Setidaknya 73 orang tewas dalam bentrokan antara militer Pakistan dan separatis Baloch setelah terjadinya serangkaian serangan di Provinsi Balochistan. Ini adalah kejadian paling mematikan di Pakistan dalam beberapa tahun terakhir.
Hampir dua lusin warga Pakistan yang melakukan perjalanan ke Balochistan dari Provinsi Punjab ditembak mati dalam salah satu serangan. Hal itu menandakan ketegangan yang terus memanas antara kelompok separatis Baloch dan pendatang dari luar wilayah tersebut.
Serangan-serangan tersebut diluncurkan pada Minggu (25/8) malam. Beberapa lokasi yang menjadi sasaran separatis termasuk stasiun polisi dan satuan keamanan.
Tentara Pembebasan Baloch (Baloch Liberation Army-BLA) mengklaim bertang-gung jawab atas serangan-serangan tersebut. Mereka mengatakan, pihaknya menargetkan personel militer yang menyamar dalam pakaian sipil dalam operasi-operasi untuk menundukkan BLA. BLA juga menyebut serangan-serangan tersebut sebagai bagian dari operasi yang mereka sebut “Haruf” (badai angin gelap).
BLA juga menyebutkan beberapa serangan lainnya kepada para jurnalis, namun hal itu belum dikonfirmasi pihak berwenang Pakistan.
Menteri Kepala Balochistan mengatakan, 38 warga sipil tewas dalam serangan-serangan tersebut. Sementara 14 tentara Pakistan dan total 21 pejuang Baloch juga tewas.
BLA mengklaim bahwa 130 “personel musuh” tewas dalam operasi mereka, menurut pernyataan resmi BLA yang diposting di X.
Dalam salah satu serangan di distrik Musakhail, pemerintah Pakistan mengatakan bahwa 23 orang tewas setelah pria bersenjata memaksa orang-orang turun dari bus dan truk, lalu menembak mereka setelah memverifikasi identitas mereka sebagai pekerja migran dari Punjab.
“Orang-orang diturunkan dari bus dan dibunuh di depan keluarga mereka,” kata Menteri Kepala, Sarfraz Bugti, dalam konferensi pers yang disiarkan televisi.
BLA telah memerangi pemerintah Pakistan untuk otonomi regional yang lebih besar selama lebih dari dua decade. Mereka beralasan, Islamabad telah mengeksploitasi sumber daya alam provinsi tersebut termasuk gas dan logam berharga. Kelompok itu menuntut negara yang berdaulat dan investasi ekonomi yang lebih besar dari pemerintah pusat.
Para pejuang Baloch sebelumnya telah menyerang warga Pakistan dari provinsi Punjab di timur, yang merupakan kelompok etnis terbesar, paling dominan, dan paling kuat secara politik di negara itu.
BLA menyerukan kemerdekaan provinsi tersebut dan juga pengusiran orang-orang China, yang mereka anggap berperan dalam eksploitasi wilayah tersebut. Selama ini Beijing mengelola pelabuhan laut dalam di Gwadar serta tambang emas dan tembaga.
Senin (26/8) lalu, Kepala Militer Pakistan, Asim Munir, bertemu dengan komandan militer China, Li Qiaoming, tetapi laporan pertemuan tersebut tidak menyebutkan serangan-serangan itu.
Ribuan orang Baloch hilang atau terbunuh
Senin lalu juga merupakan peringatan kematian pemimpin Baloch, Nawab Akbar Bugti, yang dibunuh pada tahun 2006 oleh militer Pakistan. Pembunuhan itu membawa mantan Presiden Pakistan Pervez Musharraf ke pengadilan tetapi dia dibebaskan pada tahun 2016.
Bugti adalah mantan Menteri Kepala Balochistan dan pernah menjabat beberapa peran di pemerintah pusat. Tetapi ia kemudian terlibat dalam aktivitas separatis pada tahun 2005, setelah terjadi perselisihan dengan negara.
Balochistan adalah provinsi terbesar di Pakistan berdasarkan luas wilayah, namun hanya dihuni oleh 15 juta dari lebih dari 240 juta penduduk negara tersebut.
Wilayah ini kaya akan sumber daya alam, termasuk cadangan minyak, batu bara, dan logam berharga. Namun, meskipun kaya, penduduk lokalnya adalah yang paling miskin di negara itu dan wilayah ini sangat kurang berkembang.
Banyak orang Baloch di provinsi tersebut, termasuk mereka yang tergabung dalam kelompok bersenjata. Mereka menuduh pemerintah pusat melakukan eksploitasi dan mengabaikan penduduk Balochistan.
Sementara itu, kelompok-kelompok bersenjata telah melakukan pemberontakan selama dua dekade melawan militer, yang selalu menindak tegas pergerakan di wilayah tersebut. Akibatnya, ribuan orang Baloch di provinsi tersebut tewas atau hilang. Beberapa tahun terakhir berkembang gerakan yang menyalahkan pemerintah Pakistan atas hilangnya orang-orang tersebut.
Mahjong Baloch, seorang aktivis dan pemimpin Komite Yakjehti Baloch (BYC), mengadakan aksi duduk di Islamabad pada bulan Januari, serta protes serupa di kota Gwadar di Balochistan. Pemerintah pusat Pakistan menuduh BYC sebagai proxy untuk kelompok separatis.
(Sumber)





