Ambalat sempat menjadi hot spot antara Indonesia dan Malaysia.
Namun, saat ini Ambalat relatif aman dari gangguan Malaysia.
Apalagi, Indonesia mengerahkan pasukan menjaga setiap jengkal perbatasannya dengan Malaysia di Ambalat.
Malaysia sendiri kini lebih disibukkan soal Beting Patinggi Ali atau Luconia Shoals miliknya yang diklaim China.
Kapal China sempat lego jangkar di sana hampir satu tahun.
“Menurut Inisiatif Transparansi Maritim Asia (AMTI) yang berpusat di Washington, Amerika Serikat, kapal penjaga pantai China berpatroli di Beting Patinggi Ali selama 316 hari tahun lalu, meningkat dari 279 hari pada tahun 2020,” jelas Malaysia Military Times.
Menurut malaysiakini.com, 17 Juli 2020, Tentera Laut Diraja Malaysia (TLDM) berusaha tegas dengan mengusir pelanggar batas.
Enam nota protes diplomatik terhadap China juga sudah dilayangkan, meski kadang China tak terlalu menghiraukan protes itu.
Posisi Luconia Shoals sudah sangat dekat dengan pesisir Sarawak.
“Sebuah analisis oleh badan penelitian internasional menemukan bahwa patroli oleh kapal penjaga pantai China tahun lalu di beberapa fitur maritim di Laut Cina Selatan, termasuk yang jelas terletak di dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Malaysia, lebih luas dan agresif,” bebernya.
Berbeda bila kapal China masuk ke Natuna Utara langsung disergap militer Indonesia meski tahu kekuatan tak seimbang.
Indonesia menyiagakan pasukan di Natuna, siap sedia menghadapi eskalasi tak terduga melawan para penerobos
Berbeda bila kapal China masuk ke Natuna Utara langsung disergap militer Indonesia meski tahu kekuatan tak seimbang.
Indonesia menyiagakan pasukan di Natuna, siap sedia menghadapi eskalasi tak terduga melawan para penceroboh.
Keberadaan pasukan Indonesia di Natuna sekaligus menjawab klaim Nine Dash Line bahwasanya Natuna Utara tetap milik NKRI.
Patroli tempur kerap digelar di Natuna Utara oleh militer Indonesia.
Unjuk kekuatan ini juga ditujukan bagi Malaysia dan Vietnam agar tak mengusik Natuna Utara.
“Tiga kapal perang dari Komando Armada (Koarmada) I TNI Angkatan Laut latihan siaga tempur laut saat tengah berlayar menjaga Laut Natuna Utara yang merupakan perairan terluar dan terdepan Indonesia berbatasan dengan Malaysia dan Vietnam,” jelas Antara pada 27 April 2024.
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Komando Armada I TNI AL Kolonel Laut (P) Yoni Nova Kusumawan menjelaskan bahwa personel yang diterjunkan ke patroli tempur itu mencapai 250 prajurit.
Tiga kapal perang dikerahkan yakni KRI John Lie-358, KRI Sutedi Senoputra-378, dan KRI Tjiptadi-381, kemudian ada juga pesawat angkut dari Pusat Penerbangan TNI AL Cassa P-8201.
Bukan cuma patroli, ketiga kapal perang melaksanakan latihan penembakkan.
“Personel yang terlibat kurang lebih 250 prajurit TNI AL Koarmada I,” kata Yona.
Hal-hal seperti ini juga dilakukan Indonesia di Ambalat.
Sedari dulu militer Indonesia di Ambalat sudah mencium gelagat licik Malaysia.
Pernah militer Malaysia mengusulkan sebuah operasi patroli bersama Indonesia.
Namun Menteri Pertahanan Indonesia saat itu Purnomo Yusgiantoro saat dirinya masih menjabat Menteri ESDM menolaknya.
Purnomo mencium adanya kelicikan Malaysia bahwasanya operasi bersama sama saja mengakui adanya konflik wilayah Ambalat dengan negeri Jiran.
Padahal Ambalat sepenuhnya milik Indonesia, tak ada operasi bersama yang ada mengusir kehadiran Malaysia di sana.
“Karena kalau hal itu kita lakukan sebagai operasi bersama, berarti kita mengakui ada konflik, dispute. Maka kita katakan tidak,” jelas Purnomo dikutip dari Kementerian ESDM pada 19 April 2009.
Malaysia diyakini akan terus mengintai Ambalat namun tak berani mengganggunya berkat penguatan militer Indonesia.
(Sumber)





