Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita meminta penguatan pengelolaan air berkelanjutan. Ia menegaskan pentingnya kepatuhan regulasi bagi industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) guna menjaga kualitas produk nasional.
Agus menyatakan bahwa sektor AMDK berperan strategis dalam ketersediaan air minum aman. Menurutnya, pengembangan industri ini harus terus dipacu demi memberikan kontribusi nyata bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
“Industri AMDK memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air minum yang aman bagi masyarakat sekaligus memberikan kontribusi nyata pada perekonomian nasional. Karena itu, pengembangannya harus terus dipacu dengan prinsip keberlanjutan dan kepatuhan regulasi,” ucap Agus di Jakarta, Sabtu, 18 April 2026.
Saat ini tercatat sebanyak 707 pabrik beroperasi dengan kapasitas 47 miliar liter. Nilai investasi pada sektor AMDK tersebut telah mencapai Rp27,8 triliun.
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika menjelaskan rincian penggunaan air. Lanjutnya, total konsumsi air industri ini mencapai angka 55,1 miliar liter setiap tahunnya.
Pemanfaatan air tanah oleh sektor industri AMDK mencapai 48,01 miliar liter. Jumlah tersebut hanya setara 0,23 persen dari total kapasitas akuifer nasional.
Putu menegaskan bahwa setiap perusahaan wajib menjalankan operasional sesuai dengan aturan Undang-Undang (UU) Sumber Daya Air. Lanjutnya, pengawasan terhadap kualitas produk dilakukan secara berkala melalui sistem elektronik yang terintegrasi oleh lembaga berwenang.
“Kedepan, kami harap sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat dapat dijalin dengan lebih kuat. Sebagai upaya kita dalam menjaga keberlanjutan industri AMDK, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air dan pengendalian limbah plastik,” ujar Putu.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) meninjau langsung implementasi kebijakan lingkungan pada sejumlah perusahaan manufaktur. Kunjungan kerja spesifik tersebut bertujuan untuk memastikan efektivitas pengelolaan sumber daya alam oleh pelaku industri.
Perusahaan besar seperti PT Tirta Alam Segar mampu memproduksi 50 juta botol air setiap bulan. Pabrik tersebut menyerap 2.800 tenaga kerja yang mayoritas berasal dari warga masyarakat lokal.
Inisiatif keberlanjutan diwujudkan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap berkapasitas sepuluh koma delapan megawatt. Langkah ini berhasil memangkas emisi karbon hingga 15.078 ton setiap tahun.
Teknologi pengolahan air limbah yang canggih juga diterapkan guna menghemat penggunaan air sebanyak 30 persen. Penyediaan mesin penukaran botol plastik dilakukan secara masif untuk mendukung program pengurangan sampah kemasan di lingkungan.(Sumber)





