Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mendorong percepatan pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela, Maluku. Langkah ini disampaikan dalam kunjungan resmi ke Tokyo sebagai bagian penguatan ketahanan energi nasional Indonesia, Senin, 30 Maret 2026.
Blok Masela merupakan Proyek Strategi Nasional yang dikelola Inpex Masela Ltd dan ditargetkan mulai berproduksi pada tahun 2029 mendatang. Pemerintah telah menyepakati skema pengembangan proyek tersebut dengan nilai investasi mencapai USD 20,9 miliar secara keseluruhan.
Menurut Bahlil, Presiden Prabowo mengarahkan percepatan realisasi proyek yang telah lama mengalami penundaan selama proses pembahasan berjalan. Arahan tersebut menjadi dasar kunjungan kerja ke Jepang untuk memastikan investasi dan dampak proyek dapat segera terealisasi.
“Atas arahan Bapak Presiden Prabowo, saya ditugaskan untuk melakukan dua hal kunjungan di Jepang. Pertama adalah memastikan percepatan tentang investasi di transisi energi, yang kedua adalah menyangkut impact Blok Masela,” ujarnya usai mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan para pengusaha Jepang pada Indonesia–Japan Business Forum di Tokyo, Senin, 30 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa keterlambatan proyek selama ini disebabkan pembahasan panjang terkait skema pengembangan fasilitas gas alam cair. Perdebatan utama mencakup pilihan antara pembangunan fasilitas LNG terapung di laut atau pembangunan fasilitas LNG di darat.
Namun setelah serangkaian pertemuan intensif sepanjang tahun 2025, proyek Blok Masela kini menunjukkan perkembangan yang signifikan. Kesepakatan baru mencakup tambahan teknologi penangkapan karbon atau CCS dalam rencana pengembangan lapangan tersebut.
“Alhamdulillah sudah selesai total project-nya USD 20,9 miliar. Karena dia tambah CCS (teknologi penangkapan karbon) USD 1 miliar di POD-nya (rencana pengembangan lapangannya),” ucapnya.
Pemerintah saat ini berfokus mempercepat realisasi proyek agar segera memasuki tahap konstruksi sesuai rencana yang telah disepakati. Langkah percepatan ini dinilai strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional terutama pada sektor minyak dan gas.
Lapangan Gas Abadi di Blok Masela merupakan proyek gas laut dalam besar dengan estimasi cadangan mencapai 18,54 triliun standar kaki kubik. Jika mulai beroperasi, produksi gas diperkirakan mencapai sekitar 1.200 MMSCFD untuk memenuhi kebutuhan energi domestik Indonesia.
“Kenapa ini harus dipercepat, karena ini penghasil migas salah satu yang besar, 1.200 MMSCFD. Kalau ini mampu kita lakukan maka ketahanan energi kita di sektor migas itu akan semakin kuat,” kata Bahlil.
Selain itu, pemerintah melihat peluang Indonesia menjadi salah satu pemain gas terbesar dunia jika proyek berjalan sesuai rencana. “Jadi mau geotermal, mau air, mau matahari, mau angin, selama ada teknologi harganya efisien, kita akan dorong,” ujarnya.(Sumber)





