanpa dijarah. Israel bahkan merekomendasikan agar LSM membayar suap melalui perusahaan tertentu yang bertindak sebagai perantara.

Pemimpin geng pertama adalah Yasser Abu Shabab, seorang pengedar narkoba yang telah dihukum dan dipenjara di Gaza beberapa kali hingga polisi membebaskannya selama perang. Minggu lalu, polisi dan militan Hamas berusaha melenyapkan Abu Shabab dalam penyergapan yang menewaskan 11 anggota gengnya, termasuk saudara laki-laki dan rekannya, Fathi, dan akuntan geng tersebut. Tiga puluh orang lainnya terluka.

Sehari kemudian, Abu Shabab membalas dengan menjarah truk bahan bakar, membakar truk lainnya, dan mencegah orang lain mencapai penyeberangan Kerem Shalom untuk mengambil bantuan dari pihak Israel.

Pemimpin geng kedua adalah Shadi al-Soufi, seorang pembunuh terpidana dan putra dari seorang yang diduga kaki tangan Israel. Al-Soufi dijatuhi hukuman mati pada 2020 karena membunuh Jabr al-Qeeq, seorang anggota senior Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP). Al-Qeeq sendiri dipenjara Israel selama 15 tahun karena ikut serta dalam pembersihan kaki tangan di Gaza selama Intifada Pertama, salah satunya adalah ayah al-Soufi.

Al-Soufi ditangkap oleh polisi Gaza dalam operasi khusus pada akhir 2020. Klannya, Al-Tarabin, mengumumkan pada tahun yang sama bahwa Shadi telah melarikan diri ke Sinai, sebelum muncul kembali di Gaza setelah invasi darat Israel.

Minggu lalu, Shadi muncul dalam rekaman daring yang membantah tuduhan terhadapnya, tetapi sumber kepolisian bersikeras bahwa dia adalah pemimpin beberapa geng tersebut. Pada pertengahan Oktober, badan Keamanan Dalam Negeri Gaza mengeluarkan surat perintah penangkapan Shadi untuk diinterogasi.

Pasukan keamanan Gaza berupaya melenyapkan al-Soufi dalam penyergapan pada akhir September, sumber yang dekat dengan polisi mengatakan kepada TNA, tetapi mereka salah mengidentifikasi kendaraannya dan secara tidak sengaja menewaskan seorang pekerja kemanusiaan, Islam Hijazi. Sumber kepolisian itu juga mengatakan bahwa Abu Shabab dan al-Soufi memiliki hubungan dengan kelompok ISIS di Sinai yang memfasilitasi penyelundupan ke Gaza.

Israel Mempersenjatai Geng Kriminal
Seorang mantan pejabat senior Otoritas Palestina, yang saat ini membantu INGO memperoleh izin Israel untuk bantuan ke Gaza, mengatakan kepada TNA bahwa ketika pasukan Israel menyerbu suatu daerah, sengaja meninggalkan senjata ringan pada mayat pejuang Hamas sehingga dapat diambil dan dikumpulkan oleh geng dan klan ketika tentara pergi.

Reporter Palestina setempat telah menguatkan hal ini, dengan mengatakan geng-geng terkemuka yang menjarah bantuan telah memperoleh sebagian senjata mereka dengan cara ini.

Israel juga diduga secara langsung menyediakan senjata kepada geng-geng. Pada Maret, tentara Israel secara tegas mengatakan bahwa mereka mempertimbangkan untuk mempersenjatai klan-klan di Gaza yang merupakan saingan Hamas. Beberapa memiliki hubungan dengan ISIS dan Al-Qaeda, seperti klan Doghmush.

Pemerintah Israel berencana untuk menugaskan klan-klan tersebut dalam pendistribusian bantuan, mengelola pemerintahan dan keamanan Gaza sehari-hari dan menjalankan “zona bebas Hamas”.

Pada Agustus lalu, muncul rekaman aneh para remaja dan pemuda dari sebuah klan di Deir al-Balah yang memamerkan senapan M-16 baru buatan AS di tengah jalan di siang bolong. Remaja itu dengan percaya diri melepaskan tembakan ke udara tanpa menjadi sasaran tentara Israel, yang beroperasi kurang dari satu kilometer jauhnya.

Yang membuat insiden ini lebih luar biasa adalah Israel melakukan pengawasan pesawat nirawak yang hampir konstan di seluruh Jalur Gaza, dan berjalan-jalan sambil membawa senjata. Siapapun yang terlihat di kawasan itu langsung menjadi sasaran bom atau serangan tentara Israel. Namun, militer Israel tidak melakukan apa pun terhadap orang-orang bersenjata itu.

Joe Saba, misalnya, Ketua Dewan Direksi ANERA, mengatakan pada Oktober, mengutip diskusi dengan pejabat Israel, bahwa jika seorang warga sipil Gaza mencoba mempertahankan rumahnya dari penjarah dengan pistol, maka pesawat tanpa awak Israel akan langsung mengeksekusi warga sipil tersebut sebagai “target yang sah”.(Sumber)