Politiknesia.com

Menko Airlangga Ingatkan Dana PEN Berakhir Tahun Ini, Simak Penjelasannya

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) akan berakhir tahun ini.

Hal tersebut sejalan dengan berakhirnya masa berlaku Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019/Covid-19 (UU Covid-19).

“Jadi dana PEN akan berakhir di akhir tahun ini. Sama seperti undang-undang yang terkait dengan perubahan budget defisit (UU Covid-19),” ujar Airlangga usai acara Peluncuran Buku Vaksinasi Covid-19 dan Diskusi Panel Evaluasi, Tantangan, dan Capaian Vaksinasi Covid-19 di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis (11/8).

Meski begitu, Airlangga menyatakan, bukan berarti anggaran PEN tidak dilanjutkan, akan tetapi pelaksanaan-nya dikembalikan ke sektor masing-masing.

Misalnya, sektor kesehatan ada di Kementerian Kesehatan dan sektor perlindungan sosial juga dikembalikan kementerian/lembaga terkait.

“Sehingga seluruh biaya dikembalikan ke sektor masing-masing. Untuk sektor kesehatan di Kemenkes, sektor ekonomi balik ke K/L masing-masing.

Jadi tidak berarti bahwa programnya tidak dilaksanakan, tetapi itu bergeser ke kementerian/lembaga masing masing, termasuk untuk perlindungan sosial,” jelas Airlangga.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bilang, realisasi penyaluran anggaran PC PEN baru mencapai Rp 146,7 triliun atau 32,2% dari pagu senilai Rp 455,62 triliun per 22 Juli 2022.

Realisasi tersebut berasal dari realisasi anggaran PEN untuk sektor kesehatan yakni Rp 31,8 triliun atau 25,9% dari pagu Rp 122,54 triliun.

Serta anggaran perlindungan sosial yang mencapai Rp 63,7 triliun atau 41,1% dari pagu senilai Rp 154,67 triliun.

Mahkamah Konstitusi (MK) dalam putusannya menyatakan, memutuskan UU Covid-19 hanya berlaku selama status pandemi Covid-19 belum diumumkan berakhir oleh Presiden dan paling lama hingga akhir tahun ke-2 sejak UU Covid-19 diundangkan.

“Mahkamah dalam putusan ini harus menegaskan pembatasan waktu pemberlakuan UU a quo secara tegas dan pasti agar semua pihak memiliki kepastian atas segala ketentuan dalam UU ini yang hanyalah dalam rangka menanggulangi dan mengantisipasi dampak dari pandemi Covid-19 sehingga keberlakuan UU ini harus dikaitkan dengan status kedaruratan yang terjadi karena pandemi tersebut,” ucap Hakim Konstitusi Suhartoyo, Kamis (28/10/2021).

(Sumber)

Leave a Reply