Ketua DPP KNPI, Tantan Taufiq Lubis Menyebut suara 142 negara yang mendukung Resolusi Kemerdekaan Palestina di Majelis Umum PBB bukanlah sekadar angka statistik ataupun kemenangan simbolik. “Ini adalah bukti nyata sebuah fenomena geopolitik yang sering kali luput dari perhatian, solidaritas Asia-Afrika yang dilahirkan di Konferensi Bandung 1955 tidak hanya bertahan, tetapi telah berevolusi, matang, dan berekspansi menjadi sebuah koalisi global yang semakin besar dan tangguh,” tutur Tantan yang biasa dipanggil Tolub ini.
Menurut Wakil Rektor Universitas Jakarta ini, apa yang dimulai sebagai persaudaraan antar bangsa yang baru merdeka di dua benua, kini telah bertransformasi menjadi kekuatan moral yang bersuara lantang melawan ketidakadilan di semua kontinental, dengan isu Palestina sebagai ujian utamanya.
“Resolusi Majelis Umum Persatuan Bangsa Bangsa menyerukan kemerdekaan penuh bagi Palestina dan keanggotaannya di PBB bukanlah sebuah peristiwa yang berdiri sendiri. Ia adalah puncak gunung es dari sebuah perjuangan diplomasi yang panjang, dan lebih dari itu, ia adalah manifestasi modern dari semangat yang dilahirkan hampir tujuh dekade lalu di Kota Bandung, Indonesia yaitu Dasasila Bandung,” ujar Tantan.
Resolusi ini, menurut Tantan adalah sebuah “kemenangan diplomatik“ bersejarah bagi Palestina dan solidaritas Global South, sebuah cerminan implementasi prinsip-prinsip Dasasila Bandung yang nyata, sekaligus sebuah pengingat yang keras tentang tantangan yang masih menghadang dalam arsitektur multilateral global.
“Dasasila Bandung adalah fondasi, Komitmen pada prinsip-prinsip universalitas seperti penghormatan pada kemanusiaan, kedaulatan, hak menentukan nasib sendiri, dan perlawanan terhadap kolonialisme menjadi DNA gerakan solidaritas Asia Afrika ini,” kata Tantan Yang merupakan Founder dari Asian African Youth Government.
Pada masa lalu, DNA ini dimanifestasikan dalam dukungan untuk kemerdekaan Namibia, melawan apartheid di Afrika Selatan, dan perlawanan terhadap imperialisme dan Kolonialisme. Hari ini, gen yang sama berevolusi. Solidaritas tidak lagi hanya terkunci dalam geografi Asia dan Afrika.
“Ia telah menyebar, menemukan resonansi yang dalam di hati bangsa-bangsa di Amerika Latin dan Karibia, wilayah yang memiliki sejarah panjang melawan dominasi asing. Negara-negara seperti Brasil, Kolombia, dan Chili telah menjadi pendukung vokal Palestina. Mereka melihat dalam perjuangan rakyat Palestina cerminan dari perjuangan nenek moyang mereka sendiri,” tegas Tantan.
Bahkan di Eropa, menurut Tolub, blok tradisional yang sering dianggap sejalan dengan kebijakan Barat, muncul suara-suara pembeda. Irlandia, Norwegia, Spanyol, dan Slovenia adalah contoh negara yang telah mengambil langkah langkah progresif dalam pengakuan terhadap negara Palestina. “Mereka mewakili suara hati nurani Eropa yang melihat konflik ini bukan dari kacamata politik kekuatan lama, tetapi dari perspektif hak asasi manusia dan hukum internasional,” ungkapnya.
Apa yang kita saksikan hari ini bukan sekadar pergantian kekuasaan dalam panggung global, melainkan restrukturisasi fundamental dari arsitektur diplomasi internasional itu sendiri. Tatanan dunia pasca-Perang Dunia II dan pasca-Perang Dingin, yang dibangun di atas pilar hegemoni Barat, institusi multilateral seperti PBB, IMF, dan Bank Dunia, serta nilai-nilai demokrasi liberal sebagai standar universal, sedang mengalami erosi yang cepat dan digantikan oleh sebuah lanskap yang jauh lebih fragmentatif, pragmatis, dan kompetitif.
“Oleh karena itu, keputusan Sidang Majelis Umum PBB untuk mendukung keanggotaan Palestina di PBB, diikuti dengan Deklarasi New York yang memperkuat komitmen terhadap resolusi dua negara adalah pernyataan politik global yang powerful dan mungkin bisa menjadi titik balik paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir untuk perdamaian di Timur Tengah.” ujarnya.
Meski momentum ini sangat positif, optimisme harus dibarengi dengan realisme. Beberapa tantangan besar masih menghadang seperti Veto Power di Dewan Keamanan PBB. Dukungan 142 negara di Majelis Umum masih harus berhadapan dengan realitas politik Dewan Keamanan PBB. Amerika Serikat, dengan hak vetonya, telah secara konsisten memblokir langkah-langkah yang dianggapnya tidak sejalan dengan kepentingan Israel. Tanpa perubahan kebijakan AS, keanggotaan penuh Palestina di PBB akan sulit terwujud.
Yang Kedua adalah soal Fragmentasi Politik Internal Palestina. Perpecahan antara Fatah di Tepi Barat dan Hamas di Gaza melemahkan posisi tawar Palestina. Sebuah pemerintah yang bersatu dan representatif adalah syarat mutlak untuk negosiasi yang efektif. “Untuk itu, DPP KNPI Menyerukan Persatuan Fatah dan Hamas sebagai sebuah kewajiban, perlu kebesaran hati dan kebijaksanaan dari masing masing pimpinan kedua kelompok tersebut,” lanjutnya.
Yang Ketiga Aspek Kebijakan Pemerintah Israel yang radikal, Pemerintah koalisi Israel saat ini dianggap sebagai yang paling kanan dalam sejarah negara itu, dengan beberapa menteri yang secara terang-terangan menentang keberadaan negara Palestina. Ekspansi pemukiman terus berlanjut, mempersulit peta menuju solusi dua negara.
Keempat Adalah Soal Keamanan dan Kepercayaan, Isu keamanan bagi Israel dan akhir pendudukan bagi Palestina adalah isu yang sangat sensitif. Membangun kepercayaan setelah puluhan tahun kekerasan dan permusuhan adalah tugas yang sangat berat.
Solidaritas global untuk Palestina membuktikan bahwa semangat Bandung tidak punah, spirit dasasila bandung itu tetap established, ia hanya berubah bentuk. Ia menjadi lebih inklusif, lebih strategis, dan lebih vokal. Koalisi ini mungkin tidak memiliki bom yang paling canggih atau kekuatan ekonomi terbesar, tetapi ia memiliki aset yang paling berharga dalam diplomasi yaitu legitimasi dan suara Bersama. Perjuangan untuk kemerdekaan Palestina masih panjang dan berliku.
Namun, dengan dukungan dari koalisi global yang terdiri dari bangsa-bangsa di Asia, Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan bahkan mayoritas negara Eropa, beban itu tidak lagi dipikul sendirian. Mereka telah mengangkatnya menjadi sebuah agenda kemanusiaan universal.
“Inilah warisan sejati Konferensi Bandung yang masih hidup, bahwa bangsa-bangsa yang percaya pada keadilan akan selalu bersatu, melampaui batas benua, untuk membela yang tertindas. Dan hari ini, suara mereka bergema lebih keras dari sebelumnya untuk membebaskan Palestina.” pungkas Tantan Taufiq Lubis





