Politiknesia.com

Presiden Suriah Bashar Al-Assad Kabur, Pemberontak Kepung Damaskus

Presiden Suriah Bashar al-Assad diduga kuat telah meninggalkan negaranya di tengah krisis besar yang mengguncang ibu kota Damaskus, Minggu (8/12). Pantauan dua perwira senior Suriah mengungkap bahwa Assad menaiki pesawat menuju lokasi yang dirahasiakan.

“Tiran (pemimpin yang dianggap sewenang-wenang) Bashar al-Assad telah melarikan diri,” kata oposisi bersenjata, seperti dikutip dari Guardian.
“Kami nyatakan Damaskus bebas dari Tiran Bashar al-Assad,” tambah pernyataan tersebut.

Keberadaan Assad menjadi tanda tanya usai menghilang di hadapan publik selama beberapa hari terakhir.

Juru bicara kepresidenan sempat menyatakan bahwa Assad masih berada di Damaskus dan aktif menjalankan tugas, namun laporan terbaru menunjukkan hal sebaliknya.

Pemberontak Kuasai Kota Strategis
Pasukan pemberontak Suriah terus membuat langkah signifikan. Mereka mengeklaim telah menguasai gedung radio dan televisi di pusat Damaskus, dan mengaku telah mengendalikan kota utama Homs beberapa jam sebelumnya.
Usai klaim tersebut, suara tembakan hebat terdengar di pusat kota Damaskus. Namun, menurut kesaksian dua penduduk, sumber penembakan masih belum jelas.

Pemberontak juga mengunggah video yang menunjukkan tentara Suriah melepaskan seragam mereka di jalanan ibu kota.

Dalam satu minggu terakhir, pemerintah Suriah kehilangan empat kota penting: Aleppo, Hama, Homs, dan Daraa.

Penjara Sednaya Dibebaskan
Salah satu langkah simbolis pemberontak adalah pembebasan tahanan di Penjara Sednaya, fasilitas yang terkenal sebagai “rumah jagal manusia” di bawah rezim Assad.

Penjara ini menjadi tempat ribuan tahanan mengalami penyiksaan dan kekerasan ekstrem sejak dimulainya perang saudara pada 2011.
Pasukan pemberontak terdiri dari berbagai faksi, termasuk Hayat Tahrir al-Sham (HTS) yang sebelumnya berafiliasi dengan Al Qaeda, dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika Serikat.

Sementara itu, rezim Assad mendapat dukungan dari Rusia, Iran, dan Irak.
Imbas bentrokan, Kemlu RI menetapkan status siaga 1 untuk delapan provinsi di Suriah karena kondisi dinilai mulai membahayakan sekaligus mengancam WNI.

Sementara itu, PBB memprediksi akan ada 1,5 juta warga yang mengungsi. Kini sudah 280 ribu orang terusir sejak akhir November.(Sumber)