Diskursus mengenai pengaruh global Israel dan sikap negara-negara terhadap konflik di Timur Tengah menjadi pembahasan yang hangat di tengah masyarakat. Dalam podcast “Ngopini” yang dipandu oleh Bang Annam, Ajo Gilang, dan Mas Rezha, isu ini dibahas secara mendalam bersama pengamat Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Adhe Nuansa.
Dalam podcast itu, Mas Rezha membuka diskusi dengan mempertanyakan fenomena banyaknya negara yang dinilai cenderung mengikuti arah kebijakan Israel, termasuk Amerika Serikat. Ia juga menyinggung dugaan infiltrasi di wilayah seperti Somaliland serta kemungkinan pengaruh serupa di Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Adhe Nuansa menyampaikan pandangannya terkait dugaan adanya kepentingan tertentu yang bekerja di balik dinamika global tersebut. Ia menyampaikan pandangannya dengan menekankan bahwa dirinya tidak berangkat dari klaim data yang absolut, namun melihat adanya indikasi kepentingan tertentu dalam dinamika opini publik.
“Saya tidak memiliki klaim data yang faktual, tapi saya meyakini ada kepentingan lobi-lobi Yahudi yang bermain. Jadi kita lihat saja bagaimana, paling mudah adanya influencer-influencer tertentu yang tidak perlu kita sebut namanya dengan serta merta di berbagai kesempatan, di televisi, di podcast, social media mereka membela kepentingan Israel,” tutur Adhe Nuansa.
Lebih lanjut, ia menilai fenomena tersebut tidak bisa dianggap remeh dan justru menunjukkan adanya peran yang lebih luas dalam membentuk opini publik, sekaligus mempertanyakan sikap pemerintah. “Bagi saya itu menjadi perpanjangan tangan yang sangat nyata. Pertanyaan saya, mengapa tidak ada tindakan yang tegas dari pemerintah,” jelasnya.
Pembahasan kemudian berlanjut ketika Achmad Annama mengangkat isu dugaan keberadaan buzzer atau proxy pro-Israel di Indonesia, yang disebut-sebut berkaitan dengan kampanye media global untuk memoles citra Israel seperti proyek “Esther”.
Berdasar investigasi media, bayaran dari para influencer yang turut dalam proyek Esther ini sangat besar yakni USD 7000 per unggahan di Tiktok atau di Youtube atau 112-116 juta rupiah per unggahan. Ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia ada fenomena ini.
Adhe Nuansa mengungkapkan keprihatinannya terhadap fenomena yang berkembang di ruang publik, khususnya terkait narasi dan informasi yang dinilai semakin mudah ditemukan, sehingga memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana pemerintah merespons situasi tersebut.
“Saya prihatin, ketika tadi disearching sedikit saja datanya sudah keluar, artinya pemerintah sudah tahu. Pertanyaan saya adalah, bagaimana sikap pemerintah? Ini sudah menjadi kegelisahan, sudah banyak Ormas Islam, organisasi sipil yang melayangkan kritik terhadap keberadaan buzzer pro Israel ini,” tegas Adhe Nuansa.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya mengembalikan arah kebijakan dan sikap nasional pada nilai-nilai idealisme yang berakar pada konstitusi, serta mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkret dalam menertibkan fenomena tersebut agar tidak semakin meluas di tengah masyarakat.
“Bagi saya seharusnya kita dari kacamata Idealisme, kita harus kembali menegakkan marwah kebangsaan kita sesuai amanat undang-undang. Kalau ini sudah terlampaui berarti kita sudah mengkhianati amanah kepercayaan dari founding fathers. Terkait fenomena ini harapan saya kepada pemerintah bisa kembali lagi untuk minimal melakukan approaching, menertibkan, karena narasinya sudah kontra produktif. Publik kita hampir 80-90 persen pasti anti Israel,” pungkasnya.
Diskusi lengkap dan perspektif tajam dari Adhe Nuansa ini tentu masih menyimpan banyak sudut pandang menarik yang sayang untuk dilewatkan. Kalau kamu ingin memahami lebih dalam dinamika geopolitik, isu Israel–Palestina, hingga bagaimana dampaknya terhadap Indonesia, langsung saja tonton tayangan lengkapnya di podcast “Ngopini” di link berikut ini https://www.youtube.com/@NgopiniPodcast. {radaraktual}





