MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta masyarakat bijak ketika membeli bahan bakar minyak atau BBM. Menurut Bahlil, tangki sebuah mobil pribadi cukup diisi dengan 50 liter bahan bakar per harinya.
Bahlil menyampaikan pernyataan ini dalam agenda pengumuman kebijakan pemerintah untuk mengantisipasi potensi krisis global yang disiarkan dari Seoul, Korea Selatan.
“Dalam pandangan kami sebagai mantan sopir angkot, wajar dan bijak itu kalau isi mobil satu hari 50 liter itu tangki sudah penuh satu hari. Kami akan mendorong ke sana,” ujar Bahlil, sebagaimana ditayangkan pada YouTube Sekretariat Presiden, Selasa, 31 Maret 2026.
Ketua Umum Partai Golkar berujar, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam mengantisipasi krisis global. Maka dari itu, ia meminta dukungan kerja sama dari masyarakat. “Yang tidak terlalu penting-penting, kami mohon agar kita juga bisa lakukan dengan bijak,” kata Bahlil.
Adapun pemerintah secara resmi mengumumkan sejumlah kebijakan sebagai langkah mitigasi dan antisipasi dinamika global, salah satunya menekan konsumsi BBM.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan stok BBM nasional saat ini dalam kondisi aman. Kondisi ekonomi, ujar dia, juga terjaga. Meski begitu, pemerintah memutuskan bahwa perubahan perilaku diperlukan agar masyarakat tetap tenang dan produktif.
Pemerintah pun mengimbau masyarakat untuk bijak dan sewajarnya dalam mengonsumsi BBM setiap harinya. Hal ini supaya distribusi tetap adil dan stabil.
Guna memastikan masyarakat mengonsumsi BBM secara wajar, pemerintah melakukan pembatasan pembelian dengan barcode MyPertamina. Setiap kendaraan dapat mengisi bahan bakar hingga 50 liter setiap harinya. Pembatasan ini tidak berlaku bagi truk dan angkutan umum. “Untuk memastikan distribusi BBM, pemerintah akan melakukan pengaturan pembelian,” kata Airlangga.
Sementara itu, sebagai bagian dari upaya kemandirian energi dan efisiensi, pemerintah bakal menerapkan program B50 alias mandatori pencampuran 50 persen bahan bakar nabati (biodiesel) berbasis minyak kelapa sawit (CPO) dengan 50 persen BBM jenis solar. Kebijakan yang mulai berlaku 1 Juli 2026 ini diklaim dapat mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil hingga jutaan Kiloliter (KL).
“Pertamina telah siap untuk mengimplementasikan blending (pencampuran) dan ini berpotensi mengurangi penggunaan BBM berbasis fosil sebanyak 4 juta KL. Dalam 6 bulan juga ada penghematan subsidi dari biodiesel yang diperkirakan nilainya Rp 48 triliun,” kata Airlangga.(Sumber)





