Pasokan energi nasional dipastikan tetap aman di tengah dinamika geopolitik global, termasuk ketegangan di Timur Tengah, sehingga masyarakat diminta tidak melakukan panic buying BBM maupun LPG.
Anggota Komisi XII DPR RI Cek Endra menyebut ketergantungan Indonesia terhadap jalur energi melalui Selat Hormuz relatif terbatas, sehingga tidak berdampak langsung pada ketersediaan energi dalam negeri.
“Artinya, secara pasokan fisik kita masih dalam kondisi aman,” ujar Cek Endra, melalui keterangannya, Minggu (29/3/2026).
“Distribusi BBM dan LPG tetap berjalan normal, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan.”
Ia menjelaskan, impor minyak mentah yang melewati Selat Hormuz hanya sekitar 20–25 persen dari total impor nasional. Sementara itu, BBM seperti Pertalite dan Pertamax tidak bergantung langsung dari kawasan tersebut.
Selain itu, sumber impor energi Indonesia juga telah terdiversifikasi dari berbagai negara, serta didukung cadangan operasional oleh PT Pertamina (Persero) untuk menjaga keberlanjutan pasokan dalam jangka pendek.
Dampak Lebih Terasa pada Harga
Cek Endra menilai, dampak utama dari ketegangan global saat ini lebih terasa pada sisi harga energi, bukan pada ketersediaan pasokan.
Karena itu, instrumen kebijakan dinilai tetap tersedia untuk menjaga stabilitas harga sekaligus melindungi daya beli masyarakat. Pengawasan distribusi energi juga terus dilakukan agar pasokan tetap lancar.
Ia juga mengapresiasi langkah antisipatif dalam menjaga ketahanan energi nasional melalui diversifikasi pasokan dan penguatan cadangan.
“Kami mengapresiasi langkah antisipatif pemerintah khususnya Kementerian ESDM dalam hal memastikan pasokan energi tetap aman di tengah ketidakpastian global,” tegasnya.
Cek Endra kembali mengingatkan masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang, tidak perlu panic buying, dan percaya bahwa pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan terus bekerja menjaga ketahanan energi nasional,” pungkasnya.
Imbauan Gunakan Energi Secukupnya
Imbauan serupa juga disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang meminta masyarakat menggunakan energi secara wajar dan tidak berlebihan.
“Kalau satu hari katakanlah, contoh ya, cukup 30 liter, 40 liter, ya itu cukup,” kata Bahlil.
“Enggak usah ada rasa panic buying. Enggak perlu ada. Jadi pakailah dengan secukupnya.”
Ia menegaskan, pembelian BBM dalam jumlah besar tidak diperlukan, terlebih jika bertujuan untuk dijual kembali demi keuntungan pribadi.
“Jangan sampai masih ada yang ngantre di SPBU-SPBU, mobil-mobil truk,” ujarnya.
“Padahal isinya bukan untuk mengangkut, tetapi itu habis itu diantre, habis itu dijual lagi.”
Dalam situasi krisis global, praktik penimbunan BBM diharapkan tidak terjadi karena dapat mengganggu stabilitas pasokan energi nasional.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, rakyat pun tidak bisa bekerja sendiri,” ucapnya.
“Semua pihak, semua stakeholder, saya mengajak ayo kita sama-sama semua untuk kita mengawal negara kita.”
Bahlil juga memastikan ketersediaan energi selama arus balik Lebaran 2026 dalam kondisi aman, termasuk untuk kendaraan listrik melalui ketersediaan SPKLU dan pasokan listrik.
“Kami mengecek ketersediaan BBM, baik itu solar maupun bensin, termasuk SPKLU, pengisian untuk kendaraan listrik dan beberapa pembangkit listrik,” jelasnya.
Ia turut mengingatkan masyarakat untuk tidak boros energi, termasuk dalam penggunaan LPG di rumah tangga.
Cadangan BBM dan Sistem Stok Sirkuler
Secara terpisah, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) M Kholid Syeirazi menyatakan stok BBM nasional saat ini dalam kondisi mencukupi dan masyarakat tidak perlu panik.
“Untuk itu, masyarakat diminta tenang, tidak panik, dan tidak melakukan penimbunan karena justru berdampak buruk terhadap ekonomi,” ujarnya di Jakarta, Minggu (8/3/2026) lalu.
Ia menjelaskan, cadangan BBM sekitar 20–23 hari merupakan cadangan operasional yang bersifat sirkuler, yakni akan terus diisi kembali seiring konsumsi.
Cadangan tersebut berbeda dengan cadangan strategis dan cadangan penyangga energi yang menjadi tanggung jawab pemerintah sesuai Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2024.
Menjelang Idul Fitri, cadangan Pertalite bahkan mencapai 28 hari dan Pertamax 29 hari, sementara Avtur juga dipastikan tercukupi.
“Jadi saya mengimbau kepada masyarakat tidak perlu panik,” kata Kholid.
“Yang disebut sekitar 20 hari itu stok sirkuler. Jadi keluar masuk.”
Senada, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menegaskan cadangan operasional tersebut merupakan persediaan yang terus diperbarui.
“Masyarakat tidak perlu khawatir,” ujarnya.
“Karena yang namanya 20 hari tidak kemudian 20 hari ke depan habis.”
Menurut dia, ketika terjadi penjualan, pasokan juga akan kembali ditambah agar aktivitas distribusi tetap berjalan.(Sumber)





