Industri manufaktur nasional menunjukkan resiliensi di tengah tekanan geopolitik dan dinamika ekonomi global. Pada triwulan I-2026, sektor ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,04 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen.
Capaian ini sekaligus menepis narasi deindustrialisasi dini dan isu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal di Tanah Air.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, industri pengolahan tetap menjadi motor penggerak utama ekonomi nasional dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 19,07 persen atau senilai Rp 1.179 triliun.
“Semua sektor saat ini menghadapi tantangan global, baik dari sisi geopolitik maupun geoekonomi. Tetapi kita bersyukur, karena sekali lagi sektor industri manufaktur terbukti memiliki resiliensi dan daya tahan yang sangat tinggi. Kita sudah membuktikannya ketika menghadapi pandemi Covid-19, manufaktur menjadi sektor yang rebound-nya paling cepat,” kata Agus di Bali, Jumat (8/5/2026).
Menurutnya, tren kontribusi manufaktur terhadap PDB yang terus meningkat dalam lima tahun terakhir, bukti konkret bahwa industri nasional tidak sedang merosot. Angka ini bisa menjadi dasar untuk mematahkan semua narasi yang mengatakan industri manufaktur sedang mengalami deindustrialisasi dini.
“Kalau kita lihat trennya dalam empat sampai lima tahun terakhir, justru kontribusi manufaktur terhadap PDB terus meningkat,” ungkapnya.
Agus mengatakan, daya tarik sektor manufaktur bagi investor tetap tinggi. Pada triwulan I-2026, sektor ini menyumbang realisasi investasi senilai Rp 182 triliun atau sekitar 36,5 persen dari total investasi nasional.
Kinerja positif ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Hingga Februari 2026, jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur mencapai sekitar 20 juta orang.
Agus mengakui adanya fenomena PHK di beberapa perusahaan. Namun, secara agregat, angka penciptaan lapangan kerja baru jauh lebih tinggi.
“Ini menunjukkan adanya job creation yang besar di sektor manufaktur, sekaligus mematahkan anggapan manufaktur sedang mengalami PHK di mana-mana. Kami akui memang ada PHK, tapi menurut data kami, penciptaan lapangan kerja jauh lebih besar dibandingkan jumlah PHK yang terjadi,” tegas Agus.
Dari sisi perdagangan luar negeri, produk manufaktur kini mendominasi struktur ekspor Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari–Februari 2026, kontribusi ekspor manufaktur mencapai 83,6 persen dari total ekspor nasional.
Artinya, hanya sekitar 14 persen ekspor nasional yang bukan berasal dari manufaktur. Selebihnya merupakan barang-barang hasil industri pengolahan.
“Ini menunjukkan betapa pentingnya sektor manufaktur terhadap perekonomian nasional,” ujar Agus.
Meski Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia sempat mengalami moderasi ke level 49,1 pada April 2026 akibat dinamika global, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada periode yang sama tetap berada di level ekspansif, yakni 51,75. (Sumber)





