Saya masih ingat semangat yang menggelora dan disiplin Agung Laksono muda yang Ketua BPP HIPMI dan Ketua Umum AMPI periode 1984-1989, ketika partai-partai politik pada bulan April 1987 saling berkompetisi dalam pemilihan umum serentak berebut kursi untuk periode tahun 1987-1992 sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia (DPR-RI) , Dewan Perwakilan Rakyat Daerah tingkat propinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) tingkat Kabupaten/Kotamadya.
Kompetisi tersebut sangat keras dan cenderung akan anarkis, karena berbagai elemen massa kaum muda yang bernaung di bawah partai-partai politik mulai bereforia, pasca pemerintah menekankan Pancasila sebagai ideologi terbuka pada tahun 1986.
Perintah atasan kepada saya selaku Asisten Intelijen dari Pelaksana Khusus Panglima Komando Operasi Keamanan Ketertiban Daerah Jakarta Raya (Laksus Pangkopkamtibda Jaya) adalah meredam setiap gejolak dalam masyarakat, menjelang dilonggarkannya kontrol pemerintah terhadap disiplin sosial. Pemerintah dengan ABRInya mengharapkan agar rakyat dapat mereguk kebebasan mereka secara bertahap, sesuai dengan keadaan lingkungan yang semakin global.
Elemen-elemen muda dari Partai Demokrasi Indonesia, Partai Persatuan Pembangunan dan juga Golkar melakukan pawai-pawai yang banyak di antara mereka membawa senjata tajam, sehingga demi pencegahan terhadap terjadinya Chaos, terpaksa mereka semua tanpa kecuali kami tahan di Markas Satgas Intelijen Kopkamtib di Jalan Kramat 5 Jakarta Pusat.
Hanya Agung Laksono yang nampak dapat memaklumi kebijakan pemerintah yang imparsial tersebut, dengan kemampuannya meredam kemarahan para anggota AMPI melawan agitasi yang provokatif dari elemen parpol-parpol lain.
Karenanya maka ia dan kawan-kawannya kemudian dapat melanjutkan kampanye, sedangkan dari Parpol yang lain beberapa orang harus berurusan dengan Kopkamtib dan Kepolisian Republik Indonesia. Sikapnya yang berani dan bijak itu telah memudahkan pemerintah untuk tetap menstabilkan aspek keamanan dan ketertiban di ibukota negara ini, sehingga berhasil melaksanakan rencana untuk merubah lembaga Kopkamtib menjadi Bakorstanas pada tahun 1988.
Dengan semangat dan disiplin yang keras ia berhasil memadukan antara sikap AMPI dengan Golkar sehingga semakin solid, sampai membawa kepada keberhasilan pemerintah menggalang partisipasi pemilih dalam Pemilu sampai sebanyak 91,32%.
Sejak saat itu saya mengamati bahwa ia adalah sosok fenomenal yang tidak pernah lekang oleh panasnya suhu politik dan tidak pernah lapuk oleh lembabnya udara perubahan dari pemerintahan ke pemerintahan RI berikutnya.
Agung Laksono bukan hanya cemerlang dalam karir pengabdian politik, tetapi juga dalam mengabdi sebagai seorang Kepala Rumah Tangga. Istrinya Sylvia Amelia Wenas yang dikenal baik oleh istri saya Taty juga dikenal publik sebagai wanita gaul yang anggun, yang aktif dan mempunyai jejaring sosial yang luas di berbagai aspek dalam masyarakat.
Mereka berdua telah mendidik anaknya Dave Laksono sehingga tumbuh kuat dengan berakar dari bawah, untuk dapat mengikuti jejak politik Agung Laksono yang luarbiasa. Agung Laksono adalah tokoh nasional politisi dan administrator negara yang selalu terpilih, antara lain sebagai Ketua Umum DPP Golkar, Ketua DPR-RI, Menko bidang Kesejahteraan Rakyat RI dan sampai kini masih menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden.
Selamat berulang tahun ke 75 sahabatku Agung Laksono, tokoh nasional abadi yang sepanjang hidupnya selalu berhasil dalam mengemban tugas bangsa, negara dan keluarga.
Oleh : AM Hendropriyono*
*Asisten Intelijen Pelaksana Khusus Pangkopkamtibda Jaya tahun 1986-1988.
(Sumber)





