Politiknesia.com

Trump Klaim Dirinya Presiden Sementara Venezuela Lewat Truth Social, Delcy Rodriguez Meradang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu kontroversi baru setelah mengunggah kepada publik sebuah tangkapan layar di platform media sosialnya, Truth Social, yang menunjukkan dirinya dengan gelar “presiden sementara Venezuela.” Unggahan tersebut muncul di tengah ketegangan geopolitik seputar situasi di Venezuela.

Dalam unggahannya, Trump menampilkan tangkapan layar yang dibuat menyerupai entri biografi pada situs ensiklopedia daring, lengkap dengan pernyataan bahwa ia menjabat sebagai presiden sementara Venezuela sejak Januari 2026. Pernyataan itu juga mencantumkan statusnya sebagai presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat.

Status presiden sementara Venezuela saat ini, menurut catatan pemerintahan di Caracas, dipegang oleh Delcy Rodriguez. Rodriguez ditetapkan sebagai pemimpin interim setelah peristiwa yang terjadi awal bulan ini, termasuk klaim penangkapan pemimpin Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya oleh pasukan Amerika Serikat, yang kemudian dibawa ke luar negeri.

Rodriguez bereaksi terhadap situasi ini dengan menegaskan kedaulatan pemerintahan Venezuela dan menolak klaim yang dibuat oleh Washington. Dalam sebuah acara publik di Negara Bagian Miranda, ia menegaskan bahwa kepemimpinan dan program pemerintahan Venezuela tetap berada di tangan rakyat negaranya.

“Tidak ada ketidakpastian di sini. Rakyat Venezuela yang memegang kendali, dan ada sebuah pemerintahan, yaitu pemerintahan Presiden Nicolas Maduro,” tegas Rodriguez.

Rodriguez juga berjanji tidak akan berhenti “sedetik pun” sampai Maduro dan istrinya, Cilia Flores, kembali ke Venezuela. Pernyataan ini menunjukkan upaya pemerintah Venezuela di bawah kepemimpinan interimnya untuk mempertahankan legitimasi dan menghadapi klaim dari Washington.

Dipantau oleh sejumlah analis internasional, unggahan Trump di media sosial—yang menempatkan dirinya sebagai presiden sementara Venezuela—ditanggapi sebagai bagian dari dinamika politik global yang memicu perdebatan dan sorotan media internasional, termasuk pertanyaan soal legitimasi dan pengaruh AS dalam urusan dalam negeri negara lain.(Sumber)