Ketua Umum DPP KNPI Tantan Taufik Lubis, menyoroti pentingnya dukungan teknokratis dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) untuk memastikan keberhasilan langkah-langkah diplomasi yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto. Dalam pernyataannya kepada RadarAktual, Tantan menegaskan semangat besar dan keberanian Presiden Prabowo di panggung internasional butuh sinergi yang kuat dengan birokrasi, khususnya Kemlu, agar visi besar tersebut dapat diwujudkan secara konkret.
Presiden Prabowo, menurut Tantan, telah membawa angin segar dalam diplomasi Indonesia, terutama dengan keberaniannya menyuarakan isu-isu global seperti perdamaian di Gaza dan memperluas kerja sama ekonomi serta pertahanan dengan negara-negara besar.
“Namun, semangat besar ini harus diimbangi dengan kesiapan teknokratis dari Kemlu, agar diplomasi kita tidak hanya menjadi simbolis, tetapi juga menghasilkan dampak nyata,” tutur Tantan yang juga Presiden World NYC Federation.
Tantan mengungkapkan diplomasi era Prabowo menghadapi tantangan besar di tengah pergeseran geopolitik global yang semakin kompleks. “Tantangan pertama terletak pada kapasitasi menteri luar negeri Sugiono yang belum memadai jam terbang diplomasi dan negosiasi globalnya serta kemampuan teknokratis Kemlu dalam menerjemahkan visi besar presiden menjadi strategi yang efektif,” kata wakil rektor Universitas Jakarta ini.
Dengan dinamika geopolitik yang terus berubah dan hubungan antar-negara yang semakin kompleks, lanjut Tantan, Kemlu butuh diplomat yang tak hanya menguasai teori, tapi juga punya pengalaman mendalam dalam pergaulan global dan negosiasi internasional. “Kami menekankan bahwa Kemlu harus mampu membaca dinamika internasional dengan cermat, memiliki strategi negosiasi yang matang, dan membekali diplomat muda dengan keterampilan yang relevan,” papar Tantan.
Tantan menyebut diplomasi Tiongkok sebagai contoh keberhasilan dalam memanfaatkan pengaruh secara strategis. “Diplomat mereka tak hanya berbicara, tapi juga membawa hasil nyata, seperti mempertemukan faksi-faksi Palestina untuk berdialog. Indonesia perlu belajar dari pendekatan ini agar dapat memaksimalkan perannya di kancah internasional,” ucapnya.
Selain itu, Tantan juga menyoroti pentingnya reformasi internal di Kemlu demi meningkatkan kapasitas teknokratis. “Pelatihan intensif untuk diplomat muda, penguatan strategi kebijakan luar negeri, leadership diplomatic dan harmonisasi antara visi presiden dan pelaksanaan teknis menjadi langkah yang mendesak,” lanjutnya.
KNPI mendukung penuh langkah-langkah diplomasi Prabowo yang telah membuka peluang besar bagi Indonesia, tak hanya dalam soal Gaza, tapi juga di sektor diplomasi ekonomi seperti peningkatan investasi dari Timur Tengah, China, kerja sama pertahanan dengan Turki, Prancis dan Amerika Serikat, serta perluasan akses pasar di kawasan Asia-Pasifik. Namun, Tantan mengingatkan bahwa keberhasilan ini hanya dapat bertahan jika didukung birokrasi yang profesional dan siap menghadapi tantangan global.
KNPI juga menyerukan perlunya diplomasi yang antisipatif, progresif, dan visioner. Diplomasi tidak hanya tentang partisipasi, tetapi juga tentang menjadi penggerak utama dalam organisasi internasional. Di sinilah Kementerian Luar Negeri perlu meningkatkan kapasitas teknokratisnya untuk mendukung visi besar presiden. Kemampuan membaca dinamika geopolitik global dengan cermat dan menegosiasikan kepentingan nasional secara efektif menjadi kunci keberhasilan
Untuk mencapai ini, reformasi politik ekonomi domestik juga diperlukan, Indonesia harus mampu menyeimbangkan ambisi menjadi negara besar dengan tanggung jawab yang lebih besar, baik di OIC, G20, BRICS maupun ASEAN. “Gerakan besar diplomasi Presiden Prabowo adalah peluang emas bagi Indonesia memperkuat posisinya sebagai pemain utama di dunia internasional. Tapi, tanpa dukungan teknokratis yang solid, peluang ini bisa hilang begitu saja,” Pungkas Tantan.





