Mantan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto mengikuti pembekalan calon menteri-wakil menteri di Padepokan Yayasan Garuda Yaksa, Hambalang, Bogor, Kamis (17/10/2024).
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) mengaku mendapat arahan dan tugas untuk fokus pada isu politik dan sinkronisasi pemerintahan daerah, serta memintanya secara khusus untuk melakukan studi mengenai sistem pemilu. Hal itu diungkapkannya usai bertemu dengan presiden terpilih Prabowo di Kartanegara IV, Jakarta Selatan, Selasa (15/10/2024).
Bima Arya menyatakan tugas tersebut sejalan dengan kemampuan dan pengalamannya. Dimana ia telah menjabat sebagai wali kota selama 10 tahun serta memiliki latar belakang sebagai akademisi dan pengamat politik.
Namun apa sebenarnya latar belakang kehidupan Bima Arya sampai ia terpilih dalam kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran?
Profil Bima Arya Sugiarto
Pria yang lahir di Paledang, Bogor pada 17 Desember 1972 ini merupakan putra dari pasangan Toni Sugiarto dan Melinda Susilarini. Ayahnya adalah seorang purnawirawan polisi dan tokoh di Bogor, sementara ibunya adalah finalis duta pariwisata Bogor.
Bima Arya Sugiarto menyelesaikan Pendidikan sekolah dasar hingga menengah atas di Kota Bogor. Setelah itu, ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan kuliah di Universitas Parahyangan (Unpar), mengambil jurusan Hubungan Internasional di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.
Selama kuliah, ia aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan. Hingga ia dipercaya untuk menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional Unpar periode 1992–1993.
Tidak hanya itu, ia juga menjabat sebagai Ketua II Senat Mahasiswa FISIP dan sebagai Badan Pekerja Sekretariat Forum Mahasiswa Hubungan Internasional Indonesia.
Ia beberapa kali terpilih untuk memimpin organisasi kepanitiaan, dengan puncaknya pada tahun 1995, ketika ia menjadi ketua umum Panitia Pertemuan Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PNMHII) ke VII di Gedung Asia Afrika, Bandung.
Pada tahun 1996, Bima telah menyelesaikan pendidikannya di Unpar dengan gelar sarjananya, Kemudian ia melanjutkan pendidikan S2 di Development Studies, Monash University, Melbourne dan selesai pada tahun 1998.
Setelah menempuh 2 tahun Pendidikan di Melbourne, Bima kembali ke tanah air dan mengabdikan dirinya sebagai dosen Hubungan Internasional di Unpar.
Pada tahun yang sama, ia mulai terjun ke dunia politik untuk menjadi salah satu penggagas berdirinya Partai Amanat Nasional dan dipercaya menjabat sebagai Sekretaris DPD PAN Kota Bandung untuk periode 1998–2000.
Pada awal 2001 Bima memutuskan untuk menetap ke Jakarta. Ia memulai karier baru di Universitas Paramadina. Setahun kemudian, Bima menerima beasiswa untuk melanjutkan program Doktor di bidang Ilmu Politik di Australian National University di Canberra, Australia.
Selama menjalani studi, ia bekerja sebagai peneliti di Research School for Pacific and Asian Studies, Canberra. Hingga mendapatkan gelar Doktor pada tahun 2006, Bima pun kembali ke Indonesia.
Bima memperkuat pengetahuannya dengan mendirikan lembaga konsultan politik bernama Charta politik Indonesia. Dengan pengetahuan yang mendalam tentang politik mengantarkan dirinya menjadi pengamat politik.
Bima Arya kembali bergabung dalam pengurus pusat DPP PAN untuk periode 2010-2015. Ia juga menghentikan perannya sebagai pengamat politik dan mengundurkan diri dari lembaga Charta Politika Indonesia.
Kemudian beberapa tahun silam, Bima Arya bersama Usmar Hariman mencalonkan diri dan terpilih dalam Pilkada Bogor, sebagai wali kota untuk periode 2014 – 2019.
(Sumber)





